Rekrutmen Disabilitas

Foto dua orang bersalaman, 1 rekruter, 1 tunanetra

5 Persiapan Saat Merekrut Tunanetra Sebagai Content Writer – Seri Tips Kantor Inklusif

1920 1280 suarise

Apa saja yang harus disiapkan saat merekrut tunanetra?

Sering kali perusahaan atau organisasi yang mau memulai merekrut karyawan dengan kondisi disabilitas salah kaprah tentang mempekerjakan karyawan tunanetra. Kesalahpahaman ini banyak terjadi karena minimnya pengetahuan, interaksi, dan dialog langsung dengan teman-teman #tunanetra. Banyak yang mengira untuk merekrut tunanetra, perusahaan wajib menyediakan dokumen dalam bentuk Braille, infrastruktur kantor harus disesuaikan, atau sedia antar jemput karena transportasi publik belum mumpuni.

Pekerjaan digital content writer bagi tunanetra hadir untuk menengahi dan mempermudah inklusi dari kedua belah pihak. Selain bisa merekrut tunanetra secara remote (bekerja dari rumah), kebutuhan dokumen semuanya serba digital dan dapat menggunakan software yang umum digunakan sehari-hari. 

Efektif dalam Merekrut Tunanetra Sebagai Content Writer

1 . Terapkan Onboarding untuk mengetahui apakah ada adaptasi workflow yang harus disesuaikan

Baik karyawan tunanetra atau pun bukan akan membutuhkan waktu perkenalan dengan sistem kerja perusahaan. Saat melakukan onboarding, upayakan jangan berasumsi bahwa content writer tunanetra tidak bisa melakukan A atau B. Baiknya, tanya juga bagaimana biasanya mereka melakukan hal tersebut. Mengerjakan suatu hal yang sama dengan cara yang berbeda bukan berarti tidak bisa.

Onboarding tidak hanya perkenalan struktur organisasi, tapi juga folderisasi dokumen, penamaan dokumen, sistematika administratif, dan lain-lain. Jika ada website ataupun tools yang digunakan memiliki kendala untuk digunakan karyawan tunanetra, biasanya hanya butuh pembiasaan atau memang dari tools tersebut tidak dibuat dengan menggunakan prinsip aksesibilitas digital.  Mayoritas perangkat lunak yang digunakan saat ini dengan luas seperti Microsoft Office, Google Suit, beragam web conference/messenger, sudah akses dan dapat digunakan dengan baik oleh tunanetra dengan bantuan pembaca layar.

Baca juga: Pengalaman Merekrut Content Writer Tunanetra dari Think.Web

2. Dokumen yang aksesibel dan ramah disabilitas (bukan braille)

Kita semua bisa membuat dokumen yang aksesibel dari software yang sudah sehari-hari kita gunakan, seperti Microsoft Office atau Google Suite. Dokumen yang akses khususnya disabilitas netra seperti apa sih?

  1. Dokumen berupa .docx atau .xls (bukan pdf).

    Dokumen lebih baik disimpan dan didistribusikan pada content writer tunanetra dalam format native dari Microsoft Offfice (.doc/.xls/.ppt) dan bukan PDF. PDF lebih sulit dibaca oleh pembaca layar. Selain itu, dokumen dalam format PDF harus dibuat benar terlebih dahulu di Microsoft Word sebelum di-export menjadi .PDF, dan taggingnya dioptimasi kembali dengan software Acrobat Professional.

  2. Jika ada gambar, berikan deskripsi penjelasan (ALT Teks)

    Tampilan lokasi ALT TEKS saat klik kanan mouse dan jendela alt teks di Microsoft Word

    ALT Teks pada Microsoft Word

    Alt teks adalah tulisan yang tidak terlihat oleh mata dan disematkan kepada suatu gambar  yang memiliki nilai informasi atau bagan. Alt Teks tidak diberikan ke gambar yang sifatnya dekoratif.

    Tidak hanya di website atau pun media sosial, software seperti Microsoft Word, Google Docs, dan Power Point juga memiliki fitur ini. ALT teks juga bisa ditambahkan karena Microsoft Office sudah memiliki fitur ini.

    Gambar/foto dengan format PDF tidak bisa dibaca oleh pembaca layar, terkecuali melewati optimasi dari Acrobat Professional.

  3. Gunakan fungsi semantik dalam dokumen untuk memberikan hierarki informasi

    Pernah menyadari ada pilihan ‘paragraf’, ‘heading’, ‘title’, ‘bullets points’ di Microsoft Word dan Google Docs? Nah, itu adalah beberapa fitur semantik. Gunanya apa?  Semantik membuat pembaca layar bisa langsung lompat ke bagian tertentu dengan shortcut. Dengan semantik, tunanetra bisa membaca dan skimming dokumen lebih mudah saat menggunakan pembaca layar.

  4. Jangan memberikan deskripsi dan atau instruksi dengan mengacu pada warna saja

    Secara sadar maupun tak sadar, orang dengan penglihatan baik sering merujuk pada warna saat menjelaskan sesuatu. Contohnya: “bagian yang warna kuning adalah yang harus diperbaiki” atau  “data dengan warna merah menunjukan jumlah penurunan penjualan semester lalu”.

    Contoh gambar diagram donat yang akses: legenda berisi label dan value langsung di sebelah bagian warnanya. Diberikan teks penjelasan

    Contoh bentuk diagram yang disarankan. Teks pada bagian bawah merupakan deskripsi panjang (diketik) yang menekankan data yang ingin diberikan sorotan.

    Selain hal ini tidak dapat dilihat oleh tunanetra, hal ini juga merugikan bagi orang yang memiliki kondisi buta warna. Kolega dengan buta warna seringkali menyembunyikan kondisinya karena takut akan memengaruhi penilaian performa mereka di suatu perusahaan.

