Posts By :

suarise

Poster acara Inclusivity at work bareng at america

Pengalaman Merekrut Digital Content Writer Tunanetra

1024 768 suarise

Rekrut tunanetra sebagai content writer? Emangnya bisa? Ini adalah stigma dan persepsi dari banyak orang. Nyatanya, profesi digital content writer adalah profesi yang menjanjikan dan bisa dikerjakan secara maksimal oleh seseorang dengan disabilitas netra.

Pengalaman Merekrut Digital Content Writer Tunanetra di Digital Agency

Dengan masih banyaknya keraguan untuk merekrut content writer dengan latar belakang tunanetra, Suarise mengadakan diskusi panel bersama Ramya Prajna (Co-CEO Thinkweb), Hani (DNetwork-Jaringan Kerja disabilitas), Ega (Content writer tunanetra), dan Theresia (Project Manager Suarise) bersama AtAmerica. Di diskusi ini dibahas dampak, keuntungan, dan apa saja yang bisa didapatkan dengan mengajak tunanetra terlibat di dalam departemen digital marketing di sebuah perusahaan organisasi.

Video diskusi panel Recruit Your First Blind Employee Worry Free

Content writer tunanetra bisa apa saja?

  1. Membuat Artikel Ramah SEO
  2. Membuat konten sosial media
  3. Membuat iklan di Google Adwords

Keuntungan merekrut content writer tunanetra Suarise:

1. Lebih efisien dan terjangkau karena bisa bekerja secara remote

Salah satu kendala utama tunanetra dalam bekerja adalah mobilitas, baik itu dari rumah menuju kantor, maupun dari pintu masuk kantor ke meja kerjanya, dan dari meja kerja ke fasilitas kantor lainnya seperti WC, pantry, kantin, dll. Bekerja secara remote tidak hanya memudahkan tunanetra tapi juga efisien bagi kantor jika belum mampu mengakomodasi aksesibilitas dari sisi infrastruktur fisik kantor itu sendiri.

2. Meningkatkan kultur perusahaan

Pegawai kantor menjadi lebih empati terhadap sekitarnya dan lebih inklusif dalam menghadapi lingkungan sekitarnya. Selain itu, perusahaan dinilai menjunjung value yang tinggi sehingga karyawan bisa bangga dan lebih loyal,

3. Lebih mudah dan terjangkau dengan Aksesibilitas digital

Jangan salah, content writer tunanetra Suarise tidak membutuhkan braille maupun perlengkapan khusus lainnya. Selama penyedia kerja menggunakan Microsoft Office atau Google Suite, tunanetra sudah bisa mengoperasikan perangkat lunak tersebut dengan menggunakan keyboard biasa (bukan keyboard brailler), dengan bantuan pembaca layar (screen reader). Pembaca layar bisa didapatkan secara gratis, dan bisa di install di perangkat/gadget apapun.

Baca juga: cara tunanetra mengakses internet

4. Terlatih secara teori dan praktik

Seluruh content writer tunanetra dari Suarise telah melalui pelatihan penulisan konten digital khusus bagi tunanetra selama 6 bulan, yang terdiri dari teori, latihan, dan praktik simulasi kerja (on the job training). Suarise juga menggunakan brief asli dari berbagai macam agency digital sebagai bahan latihan. Pengajar di Suarise telah berpengalaman di bidang digital marketing selama 10 tahun dan telah melakukan berbagai pelatihan digital marketing baik untuk kalangan akademis maupun publik.

Foto Bersama tim suarise dengan lulusan batch 2

Lulusan Training Digital Content Writing Suarise Batch 2

Jasa dan Rekrutmen Content Writer Tunanetra

Suarise menyediakan content writer tunanetra handal yang telah dilatih selama 6 bulan secara intensif. Setiap content writer tunanetra suarise bisa direkrut secara freelance maupun direkrut sebagai pekerja tetap. Jangan khawatir, Suarise menyediakan pendampingan selama 3 bulan pertama untuk adaptasi baik bagi perusahaan dan content writer yang direkrut.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan akses halaman Suarise talents recruitment.

Ingin mengadakan CSR bersama Suarise atau memberikan beasiswa kepada calon content writer tunanetra di masa depan? Hubungi theresia.suganda@suarise.com

 

 

Poster SEOCON 2021: Search Engine Optimization in The New World

SEO On Page + Accessibility: Business and Social Impact Performance in One Step

1200 628 suarise

Hubungan antara SEO On-page dan Aksesibilitas Website

“Teknis Akesibilitas Digital mencakup 70%-80% penerapan SEO On-Page pada halaman”

Inilah analisis yang diberikan oleh Deasy Natalia, General Manager BLU Wave pada sesi Global Accesssibility Awareness Day 2020 silam. Diskusi ini merupakan awal memperkenalkan istilah aksesibilitas digital ke audiens di Indonesia, terutama bagi bisnis maupun perorangan yang memiliki ketertarikan dan kebutuhan di bidang digital marketing, khususnya Search Engine Optimization (SEO). SEO on page dan Accessibility nyatanya memang berjalan seiringan.

Lebih jauh perihal teknis dan non-teknis bagaimana kedua teknis ini diterapkan dalam sekali jalan akan dibahas di SEO Conference 2021. Dengan topik SEO Perfornce in The New World, Suarise mengajak untuk menggunakan kacamata penerapan  SEO On Page yang benar dan akurat akan berdampak tak hanya bagi bisnis, tapi juga bagi pengguna dengan latar belakang disabilitas.

