Disabilitas dan Meniti Solusi dari Digital Teknologi

Disabilitas dan Meniti Solusi dari Digital Teknologi

150 150 suarise

Di hari disabilitas nasional ini, ada baiknya kita menelaah bagaimana teknologi menjadi jembatan utama penghubung dan mengkonversi dari keterbatasan akses, menjadi kelebihan kualitas yang menjadi latar belakang utama Suarise berdiri. Salah satunya adalah teknologi digital. Jika pada postingan sebelumnya telah dibahas berbagai screen reader, kali ini kami akan membahas mengenai implementasi inklusi digital teknologi dalam hal kesempatan akses.

Inklusi digital teknologi yang paling vital tapi masih sedikit sekali dilakukan khususnya di Indonesia adalah membuat website yang ramah untuk disabilitas, khususnya tuna netra. Sebetulnya, kuncinya adalah memahami “user journey” dan “user experience” tuna netra di sebuah website–yang sebetulnya tidak jauh berbeda dengan yang mampu melihat pada umumnya– hanya saja ditambahkan detail-detail pada setiap link, tombol, gambar, bahkan emotikon. Atribut ini sangat penting agar speech sythesizer/screen reader mampu membaca website, selayaknya algoritma SEO membaca sebuah website tapi ini versi lebih deskriptif.

Salah satu contoh yang luar biasa adalah Facebook. Disamping akan ada support tambahan saat screen reader diaktifkan, Facebook juga memiliki atribut lengkap hingga setiap tombol, emotikon, bahkan gambar. Sebuah emotikon di kolom status update, bisa dibaca sebagai “face frowning half closed eye with sweat beside face”, dan sebuah gambar bisa “sedikit” dibaca ‘image with three face smiling’. Gak percaya? Cobain aja aktifkan langsung voice over ini, terutama bagi pengguna Apple Macintosh yang sudah menjadi software bawaan terintegrasi tanpa harus install ulang.

Custom journey tambahan langsung aktif saat voice over diaktifkan. Seperti yang terlihat pada gambar di bawah.

 

Pedoman aksesibilitas bagi penyandang disabilitas (accessibility) umumnya dimiliki oleh website-website besar. Beberapa tips bisa ditemukan di W3. Pembahasan aksesibilitas mengenai Facebook website juga dibahas di sebuah paper dari Carmit-Noa Shpigelman dan Carol J. Gill yang berjudul “Facebook Use by Persons with Disabilities∗” dan juga bisa dilihat di help center facebook.

Bagi developer, jangan anggap ini sebagai perintilan yang merepotkan, tapi anggap sebagai tantangan yang harus ditaklukan. Kalau merasa website atau aplikasi buatanmu sudah ramah bagi penyandang disabilitas khususnya tuna netra, boleh loh kirim ke kami untuk dibahas 😉

—–

Kedepannya, Suarise akan membuat artikel paling tidak sebulan sekali terkait aplikasi/website untuk mengevaluasi kadar aksesibiltasnya dengan fokus bagi pengguna tuna netra. Bagi kalian yang punya referensi website yang sangat ramah, boleh juga suggest ke tim kami untuk kami kupas tuntas.

 

 

 

Seluruh dunia harus tahu. Bagikan sekarang!

Leave a Reply