    Indikator warna bisa diberikan pelengkap untuk alternatif pengindraan. Tulisan yang disepakati (misalnya [revisi]), simbol, atau tanda baca, dapat berfungsi sebagai identifikasi alternatif yang bisa ditambahkan bersamaan dengan identifikasi warna.

    Untuk bagan atau diagram, jumlah dan variabel dari informasi itu sendiri bisa langsung disebutkan atau ditandai dalam bagan tersebut.

  5. Standardisasi struktur dan template informasi

    Template informasi membuat informasi tercatat dengan sistematis dan lebih mudah dicari. Seminimum-minimumnya, standardisasi template diterapkan dalam notulensi/MoM (minutes of meeting), atau brief. Template seperti ini akan mempermudah semua pihak, termasuk karyawan tunanetra.

3. Memberikan informasi yang terstruktur dan jelas secara utuh, terutama dalam chat.

Pernah mengalami ada yang menulis pesan via chat dan hanya menulis “Mbak/mas lagi sibuk gak, saya mau tanya” tanpa ada kelanjutannya? Atau malah pernah melakukannya? Sebisa mungkin kurangi hal ini dan jadikan tiap komunikasi efektif. Tidak hanya dalam chat, tapi juga dalam bentuk komunikasi profesional apapun, termasuk meeting/rapat.

  1. Tulis beberapa kalimat sebelum menekan enter dalam chat.

    Berdasarkan pengalaman korespondensi tim Suarise, teman-teman netra relatif membuat chat cukup panjang sebelum menekan enter. Selain lebih mudah, hal ini membuat tunanetra tidak kehilangan konteks pembicaraan terkait hal itu karena bisa jadi jika dikirimkan sebagian-sebagian per kalimat, pesan akan terpotong/terinterupsi oleh pesan dari orang lain (apalagi dalam grup).

    Sisa bentuk komunikasinya tidak terlalu berbeda. Namun, bila kompleks, lebih baik dijelaskan via email atau dengan voice messages.

    Contoh tangkapan layar korespondensi tim suarise dengan taletns content writer tunanetra

    Contoh korespondensi sehari-hari antara tim Suarise dengan Content Writer Tunanetra

  2. Kirimkan dokumen sebelum meeting untuk dipelajari

    Dengan demikian, baik pegawai tunanetra maupun audiens pada umumnya bisa mendalami materi, menyiapkan pertanyaan, dan melakukan verifikasi jika ada informasi yang kurang jelas. Meeting menjadi lebih efektif. Selain itu, jika dokumen dikirimkan terlebih dahulu, memungkinkan seseorang menambahkan catatan saat meeting langsung di dokumen tersebut.

  3. Catat simpulan atau hasil diskusi selama meeting berlangsung berupa ketikan notulensi/MoM.

    Jangan didistribusikan hasil diskusi meeting berupa foto atau screenshot. Sering kali foto berlaku untuk mendokumentasikan proses, tapi tidak dengan kesimpulan hasil diskusi.

    Baik dokumen presentasi maupun notulensi, sebaiknya diketik dengan semantik yang disarankan agar #BisaDiakses semua pihak tak terkecuali karyawan difabel.

  4. Jika memungkinkan, rekam sesi meeting.

    Meski tidak diinstuksikan, sering kali kolega tunanetra merekam pembicaraan atau meeting agar bisa dijadikan referensi dan atau didengarkan ulang saat memulai pekerjaan. Namun, alangkah baiknya jika proses ini dibuat lebih sistematis dari perusahaan. Contohnya, setiap notulensi meeting dan rekaman ditempatkan di 1 folder khusus, dan dipisahkan dengan meeting-meeting yang lain. Selain lebih terorganisir, semua pihak akan mudah melakukan tracking terkait keputusan dalam setiap meeting. Jangan lupa menginfokan secara verbal jika suatu pembicaraan/meeting sedang direkam ya!

4. Komunikatif, jangan sungkan bertanya dan jangan berasumsi

Tak jarang, banyak yang segan atau gak enakan memulai pembicaraan dengan seorang tunanetra. Banyak yang memulai dengan konsep ‘saya bisa bantu apa?’ alih-alih ‘bagaimana membagi pekerjaan dengan kolega tunanetra’. Mayoritas tunanetra justru gemar berkomunikasi dan relatif tidak memiliki kendala dalam hal ini.

Jika tidak yakin, biasakan bertanya alih-alih berasumsi. Bisa jadi hal yang menurut kita sulit, lebih mudah bagi mereka, atau yang sebelumnya kita kira tidak bisa sebetulnya bisa-bisa saja, hanya saja caranya saja yang berbeda.

Jika terkait deadline atau kesepakatan, baiknya selalu samakan ekspektasi bisa diselesaikan kapan, hari apa, dan atau jam berapa. Jangan sampai terlalu rajin berkomunikasi tapi jadi malah tidak bisa kerja sama sekali.

Semakin terbuka akan perbedaan dan cara kerja justru membuka khasanah lebih luas. Boleh kok bertanya-tanya ‘Mas/Mbak, kalian kalau mengerjakan x, biasanya gimana?. 😉

5. Ngobrol aja dulu…

Tak kenal maka tak efektif bekerja dalam tim. Apakah tahu karakter, kemampuan, kelebihan, dan kekurangan. Semua tidak akan diketahui jika tidak ngobrol.

Rekrut Tunanetra Pertamamu Sebagai Content Writer

Suarise menyediakan talents content writer tunanetra terlatih yang telah melewati pelatihan intensif selama 6 bulan. Organisasi maupun perusahaan bisa merekrut talentnya langsung, atau melakukan proyek penulisan konten digital dalam jangka pendek. Jika merekrut content writer tunanetra Suarise, perusahaan dan Talents akan mendapatkan pendampingan selama 3 bulan agar adaptasi berjalan dengan baik.