Daftar SEOCon 2021

Apa itu SEO On Page?

SEO On Page merupakan implementasi teknis dan non teknis untuk mengoptimasikan halaman website dari sisi asetnya itu sendiri. SEO On page meliputi optimasi landing page, struktur, kode, termasuk penulisan tiap artikel. SEO On Page tidak hanya semata-mata tentang optimasi kata kunci (keyword) saja.

Prinsip Aksesibilitas Digital (A11y) dalam sebuah website

Dalam membuat aplikasi digital yang ramah disabilitas, ada 4 prinsip yang harus dipenuhi yang disingkat dengan POUR:

  1. Perceivable
  2. Operable
  3. Understanable
  4. Robust

Keempat hal tersebut erat kaitannya dengan penggunaan maupun tanpa penggunakan teknologi asisitif bagi disabilitas tertentu (contoh: pembaca layar bagi tunanetra).

Perceivable

Perceivable artinya informasi yang disajikan dalam suatu aplikasi bisa diakses dengan multi-indera, apakah itu mata, telinga, maupun peraba. Praktis, sebuah informasi yang inklusif dan #BisaDiAkses disabilitas artinya memfasilitasi seseorang yang mengalami kekurangan maupun ketiadaan fungsi dari salah satu indera yang disebutkan.

Orang yang buta warna harus bisa memahami informasi tanpa kehilangan konteks dari warna yang disajikan, tunanetra bisa mendengar informasi yang dipaparkan secara visual, dan sebagainya.

Operable

Operable artinya bisa digunakan sesuai fungsinya. Contohnya, tombol bisa ditekan, formulir bisa diisi, belanjaan bisa di check out dan dibayar, dan sebagainya.

Understandable

Understandable artinya bisa dipahami. Seringkali informasi disajikan visual saja, gambar saja, atau bahkan teks saja. Hal ini menyebabkan pengguna dari kondisi tertentu kehilangan bagian dari informasi yang penting. Understandable juga kaitannya dengan penggunaan bahasa dan kata-kata.

Robust

Robust kaitannya bisa digunakan berbagai jenis teknologi asistif. Nah ini biasanya diluar cakupan SEO.

8 Komponen SEO On-Page yang Berhubungan dengan A11y

Ada delapan hal yang berhubungan langsung dengan website accessibility dan membuat pengguna dengan latar belakang disabilitas lebih mudah berselancar, yaitu:

  1. Heading
  2. HTML Tag
  3. Images & Multimedia
  4. Content Writing
  5. Linking
  6. Structure & Navigation
  7. Page Load Speed
  8. User Experience (UX)

SEO On Page & Accessibility Webinar

Poster Seocon sesi Suarise: SEO + Accessibility = Business and Social Impact Performance in One Step

Rahma Utami, founder dan Konsultan Aksesibilitas Suarise akan memberikan materi di SEO Conference 2021

Pada event ini, Suarise mengangkat SEO + Accessibility = Business and Social Impact Performance in One Step

  • Hari & Tanggal: Rabu, 17 Maret 2021
  • Jam: 16.oo WIB
  • Lokasi: Conference Room 1

Pada sesi ini, akan diterangkan terkait teknis

  • Dampak SEO on page yang baik bagi pengguna disabilitas
  • SEO On-page apa saja yang bersinggungan dengan aksesibilitas
  • Bagaimana menerapkannya secara efisien.

Hasilnya? Website tidak hanya bagus nilai SEO nya tapi juga semakin ramah pengguna disabilitas.

Apa yang akan didapatkan? (Ada di teks)

Untuk mengikuti sesi SEOCON 2021 baik sesi Suarise maupun sesi pembicara lainnya secara GRATIS, silakan ke registrasi peserta SEOCON 2021.

 

 

#AccessibilityIsGoodSEO

#GoodSEOisAccessible

Logo Kotex She Can Fund Indonesia

Suarise Memenangkan Kotex #SheCan Fund Indonesia

1920 1080 suarise

Beberapa waktu lalu, Rahma Utami, founder dari Suarise, mengikutsertakan diri dalam acara Kotex #SheCan Fund Indonesia untuk mendapatkan dana bantuan untuk mengembangkan gerakan inklusivitas di digital bagi penyandang disabiiltas.

Suarise ingin mendobrak stigma bahwa penyandang disabilitas, khususnya tunanetra dan low vision tidak bisa berkarya di dunia digital. Oleh karena itu, Suarise berkomitmen menyelenggarakan pendidikan inklusi dan memperluas aksesibilitas digital di tanah air.

Kotex #SheCan Fund Indonesia

Selain Suarise, ada empat gerakan lain yang menjadi pemenang Kotex #SheCanFund Indonesia periode pertama, yaitu:

Melalui dana yang didapatkan dari Kotex #SheCan Fund, Suarise akan menyebarkanluaskan kesadartahuan, pengetahuan, dan pemahaman tentang potensi tunanetra untuk bekerja di sektor digital, meningkatkan peluang mereka direkrut, dan menyebarkan pengetahuan bagaimana membuat konten di website dan aplikasi ramah difabel.

