Aksesibilitas Emoji dalam Pesan

Aksesibilitas Emoji dalam Pesan

150 150 Bayu Firmansyah

Kesalahan penggunaan emoji dalam pesan bisa mengakibatkan tunanetra kehilangan kesempatan. Suarise merangkum cerita Aji, salah seorang rekan tunanetra yang berasal dari Yogyakarta kehilangan kesempatan mengenal budaya Yogyakarta. Aji sendiri adalah seseorang yang menaruh minat berwisata ke wisata alam dan budaya seperti eksplorasi desa wisata. Baginya setiap desa wisata memiliki keunikan masing-masing. Dia tidak pernah menyangka kesempatan kala itu digagalkan oleh buruknya aksesibilitas emoji dalam pesan. Memang bagaimana emoji bisa membuat orang tidak jadi pergi wisata?

Pentingnya Aksesibilitas Emoji dalam Pesan Digital 

Hari Minggu adalah hari yang dinanti oleh banyak orang. Di hari itu menjadi kesempatan untuk istirahat sejenak dari pekerjaan dan bisa menyalurkan hobi. Begitu juga dengan Aji. Hari itu, 25 Agustus 2024 Aji ingin keluar berwisata. Namun, ia bingung hendak pergi kemana karena sudah banyak desa wisata yang dikunjunginya. 

Akhirnya media sosial Instagram menjadi jalan keluarnya mendapatkan Informasi. Instagram Visiting Jogja menjadi pilihan untuk mencari ide wisata. Akun tersebut adalah media sosial milik pemerintah DIY yang berisi informasi seputar kepariwisataan meliputi objek wisata maupun acara-acara yang ada di Jogja. Aji tertarik dengan postingan acara bertajuk “AMAZING TRACE” Discover Desa Wisata Wirokerten. 

Tanpa pikir panjang Aji langsung mengisi form pendaftaran. Setelah membuka form tersebut Aji bermaksud membaca detail acara. Ternyata di dalam form tersebut hanya ada isian data peserta.

Setelah kembali ke postingan Instagram, Aji menyadari bahwa informasi penting seperti harga tiket, waktu pelaksanaan, dan lokasi acara yang ada di dalam caption tidak terbaca screen reader. Sontak membuat Aji bingung. Saat itu tidak ada orang awas disekitarnya. Akhirnya Aji terpaksa mengurungkan niatnya untuk berwisata.

Dampak buruknya aksesibilitas emoji mungkin tidak terlalu terasa dalam kasus yang dialami Aji. Tidak jadi berwisata tidak berpengaruh kepada aspek kehidupan lainnya. Namun, apa dampaknya bila hal semacam ini terjadi di dunia kerja? Bayangkan informasi penting mengenai To Do List pekerjaan disampaikan hanya melalui emoji. Tentu akan menyulitkan tunanetra. Jika tunanetra tidak menyelesaikan tugasnya, maka ia berpotensi kehilangan pekerjaan. Kehilangan pekerjaan sama berdampak pada aspek kehidupan yang lain yang mungkin lebih buruk.

Penyebab Caption Tidak Terbaca Screen Reader

Mendengar kisah tersebut, muncul pertanyaan apa penyebab pesan di dalam caption tidak terbaca screen reader? Ternyata detail informasi acara ditulis menggunakan emoji dan huruf unik. Kejadian ini menggarisbawahi pentingnya memperhatikan aksesibilitas emoji dan penggunaan simbol huruf unik bukan bawaan resmi dari media sosial instagram. Penggunaan emoji yang tidak tepat dapat menjadi penghalang bagi tunanetra untuk mengakses informasi secara mandiri dan setara dengan orang awas.

Baca juga: 5 Hal yang Perlu Diketahui Tentang Cara Tunanetra Mengakses Internet

Cara Tunanetra Membaca Emoji

Sebelum membahas aksesibilitas emoji dalam pesan, penting untuk memahami cara tunanetra mengakses smartphone dan komputer. Tunanetra dapat mengoperasikan smartphone dan komputer berkat adanya screen reader. Screen reader berfungsi membacakan isi layar termasuk postingan di instagram. Saat tunanetra menyentuh ikon instagram, screen reader akan membaca instagram. Namun, screen reader tidak bisa membaca gambar. 