Baca juga : Keuntungan Merekrut Content Writer Tunanetra

 

Selain penulisan konten oleh para content writer tunanetra, Suarise juga menyediakan konsultasi strategi digital marketing, SEO, dan sosial media dari praktisi yang berpengalaman lebih dari 10 tahun di bidang ini.

Siap merekrut atau memiliki kolega content writer tunanetra pertamamu?

Hubungi [email protected] untuk memulai kerjasama pertamamu.

Jangan lupa cek talents.suarise.com untuk melihat beberapa contoh portfolio tulisan mereka ya.

 


Photo by Tima Miroshnichenko from Pexels

Bagikan ke lini masa Anda untuk mendukung iklim inklusif di Indonesia
Poster acara Inclusivity at work bareng at america

Pengalaman Merekrut Digital Content Writer Tunanetra

1024 768 suarise

Rekrut tunanetra sebagai content writer? Emangnya bisa? Ini adalah stigma dan persepsi dari banyak orang. Nyatanya, profesi digital content writer adalah profesi yang menjanjikan dan bisa dikerjakan secara maksimal oleh seseorang dengan disabilitas netra.

Pengalaman Merekrut Digital Content Writer Tunanetra di Digital Agency

Dengan masih banyaknya keraguan untuk merekrut content writer dengan latar belakang tunanetra, Suarise mengadakan diskusi panel bersama Ramya Prajna (Co-CEO Thinkweb), Hani (DNetwork-Jaringan Kerja disabilitas), Ega (Content writer tunanetra), dan Theresia (Project Manager Suarise) bersama AtAmerica. Di diskusi ini dibahas dampak, keuntungan, dan apa saja yang bisa didapatkan dengan mengajak tunanetra terlibat di dalam departemen digital marketing di sebuah perusahaan organisasi.

Video diskusi panel Recruit Your First Blind Employee Worry Free

Content writer tunanetra bisa apa saja?

  1. Membuat Artikel Ramah SEO
  2. Membuat konten sosial media
  3. Membuat iklan di Google Adwords

Keuntungan merekrut content writer tunanetra Suarise:

1. Lebih efisien dan terjangkau karena bisa bekerja secara remote

Salah satu kendala utama tunanetra dalam bekerja adalah mobilitas, baik itu dari rumah menuju kantor, maupun dari pintu masuk kantor ke meja kerjanya, dan dari meja kerja ke fasilitas kantor lainnya seperti WC, pantry, kantin, dll. Bekerja secara remote tidak hanya memudahkan tunanetra tapi juga efisien bagi kantor jika belum mampu mengakomodasi aksesibilitas dari sisi infrastruktur fisik kantor itu sendiri.

2. Meningkatkan kultur perusahaan

Pegawai kantor menjadi lebih empati terhadap sekitarnya dan lebih inklusif dalam menghadapi lingkungan sekitarnya. Selain itu, perusahaan dinilai menjunjung value yang tinggi sehingga karyawan bisa bangga dan lebih loyal,

3. Lebih mudah dan terjangkau dengan Aksesibilitas digital

Jangan salah, content writer tunanetra Suarise tidak membutuhkan braille maupun perlengkapan khusus lainnya. Selama penyedia kerja menggunakan Microsoft Office atau Google Suite, tunanetra sudah bisa mengoperasikan perangkat lunak tersebut dengan menggunakan keyboard biasa (bukan keyboard brailler), dengan bantuan pembaca layar (screen reader). Pembaca layar bisa didapatkan secara gratis, dan bisa di install di perangkat/gadget apapun.

Baca juga: cara tunanetra mengakses internet

4. Terlatih secara teori dan praktik

Seluruh content writer tunanetra dari Suarise telah melalui pelatihan penulisan konten digital khusus bagi tunanetra selama 6 bulan, yang terdiri dari teori, latihan, dan praktik simulasi kerja (on the job training). Suarise juga menggunakan brief asli dari berbagai macam agency digital sebagai bahan latihan. Pengajar di Suarise telah berpengalaman di bidang digital marketing selama 10 tahun dan telah melakukan berbagai pelatihan digital marketing baik untuk kalangan akademis maupun publik.

Foto Bersama tim suarise dengan lulusan batch 2

Lulusan Training Digital Content Writing Suarise Batch 2

Jasa dan Rekrutmen Content Writer Tunanetra

Suarise menyediakan content writer tunanetra handal yang telah dilatih selama 6 bulan secara intensif. Setiap content writer tunanetra suarise bisa direkrut secara freelance maupun direkrut sebagai pekerja tetap. Jangan khawatir, Suarise menyediakan pendampingan selama 3 bulan pertama untuk adaptasi baik bagi perusahaan dan content writer yang direkrut.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan akses halaman Suarise talents recruitment.

Ingin mengadakan CSR bersama Suarise atau memberikan beasiswa kepada calon content writer tunanetra di masa depan? Hubungi [email protected]

 

 

Bagikan ke lini masa Anda untuk mendukung iklim inklusif di Indonesia
seseorang berdiri merentangkan tangan di atas gunung menghadap matahari

Lapangan Kerja Disabilitas Tak (Lagi) Terbatas

2560 1706 Iin Kurniati

Pandemi pada satu sisi berdampak bagi kehidupan, tetapi disisi lain memberi peluang bagi siapapun yang ingin bertahan. Pergeseran transformasi digital menjadi kunci tatanan kenormalan baru, salah satunya terbukanya lapangan kerja disabilitas yang tak lagi terbatas ruang dan waktu.

Baca Strategi Masa Pandemi, Mengubah Tantangan Jadi Peluang!