Suarise akan terus mewujudkan mimpi agar seluruh platform digital #BisaDiakses. Kami percaya, aksesibilitas tidak hanya diperuntukkan bagi disabilitas, termasuk tunanetra dan low vision, tetapi juga diperuntukkan bagi masyarakat awas.

Kotex #SheCan Fund Indonesia terbuka bagi perempuan pendobrak dan penggerak di seluruh Indonesia. Untuk mendaftarkan gerakan #CewekKotexBisa untuk bisa mendapatkan pendanaan, kunjungi website Kotex #SheCan Fund.

Semoga berhasil!

#perlindungantotalantibakteri

Webminar: Aksesibilitas Website

960 540 suarise

Awal Mei lalu, Suarise berkesempatan untuk berbagi seputar aksesibilitas website ke khalayak front-end developer di komunitas wwwid dalam acara Livecamp.

Simak Aksesibilitas Website, Performa dan Manfaat bagi Seluruh Lapisan Masyarakat di video di bawah ini:

gambar troli di tengah rak supermarket

Rekomendasi Aplikasi Belanja Minimarket Online Untuk Tunanetra

3024 4032 suarise

Teknologi pembaca layar pada smartphone saat ini memudahkan tunanetra untuk melakukan berbagai aktivitas sehari-hari. Mulai dari memesan makanan siap santap hingga kebutuhan transportasi, semua  bisa dilakukan secara online. Begitu pun dengan bahan makanan dan belanja bulanan lainnya, tunanetra juga bisa memesan secara mandiri salah satunya melalui aplikasi minimarket online. 

Sayangnya, tidak semua aplikasi minimarket online tersebut bisa diakses dan nyaman untuk digunakan oleh pengguna tunanetra. Lalu, dari sekian banyak aplikasi yang beredar, mana yang merupakan aplikasi belanja supermarket online yang bisa diakses oleh tunanetra?

Nah, kali ini gue akan mencoba untuk mengulas beberapa aplikasi minimarket online dari sudut pandang pengguna tunanetra. Sebagai catatan, perangkat yang digunakan pada review ini adalah iPhone 7 Plus dengan sistem operasi iOS 13.4.1. Sementara untuk pembaca layar yang digunakan adalah VoiceOver yang merupakan pembaca layer bawaan dari iPhone.

Baca Juga Cara Mengaktifkan Pembaca Layar Voice Over di iPhone/iPad

Dari semua aplikasi belanja minimarket online yang ada, gue pilih dua aplikasi yang menurut gue paling populer dan memiliki jumlah gerai terbanyak di Indonesia. Kedua aplikasi tersebut adalah AlfaGift dari Alfamart dan KlikIndomaret dari Indomaret. 

Bagaimana hasilnya ya? Apakah keduanya cukup mudah diakses dan nyaman digunakan oleh tunanetra? Yuk, simak review aplikasi belanja minimarket online ala tunanetra berikut ini!

Gambar troli belanja

Mana yang lebih mudah diakses tunanetra: Alfamart atau Indomart?

AlfaGift, Versi 4.0.14, Minimarket Online dari Alfamart

Pertama membuka aplikasi AlfaGift, semua informasi di halaman utama dapat terbaca dengan cukup jelas oleh VoiceOver. Begitu pun untuk kelima tab yang ada di bagian bawah, yaitu  Home, Product, Basket, Promo, dan More, semuanya terbaca dengan jelas.

Setelah melakukan sedikit screening, gue langsung saja mencoba untuk membuat akun agar dapat melakukan pembelian. Proses pembuatan akun cukup mudah. Berikutnya, gue coba memilih tombol Shop Now dan melakukan pencarian barang yang dibutuhkan dengan menekan tombol Search, kemudian mengetikkan nama barang yang dicari. Hasilnya, VoiceOver dapat membacakan dengan jelas semua produk yang muncul pada hasil pencarian. Tak hanya terbaca, proses pemilihan barang dan jumlah yang diinginkan pun dapat dilakukan dengan mudah. Namun entah kenapa, beberapa kali tombol Back untuk kembali ke halaman sebelumnya setelah melakukan pencarian sempat tidak terbaca. Tidak selalu, hanya beberapa kali saja gue mengalami hal ini. 

Lanjut ke tahap berikutnya, yaitu untuk pengisian alamat dan cara pembayaran. Tidak ada masalah untuk pemilihan cara pembayaran, walaupun interface-nya agak membingungkan untuk pembaca layar.

Masalah muncul ketika melakukan pengisian alamat. Untuk pengisian berupa text seperti Label, Alamat Lengkap, dll sebenarnya tidak ada masalah. Masalahnya, aplikasi AlfaGift mengharuskan pengguna untuk melakukan pointing atau menempatkan pin di titik alamat, yang mana ini tidak mungkin dilakukan oleh pembaca layar. Pada tahap ini gue terpaksa meminta bantuan orang awas (non-tunanetra) untuk menempatkan pin pada alamat yang sesuai. Setelah masalah pin ini selesai dan data alamat tersimpan, gue bisa dengan mudah menggunakan aplikasi AlfaGift untuk melakukan pemesanan berikutnya. 