Bagaimana emoji? Walau emoji secara visual tampak sebagai gambar, screen reader masih dapat mengakses dan membacakan kontennya. Hal ini disebabkan format dasar emoji bukan gambar. Masing-masing  emoji mengandung alt yang ditulis oleh pengembang aplikasi atau platform. 

Alt berfungsi sebagai deskripsi singkat dari emoji tersebut. Misalnya, untuk emoji ❤️, screen reader akan membacakan frasa “red heart”. Namun, kemampuan screen reader dalam emoji sangat bergantung pada popularitas dan dukungan dari pengembang. 

Pada kasus postingan rekan tunanetra di atas, penulisan detail acara menggunakan emoji seperti emoji kalender untuk mengganti tulisan “Waktu”. Lalu, tulisan 25 Agustus 2024 ditulis menggunakan simbol huruf unik, sehingga screen reader diam saja saat menemui itu. Pada konten ini kami fokus membahas emoji dulu.

Apakah Tunanetra Bisa Mengetik Emoji

Sama halnya dengan orang awas, tunanetra juga dapat mengetik emoji. Tunanetra akan membuka panel emoji dan mencari emoji yang diinginkan. Tunanetra memanfaatkan fitur pencarian yang tersedia pada keyboard untuk mempercepat proses pencarian. Misalnya, bila ingin menggunakan emoji ❤️, tunanetra akan mengetikkan kata kunci “red heart” pada kolom pencarian. Alt kembali memegang peran penting disini. Hasil pencarian yang ditampilkan berdasarkan alt di emoji yang sesuai kata kunci. 

Di desktop tunanetra umumnya lebih mengandalkan pintasan keyboard tombol Windows+titik, untuk memasukkan emoji. Metode ini lebih efisien dibandingkan dengan membuka panel emoji pada aplikasi pesan instan seperti WhatsApp atau Microsoft Teams. Pintasan keyboard memungkinkan pengguna tunanetra untuk dengan cepat menemukan dan memasukkan emoji yang diinginkan tanpa perlu repot-repot mencari panel emoji tersebut.

Proses pengetikan emoji tunanetra mungkin berbeda dengan metode orang awas. prosesnya juga membutuhkan waktu lebih lama, tetapi tunanetra tidak mempermasalahkan itu. Tunanetra menyadari bahwa emoji merupakan salah satu cara efektif untuk mengekspresikan emosi dalam pesan digital seperti chat dan caption.

Cara Tunanetra Memahami Makna Emoji dalam Pesan

Memahami makna dan konteks sebuah emoji merupakan suatu tantangan tersendiri. Bagi tunanetra terutama yang tidak bisa melihat sejak lahir, ketidakmampuan untuk melihat secara langsung ekspresi wajah dan gestur tubuh yang diwakili oleh emoji menyulitkan mereka dalam menginterpretasikan makna di dalamnya. 

Setiap emoji seringkali bersifat kontekstual dan mengandung makna simbolik yang tidak selalu sesuai dengan makna literal. Sebagai ilustrasi, emoji 🗿 yang berbentuk batu digunakan untuk menyampaikan ekspresi wajah datar atau tabah. Oleh karena itu, meminta bantuan orang awas serta pengamatan terhadap penggunaan emoji dalam berbagai konteks komunikasi menjadi sangat penting bagi tunanetra dalam mengembangkan pemahaman penggunaan emoji dalam pesan.

Bagaimana Aksesibilitas Emoji dalam Pesan

Penggunaan emoji dalam pesan sah-sah saja selama memerhatikan aksesibilitas. Keberadaan emoji memang dapat memperindah tampilan pesan, sehingga lebih persuasif. Ditilik dari sudut pandang lain, Emoji adalah komunikasi non verbal yang mampu melampaui batasan bahasa verbal. Emoji mampu menyampaikan makna dalam bentuk ringkas dan mudah dipahami. Namun, sekali lagi penggunaan emoji harus tetap sesuai aksesibilitas. Terdapat beberapa cara agar emoji lebih aksesibel.

