Kenapa Belajar Accessibility Penting untuk Product Designer?

Laptop di meja kayu yang bertuliskan website "I design and develop experience that make people life's simpler.

Kenapa Belajar Accessibility Penting untuk Product Designer?

2007 2560 suarise

Profesi Product Designer semakin naik daun di Indonesia, imbas dari banyaknya tech start up yang bermunculan. Product designer disini bukan merujuk pada desain produk industri, seperti kebanyakan jurusan yang ada dalam fakultas desain di Indonesia, melainkan ke produk digital seperti website dan aplikasi. Terus, ngapain product designer belajar soal accessibility?

Accessibility, Universal Design dan Inclusive Design

Mayoritas produk desainer datang dari latar belakang jurusan DKV, meski tak sedikit juga dari  bidang lainnya. Sayangnya, accessibility belum termasuk kedalam kurikulum banyak program DKV padahal saat krusial saat pengembangan produk digital. Meski konteksnya sedikit berbeda, accessibility diajarkan di program studi desain produk dan arsitektur, biasanya dalam kerangka universal design atau inclusive design.

Apa sih Accessibility?

Accessibility atau dalam Bahasa Indonesia dikenal sebagai aksesibilitas adalah kapasitas sebuah fasilitas untuk melayani pengguna dengan berbagai latar belakang kondisi fisik, khususnya yang memiliki kondisi disabilitas. Awalnya, aksesibilitas merujuk pada infrastruktur bangunan, seperti ramp, lift, dll.

Seiring berkembangnya waktu dan pesatnya teknologi digital, aksesibilitas juga memiliki sub cabang khusus aksesibilitas digital (digital accessibility). Hal ini meliputi bagaimana informasi dan layanan yang berbentuk digital (dokumen, website, aplikasi, multimedia) juga mengakomodir disabilitas.

Aksesibilitas digital lebih dikenal dengan istilah ‘a11y’. Kok a11y? A11y dibaca ali (bukan elai yah) dan angka 11 merupakan 11 huruf antara A dan Y pada kata ‘accessibility’. Kalo gak percaya, hitung aja sendiri ya, heheh.

Penerapan Accessibility di digital platform

Implementasi a11y tidak sembarangan. Ada kaidah dan standarisasi yang meliputi perceivability (bisa diterima oleh indera), operability (kebisaan pengoperasian), understandability (dapat dipahami) dan robust (kompatibilitas), atau biasa disingkat dengan POUR (Perceivable – Operable – Understandable – Robust).

Suarise Accessibility Training for Product Designer for Sixty Two_tangkapan layar sedang menerangkan slide tentang prinsip POUR

Rahma, Accessibility Consultant dari Suarise sedang menjelaskan POUR di sesi Accessibility Training di depan product designer dari SixtyTwo.co pada July 2021 silam. Banyak desainer yang masih salah memahami antara accessibility dan usability.

Accessibility mempertimbangkan seorang user (pengguna) disabilitas, baik yang menggunakan alat bantu/teknologi asistif maupun yang tidak. Yang butuh alat bantu kaya apa sih? Contohnya pembaca layar untuk tunanetra. Yang (jarang) butuh alat bantu? Biasanya kalau buta warna jarang pakai alat bantu.

Baca juga: A11yID, Komunitas Teknologi Pertama di Indonesia yang Fokus Ke Aksesibilitas di Digital Platform

Product Designer ngapain peduli aksesibilitas?

Gini lho gaes, kalian itu mendesain aplikasi dan website buat digunakan manusia kan? Kalian pernah gak memikirkan kondisi fisik dari pengguna kalian? Nah, gak semua disabilitas itu keliatan, dan kalian yakin aplikasi yang kalian buat tidak digunakan oleh user difabel? Padahal bisa jadi aplikasi kalian dampaknya gede banget loh buat mereka. Contohnya nih, aplikasi ojek online sangat membantu teman-teman netra untuk mandiri dalam bermobilitas. Tapi kalau tidak aksesibel, sayang kan?

Tapi kan, User Disabilitas bukan Target Audience Aplikasi kami..

Yakin? Memangnya dalam user persona yang kalian ada detail spesifikasi bahwa mereka non difabel? Kalau mereka buta warna gimana? Kalau mereka tuli,tunanetra, disleksia? Kecuali ditulis secara gambling, kamu gak bisa loh claim mereka bukan user kalian.

UX kan kepanjangannya adalah User Experience. Kalau tidak mempertimbangakan user disabilitas, maka jadi SUX dong…alias SOME User Experience. Ehehehe.

Jadi, Product Designer kudu piye Tuips soal Accessibility?

Latihan dan cari banyak referensi terkait implementasi #a11y. Untuk produk desainer, biasakan memahami dari paling dasar: informasi, warna, huruf, baru berangkat ke UX, Interaction Design, sampai Inclusive Design. Pahami prinsip dasarnya, POUR, lalu Latihan implementasinya.

Screenshot youtube sesi A11yID kolaborasi Suarise dengan Somia CX - Accessibility dan Service Design di Perbankan. Layar sedang menjelaskan Rahma dari Suarise menjelaskan slide yang berisi korelasi service design dengan aksesibiiltas.

Sharing session Komunitas #a11yID yang menghadirkan diskusi antara Somia-CX dan Suarise dengan topik Aksesibilitas pada Pelayanan Perbankan dari Sudut pandang service desain. A11yID mengadakan sharing session setiap bulannya terkait topik-topik seputar accessibility. Tonton video selengkapnya di: Youtube SuariseID

Accessibility Training untuk Product Designer

Bingung mulai dari mana? Suarise punya program pelatihan untuk materi aksesibilitas, dari mulai dasar yang bisa diikuti semua orang, hingga spesifik perprofesi, seperti desainer, content writer, web developer, sampai app developer. Iya, accessibility itu bukan tanggung jawab product designer saja, tapi seluruh pengembang produk juga. Ada standar internasionalnya juga gaes terkait accessibility ini.

Kalau butuh Accessibility Training untuk Product Designer, seperti yang Suarise lakukan untuk Mentify Interaction Design BootcampGo-Jek dan Sixty Two selama 2020-2021, kontak Theresia.suganda@suarise.com . Suarise menyediakan accessibility training untuk perusahaan (in-house coorporate training) dan taun 2022 nanti akan buka kelas per bulan.

Nantikan ya!

Suarise Accessibility Training for Product Designer for Sixty Two

Sesi In-House Coorporate Accessibility Training for Product Designer untuk Sixty Two yang berlangsung pada 8 Juli 2021. Training terdiri dari pre-class evaluation, demonstrasi oleh user disabilitas, custom study case dari produk yang pernah dibuat. Setelah pelatihan yang katanya mindblowing ini, Sixty Two mengembangakan Project Lima yang juga mengadvokasi Inclusive Design juga.

 

Bagikan ke lini masa Anda untuk mendukung iklim inklusif di Indonesia

Leave a Reply