Baca juga tulisan Reza Akbar (Ega) lainnya di sini

KlikIndomaret, Versi 2003100, Minimarket Online dari Indomaret

Pertama membuka aplikasi KlikIndomaret, perasaan gue langsung tidak enak. VoiceOver langsung membacakan semua informasi yang tampil pada layer tanpa bisa dikendalikan, dan hal ini bukanlah pertanda baik. Benar saja, setelah mencoba berbagai cara, gue tetap tidak bisa melakukan apa-apa pada aplikasi KlikIndomaret ini.

Testing Langsung belanja online bareng Tunanetra

Kesimpulan

Setelah membandingkan aplikasi AlfaGift dengan KlikIndomaret, gue menobatkan aplikasi AlfaGift sebagai aplikasi belanja supermarket online yang lebih bisa diakses untuk tunanetra. Walaupun ada sedikit masalah, tapi menurut gue masalah tersebut termasuk kategori minor yang masih bisa ditoleransi. Sementara untuk KlikIndomaret, sama sekali tidak dapat digunakan oleh pengguna tunanetra.

Dengan adanya review ini, gue berharap dapat membuka mata para pengembang aplikasi bahwa selalu ada kemungkinan aplikasi buatan mereka akan digunakan oleh tunanetra. Untuk itu, ada baiknya pengembang aplikasi mengetahui dan mempelajari bagaimana pembuatan aplikasi yang bisa diakses dengan pembaca layar agar dapat bermanfaat untuk teman-teman tunanetra. 

Baca dan tonton juga Aksesibilitas Aplikasi Ojek Online.

Nah, sekian review aplikasi belanja supermarket online ala tunanetra. Suka dengan review ini? Jangan lupa share review dan informasi ini ke teman, sahabat, dan keluarga kalian, ya!

Ditulis oleh Moh. Reza Akbar Ardiansah, VIP Talent Suarise

Cek tulisan Ega dan content writer tunanetra lainnya di talents.suarise.com

 

Liputan Kollaborasi 18 dan Talkshow Inspiratif: Berkarya Tanpa Batas di Era Digital bagi Difabel

150 150 suarise

Tanggal 14 Februari 2018 lalu, tim Suarise berkesempatan mengunjungi Kollaborasi 18, sebuah event yang diselenggarakan Kolla Coworking Space (atau sering juga disebut Kolla Nomad) yang berlokasi di Jalan Sabang, Jakarta Pusat. Acara ini terbagi menjadi 3 rangkaian hari, yaitu pada tanggal 2, 14 dan 24 Februari 2018. 

Apa sih Kollaborasi 18?

Kollaborasi 18 mengangkat isu disabilitas dan bagaimana peran digital dalam proses inklusi dan peningkatan kesejahteraan teman-teman difabel dari berbagai sektor. Acara ini mengangkat berbagai karya dari teman-teman difabel: lukisan, kerajinan tangan, makanan, panggung musik perkusi, bioskop bisik, pelatihan coding, hingga talkshow. Pengunjung juga dapat membeli karya teman-teman diffabel di Pasar Kolla.

Sesi yang tim suarise hadiri adalah Talkshow Inspiratif: Berkarya Tanpa Batas di Era Digital bagi Difabel. Sharing ini di moderatori oleh Kolla Nomad dengan menghadirkan narasumber dengan berbagai latar belakang disabilitas dan skill yang dimiliki, seperti Art Rodhi dan Indra Surya Hutapea yang mewakili teman-teman tuna daksa, serta Nicky Claraentia sebagai perwakilan dari thisable enterpirse. Sharing ini dihadiri berbagai kalangan, baik dari pers, komunitas, dan bisa dibilang seluruh lapisan diffabel, dari tuna netra, tuna daksa, tuna rungu, dan lain-lain.

Selain teman-teman difabel, talkshow Kollaborasi 18 ini juga mengundang CTO dari Tunemap, Mahdan Muqatirullah yang datang langsung dari Bandung sebagai salah satu aplikasi karya anak bangsa yang membantu teman-teman tuna netra untuk berjalan. Pada talkshow ini, masing-masing narasumber berbagi bagaimana awalnya digital membantu mereka untuk berkarya seperti saat ini, hambatan, dan harapan agar kedepannya teman teman difabel semakin berkarya di era digital.

Art Rodhi: Pelukis dan Founder theable art

Sebagai seorang tuna daksa yang baru memulai melukis pada saat masih terbaring di tempat tidur, Rodhi mendapatkan mentor dan bantuan untuk membuat karyanya semakin bagus melalui jejaring Facebook. Melalui sosial media juga, Rodhi akhirnya bisa menjual karya-karya lukisannya dan akhirnya bekerja sama dalam menjual merchandise yang menggunakan lukisan karya Rodhi dan teman-teman difabel lainnya untuk dijual melalui theable art.

Indra Surya Hutapea: SEO Specialist

Indra berprofesi sebagai freelance SEO Specialist karena berbagai kantor menolak untuk menerima dikarenakan kondisi fisiknya yang seorang tuna daksa. Akhirnya, dengan berbekal menjadi member berbagai situs freelance, Indra kini bisa bekerja dari rumah dengan bermodalkan komputer dan internet.

Nicky Claraentia: Head of Business Development Thisable Enterprise

Sebagai Head of BD di thisable Enterprise, Mbak Nicky–begitu dia disapa– juga merupakan penyandang tuna daksa yang menggunakan kaki palsu dalam kesehariannya. Nicky menyatakan bahwa masyarakat luas masih butuh edukasi tentang apa saja lingkup disabilitas–karena seringkali yang dianggap diffabel adalah mereka yang menggunakan kursi roda atau tongkat saja.