Maraknya perkembangan digital mendorong brand adu kreatif dalam strategi pemasaran, khususnya dalam memengaruhi konsumen dan membentuk image di mata publik. Konten menjadi salah satu hal penting dalam setiap bentuk persuasi dan promosi digital masa kini. 

Oleh karenanya, perumusan konten bukan perkara mudah, butuh strategi jitu agar sesuai dengan tujuan, sasaran komunikan, hingga karakter brand yang ingin ditampilkan.

Salah satu upaya untuk menciptakan konten yang kuat yakni melalui peningkatan skill penulisan konten digital atau lebih dikenal dengan istilah digital content writing training. Pelatihan yang fokus membuat konten yang bersifat menjual, story telling, terbaca di kanal pencarian (SEO optimized) akan bernilai lebih. 

Penulisan konten digital ini juga dapat menjadi salah satu pilihan lapangan kerja disabilitas yang bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja selama terhubung dengan koneksi internet. Lalu, dimana bisa memulai pelatihan penulisan konten digital?

Pelatihan Penulisan Konten Digital bagi Disabilitas Netra

Suarise merupakan lembaga independen yang memberikan pelatihan vokasi terkait teknologi digital sejak 2017. Berdirinya Suarise bertujuan untuk mengembangkan talent dan profesi disabilitas, khususnya tunanetra agar dapat bekerja secara independen maupun bekerja sebagai tenaga tetap perusahaan.

Suarise memberikan pelatihan penulisan konten digital yang komprehensif, tidak hanya fokus pada hard skill tetapi juga pada soft skill para talents. Suarise akan memaparkan dinamika kerja dalam dunia pemasaran digital, sehingga peserta mampu menjadi talent yang berkompeten, baik sebagai pekerja lepas (freelancer), ataupun karyawan dan bagian tim suatu perusahaan/industri kreatif/lembaga/institusi. 

Suarise, Usaha Sosial Siap Bersaing Global

Beasiswa Bagi Peserta Berkomitmen Tinggi

Dalam menyukseskan program ini, Suarise tidak bisa bekerja sendiri. Suarise membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak untuk membuka peluang lapangan kerja disabilitas pasca pelatihan. Suarise bekerja sama dengan DNetwork-Jaringan Kerja Disabilitas, sebuah platform online yang menghubungkan para pencari kerja disabilitas dengan perusahaan maupun institusi yang berkomitmen mempekerjakan disabilitas. 

Dalam kerja sama ini, DNetwork berperan untuk mencari talenta terbaik yang sesuai menjadi peserta training serta memberikan beasiswa bagi peserta berprestasi. Tak berhenti sampai disitu, DNetwork akan turut andil dalam usaha penempatan kerja para peserta training yang telah lulus dengan melakukan pendekatan kepada perusahaan maupun brand yang membutuhkan skill pada lulusan content digital writing training. Lantas, apa saja jenis lapangan kerja disabilitas yang terbuka dari peningkatan kapasitas penulisan konten digital?

Lima Prospek Lapangan Kerja Disabilitas

Industri digital marketing menjanjikan beragam jenis profesi, termasuk yang fokus pada penulisan konten digital. Pada era transformasi digital, prospek lapangan kerja ini dapat dilakukan oleh teman-teman disabilitas yang memiliki kemampuan menulis konten digital.

  1. Content Strategist

Pekerjaan seorang content strategist berkaitan erat dengan proses digital marketing. Content strategist adalah profesi yang bertanggung jawab untuk menentukan kebutuhan konten, hingga memilih platform untuk mendistribusikan konten tersebut. Salah satu tugas dari seorang content strategist adalah membuat spesifikasi dan konten yang sesuai untuk target pasar dari sebuah brand.

  1. Social media strategist

Seorang social media strategist bertanggung jawab dalam menyusun strategi perencanaan untuk meningkatkan performa media sosial yang ditangani. Kegiatan yang dilakukan diantaranya mengidentifikasi audiens, membuat kampanye digital, melakukan riset, dan menyusun taktik yang akan dilakukan brand.

  1. Social Media Admin

Social media admin merupakan seseorang yang berada dibalik akun media sosial sebuah brand/perusahaan/institusi dan bertugas merancang konten tulisan, mengunggahnya, sampai dengan merespon setiap komentar yang masuk melalui akun media sosial yang dipegang.

  1. Copywriter

Copywriting adalah aktivitas atau pekerjaan menulis teks iklan atau materi publisitas. Teks iklan atau konten yang dibuat oleh copywriter menuntut kreativitas dan harus bisa menjual. Oleh sebab itu, kekuatan utama dan dasar fundamental dalam pekerjaan ini adalah membuat copy (kata-kata).

  1. Digital Content Writer

Last but not least, content writer agak sedikit berbeda dengan copywriter. Seorang content writer biasanya menulis dengan riset mengenai isu dan tema yang menghasilkan sebuah artikel, sedangkan tulisan copywriter biasanya diperuntukkan untuk kegiatan komersil. 

 

Anda Difabel Netra? Ayo Daftar Pelatihan Penulisan Konten Digital Suarise Batch 3

Bisa mengikuti pelatihan penulisan konten digital hingga diberi penawaran untuk mengerjakan project bahkan penempatan kerja, menarik, bukan? Jadi, jika kamu difabel Netra dan tertarik untuk mengikuti content digital writing training Suarise Batch 3, masih ada waktu satu minggu untuk kamu daftar lho!

 

Tautan Penting!

Prospektus pelatihan Digital Content Writing Batch 3

Formulir Pendaftaran Suarise Batch 3 Format Microsoft Word 

Formulir Pendaftaran Suarise Batch 3 Format Google Form

Bagikan ke lini masa Anda untuk mendukung iklim inklusif di Indonesia
gambar all talents suarise batch 2

Suarise dan Mitra Netra Siapkan Tunanetra menjadi Ahli Digital Content Writing

2048 1152 Iin Kurniati

SUARISE, suatu perusahaan sosial mandiri telah menyelesaikan Pelatihan Digital Content Writing Siklus Kedua pada Minggu, 9 Desember 2018. Pelatihan ini merupakan upaya Suarise untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan visual impaired people – VIP  (tunanetra dan penyandang low-vision) melalui kecakapan digital, online, dan teknologi.