Jangan ganti kata-kata dengan emoji

Tips pertama adalah jangan ganti kata-kata dengan emoji. Seluruh informasi penting sebaiknya disampaikan secara tertulis menggunakan kata-kata yang jelas dan lugas. Sebagai contoh dalam konteks memberikan informasi kepada tunanetra, penggunaan kata “waktu” jauh lebih efektif dibandingkan dengan emoji 📆. Emoji memang dapat digunakan untuk memperkaya ekspresi dan menyampaikan nuansa emosi dalam sebuah pesan, namun tidak boleh menggantikan informasi faktual yang krusial. Tidak semua tunanetra bisa paham bahwa emoji kalender maksudnya waktu.

Contoh lain daripada menulis “saya suka memakai (emoji kacamata hitam)”, lebih baik menyampaikannya secara eksplisit, yaitu “saya menyukai pakai kacamata hitam (emoji kacamata hitam)”. Perlu diingat bahwa setiap individu memiliki persepsi yang berbeda terhadap makna sebuah emoji, sehingga penggunaan emoji sebagai pengganti kata dapat menimbulkan ambiguitas dan kesalahpahaman.

Menempatkan Emoji pada Akhir Kalimat

Tips selanjutnya adalah menempatkan emoji di akhir kalimat. Posisi ini memungkinkan screen reader membacakan emoji secara terpisah setelah seluruh kalimat selesai, sehingga tidak mengganggu alur pemahaman pengguna. Misalnya pada kasus rekan tunanetra emoji kalender tetap bisa digunakan, sehingga menjadi “waktu 📆”. 

Selain itu, penempatan emoji di tengah kalimat juga sebaiknya dihindari. Emoji yang berada di tengah kalimat dapat memecah fokus tunanetra. Tunanetra bisa berasumsi ada dua kalimat, padahal sebenarnya hanya satu. Prinsip yang sama juga berlaku untuk penggunaan emoji sebagai penomoran. Sebagai alternatif, dapat digunakan bullet points untuk menandai setiap poin atau menyusun setiap poin dalam paragraf tersendiri.

Gunakan Emoji Secukupnya

Berikutnya gunakan emoji secukupnya. Orang awas umumnya mampu menginterpretasi makna emoji dengan cepat. Penggunaan berulang suatu emoji dalam satu kalimat, seperti emoji 🎉 yang digunakan lima kali untuk menekankan ucapan selamat ulang tahun akan mengakibatkan screen reader membacakan deskripsi emoji tersebut secara berulang, yaitu “party popper, party popper, party popper, party popper, party popper”. Hal ini memperlambat proses pembacaan.

Tes Emoji di Darkmode

Tips terakhir pastikan emoji dapat terlihat saat perangkat disetel ke dark mode. Beberapa emoji sulit terlihat jika ditampilkan pada mode tampilan dark mode. Hal ini berfungsi membantu teman-teman low vision agar tetap bisa melihat atau membacanya.

Baca juga: Alt Teks: Aksesibilitas Media Sosial untuk Pengguna Tunanetra

Aksesibilitas Emoji dalam Pesan Tidak Mengganggu Visual

Penting bagi semua untuk memastikan setiap konten media sosial dapat dinikmati semua orang secara setara. Aksesibilitas emoji dalam pesan merupakan salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam penulisan caption. Penggunaan emoji yang tepat tetap membuat caption indah secara visual, disisi lain tidak mengorbankan screen reader.

Bila penasaran bagaimana aksesibilitas emoji dalam pesan lebih jauh dapat menonton A11yID 16: Sejauh Apa Aksesibilitas Emoji bagi Disabilitas? di Youtube Suarise

A11yID atau yang dibaca Aliaidi adalah sebuah komunitas yang diinisiasi oleh Suarise. Komunitas ini diperuntukan bagi orang-orang dari latar belakang pengembang website atau aplikasi, desainer, UX desainer, UI desainer, product manager,  dan akademisi yang memiliki minat terhadap aksesibilitas digital.

Aksesibilitas digital tidak hanya terbatas membuat website, aplikasi, maupun konten ramah bagi disabilitas.

Manfaat aksesibilitas digital lebih dari itu. Aksesibilitas digital juga berguna bagi semua orang dan meningkatkan performa dari produk tersebut. Kamu tertarik untuk diskusi lebih lanjut seputar aksesibilitas digital? Yuk gabung Komunitas A11yID di Telegram atau follow @TantanganAksesibilitas di Instagram.

 

Ditulis oleh Bayu Aji F.

Talent Content Writer Disabilitas Netra Suarise.