Dalam sesi ini juga Nicky menceritakan beberapa keberhasilan thisable dalam mengakomodir kerjasama dengan perusahaan-perusahaan untuk menyerap tenaga kerja diffabel. Salah satunya adalah Go-jek yang menggunakan banyak teman-teman tuna rungu ataupun tuna wicara untuk mitra salah satu produk Go-Jek yaitu Go-Auto.

Tune Map: Peta Bicara Bagi Tuna Netra

Tune map adalah aplikasi ponsel berbasis android yang membantu teman-teman tuna netra menyusuri trotoar dan jalanan pada umumnya. Tune map membantu menginformasikan kondisi trotoar yang seringkali tidak ideal untuk dilalui tuna netra. Pengumpulan data ini dilakukan dengan metode crowd sourcing dari masyarakat yang menjadi volunteer. Mahdan, CTO Tune map, berbagi proses pembuatan tune map dan bagaimana komunitas berperan penting dalam melengkapi data kondisi trotoar di Bandung.

Menurut teman-teman tuna netra, Tune map sangat intuitif user interfacenya sehingga sangat mudah digunakan. Aplikasi Tune Map ini bisa di unduh di Google Play .

Baca juga: Review User Experience Tune Map Yang Ramah Difabel

Suarise di Kollaborasi 18

Pada talkshow Kollaborasi 18 ini, Suarise sempat memperkenalkan diri sebagai wadah akselerasi kemampuan tuna netra untuk memiliki kemampuan terkait digital content writing. Selain itu, sedikit disinggung pula bagaimana Suarise membantu akses vip (visually impaired people) untuk mendapatkan project terkait skill yang nantinya mereka miliki.

Foto Bersama Penggiat Diffabel Tuna Netra di Kollaborasi 18

Foto bersama perwakilan tim suarise bersama sesama penggiat diffabel yang fokus di tuna netra di acara Kollaborasi 18. Kiri ke kanan: Rahmaut (Suarise), Machdan (Tune Map), Yudi (Pengajar coding di Mitra Netra)

Oiya, Suarise terbuka bagi seluruh tuna netra yang telah memiliki kemampuan mengoperasikan komputer. Mau tahu lebih jauh tentang suarise?

Subscribe  update dan beritanya di  ____

Follow kami di

Punya pertanyaan atau ingin bekerja sama? Jangan sungkan melayangkan email ke contact@suarise.com atau melalui halaman ini. 

Disabilitas dan Meniti Solusi dari Digital Teknologi

150 150 suarise

Di hari disabilitas nasional ini, ada baiknya kita menelaah bagaimana teknologi menjadi jembatan utama penghubung dan mengkonversi dari keterbatasan akses, menjadi kelebihan kualitas yang menjadi latar belakang utama Suarise berdiri. Salah satunya adalah teknologi digital. Jika pada postingan sebelumnya telah dibahas berbagai screen reader, kali ini kami akan membahas mengenai implementasi inklusi digital teknologi dalam hal kesempatan akses.

Inklusi digital teknologi yang paling vital tapi masih sedikit sekali dilakukan khususnya di Indonesia adalah membuat website yang ramah untuk disabilitas, khususnya tuna netra. Sebetulnya, kuncinya adalah memahami “user journey” dan “user experience” tuna netra di sebuah website–yang sebetulnya tidak jauh berbeda dengan yang mampu melihat pada umumnya– hanya saja ditambahkan detail-detail pada setiap link, tombol, gambar, bahkan emotikon. Atribut ini sangat penting agar speech sythesizer/screen reader mampu membaca website, selayaknya algoritma SEO membaca sebuah website tapi ini versi lebih deskriptif.

Salah satu contoh yang luar biasa adalah Facebook. Disamping akan ada support tambahan saat screen reader diaktifkan, Facebook juga memiliki atribut lengkap hingga setiap tombol, emotikon, bahkan gambar. Sebuah emotikon di kolom status update, bisa dibaca sebagai “face frowning half closed eye with sweat beside face”, dan sebuah gambar bisa “sedikit” dibaca ‘image with three face smiling’. Gak percaya? Cobain aja aktifkan langsung voice over ini, terutama bagi pengguna Apple Macintosh yang sudah menjadi software bawaan terintegrasi tanpa harus install ulang.

Custom journey tambahan langsung aktif saat voice over diaktifkan. Seperti yang terlihat pada gambar di bawah.

 

Pedoman aksesibilitas bagi penyandang disabilitas (accessibility) umumnya dimiliki oleh website-website besar. Beberapa tips bisa ditemukan di W3. Pembahasan aksesibilitas mengenai Facebook website juga dibahas di sebuah paper dari Carmit-Noa Shpigelman dan Carol J. Gill yang berjudul “Facebook Use by Persons with Disabilities∗” dan juga bisa dilihat di help center facebook.

Bagi developer, jangan anggap ini sebagai perintilan yang merepotkan, tapi anggap sebagai tantangan yang harus ditaklukan. Kalau merasa website atau aplikasi buatanmu sudah ramah bagi penyandang disabilitas khususnya tuna netra, boleh loh kirim ke kami untuk dibahas 😉

—–

Kedepannya, Suarise akan membuat artikel paling tidak sebulan sekali terkait aplikasi/website untuk mengevaluasi kadar aksesibiltasnya dengan fokus bagi pengguna tuna netra. Bagi kalian yang punya referensi website yang sangat ramah, boleh juga suggest ke tim kami untuk kami kupas tuntas.