Dalam Pelatihan Digital Content Writing Siklus kedua, Suarise masih menggandeng Yayasan Mitra Netra selaku partner eksklusif. Seiring kelahiran internet dan media baru, pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas visual impaired people di bidang pendidikan. Selain itu, pelatihan ini  diharapkan dapat membuka dan memperluas lapangan kerja bagi visual impaired people dalam menghadapi era kemajuan digital. Tak hanya itu, pelatihan ini juga dimaksudkan sebagai upaya memberdayakan dan memastikan inklusivitas dan kesetaraan bagi penyadang disabilitas.

Pelatihan Digital Content Writing 

ilustrasi pelatihan digital content writing offline di yayasan Mitra Netra

Pelatihan Digital Content Writing bersama Suarise di Yayasan Mitra Netra

Digital Content Writing Training Siklus Kedua ini telah dilaksanakan mulai tanggal 5 Agustus 2018 hingga 9 Desember 2018 dengan 8 peserta dalam 18 sesi pertemuan. Metode pelatihan mengombinasikan pertemuan tatap muka (offline class) dan pertemuan jarak jauh melalui fasilitas e-learning (online class). Upaya ini berbeda dibandingkan siklus pertama (periode Februari – April 2018) yang fokus pada pertemuan tatap muka. Pada siklus sebelumnya, jumlah peserta terdiri dari 10 orang peserta dengan 16 sesi pelatihan yang bervariatif sesuai kurikulum yang disusun. 

Kurikulum sesi Pelatihan Digital Content Writing Siklus Kedua ini meliputi pertama pengenalan konten dalam digital marketing. Kedua, pelatihan kemampuan dasar digital content writing. Ketiga, simulasi dan praktek penulisan digital content writing secara langsung. Setiap akhir pelatihan, Suarise rutin melakukan evaluasi dan memberikan masukan bagi para peserta pelatihan untuk memastikan perkembangan kemampuan digital content writing yang dimiliki sesuai standar yang ditetapkan Suarise.

Selanjutnya, Suarise membantu untuk menutup kesenjangan keterampilan dengan mendukung pengajaran dan pendidikan mandiri. Suarise berupaya meningkatkan fleksibilitas bagi pekerja dan pengusaha dengan mengembangkan sistem kerja yang efisien. Disamping itu, Suarise turut memberdayakan peningkatan kualitas hidup VIP dengan mendistribusikan talent untuk proyek/perusahaan yang membutuhkan keterampilan digital spesifik.

ilustrasi kelas online

Bagikan ke lini masa Anda untuk mendukung iklim inklusif di Indonesia

Kesetaraan Hak bagi Tunanetra

150 150 Iin Kurniati
tunenetra menggunakan smartphone untuk tentukan arah jalan

Seorang tunanetra memanfaatkan smartphone dalam kehidupannya

Tidak ada manusia yang sempurna baik secara fisik maupun kemampuan. Dalam setiap kekurangan, pasti ada kelebihan di dalamnya, termasuk bagi teman-teman tunanetra. Hal ini pula yang menjadikan tunanetra memiliki kesetaraan hak di bidang hukum serta berbagai sendi kehidupan lainnya. Kesetaraan ini juga meliputi hak mendapatkan pendidikan dan pekerjaan yang layak serta dalam berekspresi, berkomunikasi, serta memperoleh informasi di era digital.

Berdasarkan data Susenas seperti dikutip dari Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan tahun 2014, tunanetra merupakan jenis disabilitas terbesar di Indonesia. Sekitar 29,63% dari total distribusi penyandang disabilitas ialah tunanetra. Total penyandang disabilitas di Indonesia sendiri mencapai 2.45% dari total penduduk di Indonesia.

Kesetaraan tunanetra di mata hukum

Secara internasional, kesetaraan hak disabilitas, termasuk tunanetra diatur dalam konvensi PBB yaitu Convention on the Rights of Persons with Disabilities (CRPD). Sejak dirumuskan tahun 2006 Indonesia baru resmi menandatanganinya setahun kemudian. Indonesia sendiri menjadi negara ke-9 yang menandatangani konvensi ini diantara 82 negara pada tahun 2007. Namun Indonesia baru meratifikasi CRPD empat tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2011.

CRPD menjelaskan prinsip dasar dan sikap yang seharusnya dilakukan terhadap penyandang disabilitas. Prinsip dan sikap tersebut yaitu menghormati martabat manusia dengan keterbatasan yang dimiliki, dan bersikap non-diskriminasi. Selanjutnya, menerima dan memberi kesempatan kaum difabel untuk berpartisipasi dalam masyarakat, dan kesetaraan hak di lingkungan masyarakat. Berikutnya terkait permasalahan hak pendidikan dan pekerjaan secara internasional diatur dalam International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights (ICESCR). Sebagai informasi, konvensi yang dirumuskan pada tahun 1966 ini baru diratifikasi Indonesia tahun 2006 silam.

Di Indonesia, sendiri kini Kesetaraan hak di bidang hukum bagi Hak-hak kaum difabel, termasuk tunanetra dilindungi dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 2016 tentang Disabilitas. Salah satu diantaranya yakni pada pasal 5 ayat 1 huruf e dan f dinyatakan bahwa penyandang disabilitas memiliki hak pendidikan, pekerjaan, kewirausahaan, dan koperasi.