 

 

 

Teknologi bagi Tuna Netra

150 150 suarise

Perkembangan teknologi di bidang IT, medical engineering maupun biological engineering telah memberikan peluang pengembangan berbagai alat bantu yang ditunjang oleh teknologi modern. Serangkaian penelitian telah dilakukan melibatkan berbagai aspek teknologi, yang antara lain dapat disebutkan sebagai berikut.

1. Guide Device for the Visually Handicapped
Sistem ini merupakan hasil proyek kerja sama antara Kementrian  Perdagangan & Industri dengan Kementrian Kesehatan dan Kesejahteraan. Sistem ini dikembangkan dengan memadukan teknologi photoelectric & ultrasonic, untuk mendeteksi obstacle. Data ini kemudian ditransmisikan kepada user lewat micro-computer. Output dari transmisi berupa suara/bunyi yang akan diteruskan ke pendengaran pemakai. Dengan demikian, mereka akan dapat memahami situasi lingkungan di mana dia berada. Mereka pun dapat mengenali jenis obyek yang menjadi penghalang di depannya, sehingga dapat berjalan dengan aman.

2. Mesin foto copy Braille
Sistem ini dilengkapi dengan OBR (Optical Braille Character Reader). Pertama-tama draft yang tertulis dalam huruf braille akan mengalami proses “Braille Character Recognition”, dan hasil dari proses ini akan ditampilkan di CRT berupa huruf Braille ataupun huruf alphabet, dan katakana pada umumnya. Kemudian user akan mengoreksi sekiranya ada kesalahan pada hasil baca OBR tsb. dan kemudian, hasil editing ini akan diteruskan ke Braille I/O typewriter. Sebagaimana no.1 di atas, proyek ini juga merupakan hasil proyek kerja sama antara Kementrian Perdagangan & Industri dengan Kementrian Kesehatan dan Kesejahteraan.

3. Book-reader for the Visually handicapped
System ini terdiri dari : alat otomatis untuk membalik halaman, scanner, character recognizer, sistem untuk analisa kalimat, speech synthesizer, dan recording unit. Cara kerja sistem ini adalah : Buku ditempatkan di posisi terbaca oleh scanner, dan kemudian scanner akan mengubah tampilan ke bentuk image. Selanjutnya character recognizer (OCR) akan melakukan transformasi image-character, dan sehingga didapat text-based information. Hasil proses ini akan melalui analisa gramatikal, sehingga didapat kalimat yang benar secara grammar dan dapat difahami. Selanjutnya speech synthesizer akan mengubah kalimat ini ke dalam media suara, sehingga dapat dipahami oleh penderita tuna netra.

4. Three-dimensional Information Display Unit
Display ini dibuat dari banyak pin 3 dimensi. Alat ini ditujukan khusus untuk para tuna netra, sehingga informasi lingkungan yang berada di depannya akan diterjemahkan ke dalam pattern tertentu yang ditunjukkan oleh komposisi pin pada display.

5. Sistem Navigasi menggunakan Optical Beacon (Tokai University)
Sistem ini ditujukan untuk membantu membimbing user (tuna netra) di dalam ruangan, agar bisa menuju lokasi yang diinginkan dalam suatu bangunan. Dibandingkan dengan sistem navigasi yang memakai GPS, sistem yang ditunjang oleh optical beacon ini memiliki keunggulan dalam pemakaian dalam ruangan. GPS memang memberikan informasi yang cukup handal untuk pemakaian di outdoor environment, akan tetapi kurang tepat untuk pemakaian indoor. Sistem yang dikembangkan oleh team Tokai University ini diuji dalam suatu ruangan yang dilengkapi dengan optical beacon yang berfungsi sebagai transmitter sinar infra merah. User membawa sebuah receiver yang menerima signal dan informasi yang dipancarkan oleh optical beacon tsb. Selanjutnya dari signal ini, system akan menghitung posisi dimana user berada. Informasi posisi ini akan dipancarkan ke user, dan receiver akan meneruskannya ke processing unit (notebook computer) yang dibawa oleh user. Informasi posisi ini akan berfungsi sebagai input bagi processing unit, dan outputnya adalah informasi berupa suara dari speaker, yang menuntun user ke arah tujuan yang diinginkan.

6. Pengembangan sistem transfer informasi visual 3 dimensi ke dalam informasi dimensional virtual sound. (Tsukuba University).
Informasi visual disekeliling user diperoleh melalui stereo kamera, untuk memperoleh gambaran 3 dimensi posisi dan situasi dimana user berada. Kemudian informasi ini diterjemahkan dan disampaikan kepada user dengan memakai 3 dimensional virtual acoustic display. Dengan demikian user akan memperoleh informasi benda apa saja yang disekitarnya dan bagaimana pergerakan masing-masing object tsb.

Walau terbilang langka, tetapi penelitian dan pengembangan sistem rehabilitasi tuna netra telah mulai dilakukan juga di Indonesia. Pada tahun 1991, telah didirikan Mitra Netra Foundation sebagai salah satu lembaga yang memberikan pengabdian bagi rehabilitasi tuna netra. Lembaga ini melakukan kolaborasi dengan BPP Teknologi, dan dalam kerjasama tsb. Direncanakan pengembangan teknologi text to speech synthesizer, yang mengubah tampilan pada monitor komputer ke dalam informasi berupa suara. Beberapa tema penelitian yang barangkali dapat dirintis untuk dikembangkan di Indonesia antara lain:
1. OCR : Roman Alphabets-Braille Converter System
System ini merupakan pengembangan software OCR, sehingga hasil scanning terhadap buku, dokumen,suratkabar dsb. akan diubah format penyajiannya ke dalam braille-based output. Selain itu terbuka juga kemungkinan untuk memadukannya dengan text to speech synthesizer sehingga didapat output berupa suara.
2. Pengembangan perpustakaan CD yang dikhususkan bagi para tuna netra, sesuai dengan standar internasional DAISY (Digital Audio-Based Information System). Di Jepang, sistem ini telah berkembang dengan baik, dan dengan memanfaatkan teknologi kompresi, sebuah CD dapat menyimpan rekaman sepanjang 50 jam.
3. Pengembangan software voice recognition system khusus untuk bahasa Indonesia, sebagai media input bagi komputer.
4. Pengembangan dan pengadaan software komputer yang diperuntukkan khusus bagi tuna netra..

Selain teknologi yang dikembangkan di atas, terdapat beberapa software yang telah dikenal dan dijual secara bebas yang sifatnya TTS (Text to Speech) synthesizer. Software tersebut adalah:

JAWS (Job Access With Speech)

Jaws for Blind and Low VisionJaws adalah piranti pembaca layar  screen reader) yang memang dikhususkan bagi penderita gangguan penglihatan. Software ini diproduksi oleh The Blind and Low Vision Group at Freedom Scientific of St. Petersburg, Florida, USA. Tujuannya adalah untuk membuat komputer yang digunakan dapat diakses oleh kalangan tuna netra dengan cara menterjemahkan visual  yang terpampang di layar monitor kedalam suara. Hal ini meliputi jendela aplikasi yang keluar, pengguanaan perinta/command, hal hal yang diketik, informasi teknis dokumen (misal ukuran byte-nya, ukuran font, huruf apa yang digunaan, kecepatan bicara dan seterusnya. Software ini juga dapat dimodifikasi oleh masing masing orang, terutama terkait dengan shortcut ataupun command yang digunakan untuk mempermudah kerja tuna netra yang bersangkutan. Sejauh ini JAWS hanya dapat digunakan pada komputer yang menggunakan system operasi Windows dan menggunakan ejaan Inggris dalam pengucapannya. Software ini merupakan akses yang paling esensial bagi tuna netra saat ini untuk melakukan pekerjaannya, terutama yang berkaitan dengan komputer.

Nuance TALKS

Nuance TALKS adalah softare keluaran Nuance yang berfungsi sebagai Text to Speech yang digunakan pada telepon genggam. Aplikasi ini dapat dijalankan pada telepon genggam yang telah menggunakan teknologi Symbian™ . Software ini menyebutkan apapun yang terjadi dengan telepon genggam, seperti panggilan telepon masuk, sms, menu, dan sebagainya.

MLM for the Blind

MLM for the Blind kependekan dari My Learning Module for the Blind, yaitu sebuah alat media baca elektronik untuk para tuna netra yang beroperasi tanpa komputer (stand alone). MLM merupakan alat yang merekayasa perangkat keras dan lunak sekaligus, untuk membuat para tuna netra memiliki alat pembaca buku digital portabel. Diciptakan oleh Erik Taurino Chandra, Rico Wijaya dan Yudhi yang merupakan mahasiswa IT dari  Universitas Bina Nusantara , alat ciptaan mereka ini mampu menerjemahkan tulisan elektronik atau artikel e-book ke dalam huruf Braille, dan enaknya bisa ditenteng-tenteng kemana saja oleh teman-teman tuna netra. Masalah keterbatasan bahan bacaan bagi para tuna netra, diatasi oleh kreatifitas dahsyat mereka bertiga.

MLM for the Blind

MLM for the Blind terdiri dari tombol input, 42 braille cells, buzzer dan Multi Media Card (MMC). Tombol input digunakan untuk memilih judul, membuka bacaan menampilkan baris bacaan serta input halaman bacaan. 42 braille cells akan menampilkan karakter braille. Dua karakter pertama akan menampilkan baris bacaan dan 40 karakter lainnya merupakan isi bacaan yang ditampilkan. Sedangkan buzzer digunakan untuk memberikan pesan kesalahan pada pengguna. Data yang bisa dibaca oleh alat ini melalui MMC yaitu dalam bentuk textfiles (*.txt). MLM for the Blind masuk dalam nominasi INAICTA 2009 kategori ‘e-Learning’. Saat Malam Penganugerahan lalu (29/7), produk ini mendapatkan gelar Special Mention, yaitu bentuk penghargaan tersendiri dari juri yang penilaiannya tidak bisa diganggu gugat.

sumber:
Laporan Tugas akhir Rahma Utami, DKV ITB
http://kickandy.com/theshow/2010/03/05/1836/1/1/1/INOVASI-TIADA-BATAS-
http://www.teknopreneur.com/content/kabar-baik-untuk-tuna-netra-dari-mlm-blind

 

Langkah awal

150 150 suarise

Sebuah langkah awal yang sejauh ini direncanakan adalah membangun online campaign. Blog ini salah satunya sebagai base information ketika orang ingin mengetahui tentang kampanye ini. Content dapat berubah sewaku-waktu namun update-an akan terbatas pada progress yang dihasilkan, peluang/kesempatan yang dimiliki, dan fakta yang dapat membangun dan mengembangkan kampanye ini.