Dalam regulasi itu, di pasal 53 juga disebutkan bahwa Pemerintah, Pemerintah Daerah, Badan Usaha Milik Negara, dan Badan Usaha Milik Daerah wajib mempekerjakan paling sedikit 2% (dua persen) Penyandang Disabilitas dari jumlah pegawai atau pekerja, Sementara Perusahaan swasta wajib mempekerjakan paling sedikit 1% (satu persen) Penyandang Disabilitas dari jumlah pegawai atau pekerja.

Kesetaraan hak bagi difabel termasuk tunanetra juga disebutkan dalam pasal Pasal 24 Huruf B dalam hak untuk berekspresi, berkomunikasi, dan memperoleh informasi. Kesetaraan hak itu meliputi hak: a) memiliki kebebasan berekspresi dan berpendapat; b) mendapatkan informasi dan berkomunikasi melalui media yang mudah diakses; dan c) menggunakan dan memperoleh fasilitas informasi dan komunikasi berupa bahasa isyarat, braille, dan komunikasi augmentatif dalam interaksi resmi.

 

Tunanetra Jago Digital

Berbagai regulasi itu sejatinya akan memudahkan para penyandang disabilitas, khususnya tunanetra baik dalam hal pendidikan, hingga mendapat pekerjaan. Sayangnya, belum ada data pasti sudah berapa banyak perusahaan maupun instansi pemerintah yang telah merealisasikan kewajiban tersebut.

Aksesibilitas infrastruktur kerap menjadi faktor utama sebuah perusahaan atau instansi pemerintah masih enggan menerima tunanetra sebagai pekerja.. Akibatnya, jenis pekerjaan tunanetra dan penderita low vision terbatas menjadi tukang pijit, admin kantor, teknisi, tukang batu, petani, penjual sapu/kemoceng/pulsa, loper koran, teknisi komputer, montir, penambal ban, dan sejumlah pekerjaan yang jauh dari dunia digital.

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat tidak memandang sebelah mata penyandang tuna netra. Inilah saatnya memberikan kesempatan bagi tuna netra ikut serta dalam perkembangan dunia digital. Bila aksesibilitas infrastruktur yang dijadikan alasan tidak menggunakan kemampuan tunanetra, tunanetra yang mandiri akan menjadi satu kelebihan tersendiri bagi para pelaku usaha untuk dapat memanfaatkan kemampuan mereka.

tampilan blog saat menambah post terbaru

Tampilan blog

Salah satu entitas yang berupaya meningkatkan kemampuan tunanetra di bidang digital ialah Suarise. Kami hadir meningkatkan kemampuan dan keterampilan visual impaired people – VIP  (tunanetra dan penyandang low-vision) melalui kecakapan digital, online, dan teknologi dalam bentuk Pelatihan Digital Content Writing.

Pelatihan ini akan membantu menutup kesenjangan keterampilan dengan mendukung pengajaran dan pendidikan mandiri. Pelatihan ini juga bisa meningkatkan fleksibilitas bagi pekerja dan pengusaha dengan mengembangkan sistem kerja yang efisien, dan efektif. Selain itu, bisa memberdayakan peningkatan kualitas hidup VIP dengan mendistribusikan talent untuk proyek/perusahaan yang membutuhkan keterampilan digital spesifik.

Akhirnya, dengan memberikan kepercayaan bagi tunanetra, mereka akan dapat menciptakan lebih banyak karya dan kreativitas khususnya di bidang digital. Pada akhirnya diharapkan terhapus stigma bahwa tuna netra tidak bisa masuk dunia digital. Sebaliknya, tunanetra harus maju, tunanetra juga bisa jago digital bahkan bisa memiliki kesetaraan hak.

 

Ditulis oleh Iin Kurniati, Public Relation untuk Suarise.

Bagikan ke lini masa Anda untuk mendukung iklim inklusif di Indonesia

Disabilitas dan Meniti Solusi dari Digital Teknologi

150 150 suarise

Di hari disabilitas nasional ini, ada baiknya kita menelaah bagaimana teknologi menjadi jembatan utama penghubung dan mengkonversi dari keterbatasan akses, menjadi kelebihan kualitas yang menjadi latar belakang utama Suarise berdiri. Salah satunya adalah teknologi digital. Jika pada postingan sebelumnya telah dibahas berbagai screen reader, kali ini kami akan membahas mengenai implementasi inklusi digital teknologi dalam hal kesempatan akses.

Inklusi digital teknologi yang paling vital tapi masih sedikit sekali dilakukan khususnya di Indonesia adalah membuat website yang ramah untuk disabilitas, khususnya tuna netra. Sebetulnya, kuncinya adalah memahami “user journey” dan “user experience” tuna netra di sebuah website–yang sebetulnya tidak jauh berbeda dengan yang mampu melihat pada umumnya– hanya saja ditambahkan detail-detail pada setiap link, tombol, gambar, bahkan emotikon. Atribut ini sangat penting agar speech sythesizer/screen reader mampu membaca website, selayaknya algoritma SEO membaca sebuah website tapi ini versi lebih deskriptif.

Salah satu contoh yang luar biasa adalah Facebook. Disamping akan ada support tambahan saat screen reader diaktifkan, Facebook juga memiliki atribut lengkap hingga setiap tombol, emotikon, bahkan gambar. Sebuah emotikon di kolom status update, bisa dibaca sebagai “face frowning half closed eye with sweat beside face”, dan sebuah gambar bisa “sedikit” dibaca ‘image with three face smiling’. Gak percaya? Cobain aja aktifkan langsung voice over ini, terutama bagi pengguna Apple Macintosh yang sudah menjadi software bawaan terintegrasi tanpa harus install ulang.

Custom journey tambahan langsung aktif saat voice over diaktifkan. Seperti yang terlihat pada gambar di bawah.