Sejauh ini, baik media blog dan twitter baru merupakan usaha personal. Diharapkan ketika nanti kampanye ini benar2 terjalin antara pihak-pihak terkait, kedua media online ini dapat di kembangkan dan dijalankan bersmaa-sama oleh seluruh aspek tim kampanye.

Secara ide, saya sendiri terpikirkan untuk pengajuan pembuatan job database seperti JobsStreet atau JobsDB bangi kalangan tuna netra sebagai upaya 2 arah dalam mepromosikan kemampuan mereka. Arah pertama : ara tuna netra dapat memberikan informasi mengenai kompetensi yang mereka miliki, arah kedua: perusahaan juga memiliki field pencarian yang jelas serta dapat menghubungi orang yang menarik dan memiliki kompetensi yang dicari perusahaan. Harapannya dapat terjadi semacam interaksi juga disini. Yang saya tahu, perencanaan ke arah ini ternyata telah dimulai juga oleh PERTUNI (wah, ternyata ide kita sama ). Namun progress reportnya belum dapat dilaporkan disini.

Ketika prototype website ini jadi, maka langkah selanjutnya *yang sebeulnya dapat dilaksanakan secara pararel selama pembuatan prototype website* adalah database dari para tuna netra berkompetensi. Nantinya data ini dapat dimasukan baik secara offline (dari pembangun ‘jobsDB’ nya) maupun online personal tiap tuna netra. maka dari iu, selain database awal yang tealh dimiliki, diperlukan upaya promosi di kalangan tuna netra sendiri tentang keberadaan web ini sendiri untuk membantu aksebilitas mereka dalam memasuki dunia kerja. Hal ini akan terus menerus berjalan.

Sambil menunggu jobs DB ini selesai, kampanye pada tahap Conditioning sudah dapat mulai digencarkan.

Setelah web siap dan sekiranya database dalam si ‘JobsDB’ ini dirasa mencukupi, barulah diadakan semacam Grand Launching. Jika dalam tahapan kampanye, hal ini berbarengan dengan tahapan informing, dimana goalnya adalah terbukanya kesempatan interview yang adil bagi para tuna netra. Saran saya betul-betul berupa suatu acara offline yang didukung oleh segenap mass media terkait dengan mass publication dan mass communication. Bentuk offline event nya sendiri sejauh ini masih seperti yang saya rencanakan di tugas akhir, paduan antara Experience, music, talk show, dan exhibition dimana pihak-pihak yang diundang betul-betul bukan sembarang pihak (okay, terdengar agak kurang riil objeknya, tapi saya rasa cukup ngerti kan?)

ohya…semoga bisa diwujudkan.

Segala partisipasinya akan kami hargai 😀

Overall Project Plan

150 150 suarise

Ini masih berupa prototype yang dikembangkan pada saat TA. Tidak tertutup kemungkinan diadakan pengembangan dalam campaign ini.

Intinya, meski kampanye ini terbagi dalam 3 tahap (Conditioning, Informing,dan Remiding). kampanye nya sendiri akan diutamakan pada 2 tahap:

1. Conditioning

Mempersiapkan audience untuk memahami bahwa kemampuan dari Tuna Netra tidak hanya jadi tukang pijat (mempersiapkan audience utnuk menerima segala fakta akan dibeberkan pula pada tahap ini. Meski pada tahap tugas akhir kampanye pada tahap CONDITIONING cenderung hard selling, rencananya nanti pada tahap conitioning ini sendiri akan dibagi jadi 2 sub:

a. Experiencing how the blind “see” the world

b. Tell audience what can they do

Meski poin kedua mungkin lebih terlihat sebagai informing, saya menegaskan ini pada tahap condotioning sih. Soalnya tahap informingnya adalah lebih pad aajakan meng-hire.

2. Informing

Pada tahap ini kamapnye akan lebih bersifat direct marketing, langsung kepada audience yang dituju (which is perusahaan). Tahapan ini lebih ke arah ajakan untuk meng-hire para tuna netra sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki.

Sejalan dengan kampanye visual ataupun event yang sifatnya online dan offline, secara paralel juga dikembangkan situs semacam JobsDB untuk kalangan Tuna Netra yang kurang lebih berisi cv dan portfolio mereka demi kemudahan akses interaksi real time bagi pihak pihak yang terkait. rencana ini kebetulan telah terpikirkan juga oleh PERTUNI (Persatuan Tuna Netra Indonesia) dan saat in imasih dalam tahap pengembangan. Saat in iyang bertanggung jawab mengenai hal ii adalah Bp. Dedi Mulia dari PERTUNI.

Segala saran dan masukan selalu dinanti. Apalagi kalau ada yang bisa bantu volunteer dan sponsorship. 😀

Jika ingin melihat plannya, bisa dilihat di slidenya TA-Rahma Utami 17505001-Slide