 

Pedoman aksesibilitas bagi penyandang disabilitas (accessibility) umumnya dimiliki oleh website-website besar. Beberapa tips bisa ditemukan di W3. Pembahasan aksesibilitas mengenai Facebook website juga dibahas di sebuah paper dari Carmit-Noa Shpigelman dan Carol J. Gill yang berjudul “Facebook Use by Persons with Disabilities∗” dan juga bisa dilihat di help center facebook.

Bagi developer, jangan anggap ini sebagai perintilan yang merepotkan, tapi anggap sebagai tantangan yang harus ditaklukan. Kalau merasa website atau aplikasi buatanmu sudah ramah bagi penyandang disabilitas khususnya tuna netra, boleh loh kirim ke kami untuk dibahas 😉

—–

Kedepannya, Suarise akan membuat artikel paling tidak sebulan sekali terkait aplikasi/website untuk mengevaluasi kadar aksesibiltasnya dengan fokus bagi pengguna tuna netra. Bagi kalian yang punya referensi website yang sangat ramah, boleh juga suggest ke tim kami untuk kami kupas tuntas.

 

 

 

Bagikan ke lini masa Anda untuk mendukung iklim inklusif di Indonesia

Teknologi bagi Tuna Netra

150 150 suarise

Perkembangan teknologi di bidang IT, medical engineering maupun biological engineering telah memberikan peluang pengembangan berbagai alat bantu yang ditunjang oleh teknologi modern. Serangkaian penelitian telah dilakukan melibatkan berbagai aspek teknologi, yang antara lain dapat disebutkan sebagai berikut.

1. Guide Device for the Visually Handicapped
Sistem ini merupakan hasil proyek kerja sama antara Kementrian  Perdagangan & Industri dengan Kementrian Kesehatan dan Kesejahteraan. Sistem ini dikembangkan dengan memadukan teknologi photoelectric & ultrasonic, untuk mendeteksi obstacle. Data ini kemudian ditransmisikan kepada user lewat micro-computer. Output dari transmisi berupa suara/bunyi yang akan diteruskan ke pendengaran pemakai. Dengan demikian, mereka akan dapat memahami situasi lingkungan di mana dia berada. Mereka pun dapat mengenali jenis obyek yang menjadi penghalang di depannya, sehingga dapat berjalan dengan aman.

2. Mesin foto copy Braille
Sistem ini dilengkapi dengan OBR (Optical Braille Character Reader). Pertama-tama draft yang tertulis dalam huruf braille akan mengalami proses “Braille Character Recognition”, dan hasil dari proses ini akan ditampilkan di CRT berupa huruf Braille ataupun huruf alphabet, dan katakana pada umumnya. Kemudian user akan mengoreksi sekiranya ada kesalahan pada hasil baca OBR tsb. dan kemudian, hasil editing ini akan diteruskan ke Braille I/O typewriter. Sebagaimana no.1 di atas, proyek ini juga merupakan hasil proyek kerja sama antara Kementrian Perdagangan & Industri dengan Kementrian Kesehatan dan Kesejahteraan.

3. Book-reader for the Visually handicapped
System ini terdiri dari : alat otomatis untuk membalik halaman, scanner, character recognizer, sistem untuk analisa kalimat, speech synthesizer, dan recording unit. Cara kerja sistem ini adalah : Buku ditempatkan di posisi terbaca oleh scanner, dan kemudian scanner akan mengubah tampilan ke bentuk image. Selanjutnya character recognizer (OCR) akan melakukan transformasi image-character, dan sehingga didapat text-based information. Hasil proses ini akan melalui analisa gramatikal, sehingga didapat kalimat yang benar secara grammar dan dapat difahami. Selanjutnya speech synthesizer akan mengubah kalimat ini ke dalam media suara, sehingga dapat dipahami oleh penderita tuna netra.

4. Three-dimensional Information Display Unit
Display ini dibuat dari banyak pin 3 dimensi. Alat ini ditujukan khusus untuk para tuna netra, sehingga informasi lingkungan yang berada di depannya akan diterjemahkan ke dalam pattern tertentu yang ditunjukkan oleh komposisi pin pada display.

5. Sistem Navigasi menggunakan Optical Beacon (Tokai University)
Sistem ini ditujukan untuk membantu membimbing user (tuna netra) di dalam ruangan, agar bisa menuju lokasi yang diinginkan dalam suatu bangunan. Dibandingkan dengan sistem navigasi yang memakai GPS, sistem yang ditunjang oleh optical beacon ini memiliki keunggulan dalam pemakaian dalam ruangan. GPS memang memberikan informasi yang cukup handal untuk pemakaian di outdoor environment, akan tetapi kurang tepat untuk pemakaian indoor. Sistem yang dikembangkan oleh team Tokai University ini diuji dalam suatu ruangan yang dilengkapi dengan optical beacon yang berfungsi sebagai transmitter sinar infra merah. User membawa sebuah receiver yang menerima signal dan informasi yang dipancarkan oleh optical beacon tsb. Selanjutnya dari signal ini, system akan menghitung posisi dimana user berada. Informasi posisi ini akan dipancarkan ke user, dan receiver akan meneruskannya ke processing unit (notebook computer) yang dibawa oleh user. Informasi posisi ini akan berfungsi sebagai input bagi processing unit, dan outputnya adalah informasi berupa suara dari speaker, yang menuntun user ke arah tujuan yang diinginkan.

6. Pengembangan sistem transfer informasi visual 3 dimensi ke dalam informasi dimensional virtual sound. (Tsukuba University).
Informasi visual disekeliling user diperoleh melalui stereo kamera, untuk memperoleh gambaran 3 dimensi posisi dan situasi dimana user berada. Kemudian informasi ini diterjemahkan dan disampaikan kepada user dengan memakai 3 dimensional virtual acoustic display. Dengan demikian user akan memperoleh informasi benda apa saja yang disekitarnya dan bagaimana pergerakan masing-masing object tsb.

Walau terbilang langka, tetapi penelitian dan pengembangan sistem rehabilitasi tuna netra telah mulai dilakukan juga di Indonesia. Pada tahun 1991, telah didirikan Mitra Netra Foundation sebagai salah satu lembaga yang memberikan pengabdian bagi rehabilitasi tuna netra. Lembaga ini melakukan kolaborasi dengan BPP Teknologi, dan dalam kerjasama tsb. Direncanakan pengembangan teknologi text to speech synthesizer, yang mengubah tampilan pada monitor komputer ke dalam informasi berupa suara. Beberapa tema penelitian yang barangkali dapat dirintis untuk dikembangkan di Indonesia antara lain:
1. OCR : Roman Alphabets-Braille Converter System
System ini merupakan pengembangan software OCR, sehingga hasil scanning terhadap buku, dokumen,suratkabar dsb. akan diubah format penyajiannya ke dalam braille-based output. Selain itu terbuka juga kemungkinan untuk memadukannya dengan text to speech synthesizer sehingga didapat output berupa suara.
2. Pengembangan perpustakaan CD yang dikhususkan bagi para tuna netra, sesuai dengan standar internasional DAISY (Digital Audio-Based Information System). Di Jepang, sistem ini telah berkembang dengan baik, dan dengan memanfaatkan teknologi kompresi, sebuah CD dapat menyimpan rekaman sepanjang 50 jam.
3. Pengembangan software voice recognition system khusus untuk bahasa Indonesia, sebagai media input bagi komputer.
4. Pengembangan dan pengadaan software komputer yang diperuntukkan khusus bagi tuna netra..

Selain teknologi yang dikembangkan di atas, terdapat beberapa software yang telah dikenal dan dijual secara bebas yang sifatnya TTS (Text to Speech) synthesizer. Software tersebut adalah:

JAWS (Job Access With Speech)

Jaws for Blind and Low VisionJaws adalah piranti pembaca layar  screen reader) yang memang dikhususkan bagi penderita gangguan penglihatan. Software ini diproduksi oleh The Blind and Low Vision Group at Freedom Scientific of St. Petersburg, Florida, USA. Tujuannya adalah untuk membuat komputer yang digunakan dapat diakses oleh kalangan tuna netra dengan cara menterjemahkan visual  yang terpampang di layar monitor kedalam suara. Hal ini meliputi jendela aplikasi yang keluar, pengguanaan perinta/command, hal hal yang diketik, informasi teknis dokumen (misal ukuran byte-nya, ukuran font, huruf apa yang digunaan, kecepatan bicara dan seterusnya. Software ini juga dapat dimodifikasi oleh masing masing orang, terutama terkait dengan shortcut ataupun command yang digunakan untuk mempermudah kerja tuna netra yang bersangkutan. Sejauh ini JAWS hanya dapat digunakan pada komputer yang menggunakan system operasi Windows dan menggunakan ejaan Inggris dalam pengucapannya. Software ini merupakan akses yang paling esensial bagi tuna netra saat ini untuk melakukan pekerjaannya, terutama yang berkaitan dengan komputer.

Nuance TALKS

Nuance TALKS adalah softare keluaran Nuance yang berfungsi sebagai Text to Speech yang digunakan pada telepon genggam. Aplikasi ini dapat dijalankan pada telepon genggam yang telah menggunakan teknologi Symbian™ . Software ini menyebutkan apapun yang terjadi dengan telepon genggam, seperti panggilan telepon masuk, sms, menu, dan sebagainya.

MLM for the Blind

MLM for the Blind kependekan dari My Learning Module for the Blind, yaitu sebuah alat media baca elektronik untuk para tuna netra yang beroperasi tanpa komputer (stand alone). MLM merupakan alat yang merekayasa perangkat keras dan lunak sekaligus, untuk membuat para tuna netra memiliki alat pembaca buku digital portabel. Diciptakan oleh Erik Taurino Chandra, Rico Wijaya dan Yudhi yang merupakan mahasiswa IT dari  Universitas Bina Nusantara , alat ciptaan mereka ini mampu menerjemahkan tulisan elektronik atau artikel e-book ke dalam huruf Braille, dan enaknya bisa ditenteng-tenteng kemana saja oleh teman-teman tuna netra. Masalah keterbatasan bahan bacaan bagi para tuna netra, diatasi oleh kreatifitas dahsyat mereka bertiga.

MLM for the Blind

MLM for the Blind terdiri dari tombol input, 42 braille cells, buzzer dan Multi Media Card (MMC). Tombol input digunakan untuk memilih judul, membuka bacaan menampilkan baris bacaan serta input halaman bacaan. 42 braille cells akan menampilkan karakter braille. Dua karakter pertama akan menampilkan baris bacaan dan 40 karakter lainnya merupakan isi bacaan yang ditampilkan. Sedangkan buzzer digunakan untuk memberikan pesan kesalahan pada pengguna. Data yang bisa dibaca oleh alat ini melalui MMC yaitu dalam bentuk textfiles (*.txt). MLM for the Blind masuk dalam nominasi INAICTA 2009 kategori ‘e-Learning’. Saat Malam Penganugerahan lalu (29/7), produk ini mendapatkan gelar Special Mention, yaitu bentuk penghargaan tersendiri dari juri yang penilaiannya tidak bisa diganggu gugat.

sumber:
Laporan Tugas akhir Rahma Utami, DKV ITB
http://kickandy.com/theshow/2010/03/05/1836/1/1/1/INOVASI-TIADA-BATAS-
http://www.teknopreneur.com/content/kabar-baik-untuk-tuna-netra-dari-mlm-blind

 

Bagikan ke lini masa Anda untuk mendukung iklim inklusif di Indonesia