Posts By :

Iin Kurniati

Fitur Aksesibilitas Linkedin Untuk Ciptakan Konten Aksesibel

150 150 Iin Kurniati
Postingan linkedin Kemenkeu berisi informasi formasi CPNS 2024 yang sepi peminat

Gambar dalam postingan ini tidak dilengkapi alt

LinkedIn sebagai platform yang telah dilengkapi fitur-fitur aksesibilitas sama seperti produk-produk microsoft lainnya menjadi sia-sia bila tidak dimanfaatkan secara optimal oleh penggunanya. Sebagai contoh postingan Kementerian Keuangan tentang formasi CPNS yang sepi peminat. Bila dilihat sekilas nampaknya tidak ada yang salah dari postingan tersebut. Daftar formasi disampaikan secara jelas di gambar kedua. Namun, gambar tersebut tidak dilengkapi alt teks. Padahal beberapa formasi yang sepi peminat adalah formasi khusus disabilitas termasuk untuk disabilitas netra. Formasi ini seharusnya dapat menjadi peluang bagi disabilitas netra untuk menjadi bagian dari Kementerian Keuangan. mungkin saja ada peminat disabilitas, termasuk disabilitas netra yang baru mau mendaftar tidak mengetahui bahwa bila ada formasi disabilitas Kementerian Keuangan yang sepi peminat.

Alt Teks Aksesibilitas yang Disediakan Linkedin

Salah satu aksesibilitas LinkedIn adalah menyediakan opsi penambahan alt teks pada setiap unggahan gambar. Fitur ini memungkinkan pengguna untuk memberikan deskripsi detail dan konteks yang relevan terhadap gambar yang diposting. Pemberian alt teks ini bermanfaat agar disabilitas yang tidak mampu melihat seperti disabilitas netra bisa menikmati linkedin setara dengan orang awas. Selain itu, kontenmu bisa berpotensi lebih mudah ditemukan dalam hasil pencarian.

Baca:

Alt Teks: Aksesibilitas Media Sosial untuk Pengguna Tunanetra

Apa Dampak Absennya Alt Teks?

Disabilitas netra adalah pihak yang terdampak besar dari absennya alt teks. Ketiadaan alt teks pada gambar yang menyertai postingan lowongan CPNS tersebut menjadi penghalang bagi pengguna disabilitas netra untuk mengakses informasi di dalamnya. Hal ini sangat ironis mengingat CPNS menyediakan formasi khusus disabilitas. Situasi ini diperparah dengan caption yang tidak informatif. Caption  hanya menyatakan detail terdapat pada gambar. Bagi pengguna tunanetra, hal ini tentu saja membingungkan dan tidak membantu.

Sudah ada Alt Teks dalam postingan lain

Tidak adanya alt teks dalam postingan informasi formasi sepi peminat sangat disayangkan. Hal ini membuat prinsip menjunjung kesamaan hak bagi setiap WNI yang ditegaskan Kementerian Keuangan perlu dipertanyakan. Walau tidak menyebut disabilitas secara eksplesit, frasa tersebut dapat dimaknai sebagai menerima disabilitas. Ditambah Kementerian Keuangan memang menyediakan formasi khusus yang ditujukan untuk disabilitas.

Postingan linkedin Kementerian Keuangan tentang pembukaan pendaftaran CPNS 2024

Gambar dalam Postingan linkedin Kemenkeu tentang pembukaan seleksi CPNS 2024 dilengkapi alt teks

Padahal Kementerian Keuangan sendiri sebenarnya sudah pernah membuat postingan yang inklusif seperti postingan di atas. Dalam postingan pembukaan CPNS tersebut kedua gambar telah dilengkapi alt teks. Ketidakkonsistenan ini perlu diperbaiki.

Bagaimana Cara Disabilitas Netra Membaca Postingan Linkedin?

Disabilitas netra dapat membaca postingan di linkedin berkat screen reader. Screen reader adalah software untuk membacakan konten yang ada di layar termasuk postingan di linkedin. Software ini tersedia baik di smartphone maupun komputer.

Penting untuk dicatat bahwa screen reader hanya mampu memproses konten yang berbentuk teks digital, seperti caption pada postingan ini. Meskipun sebuah gambar mungkin memuat tulisan, screen reader tidak akan dapat menginterpretasikannya karena tulisan tersebut dianggap sebagai bagian integral dari gambar itu sendiri. Namun, jika gambar dilengkapi dengan alt text yang mendeskripsikan konten visual tersebut, screen reader baru dapat membacakan deskripsi ini kepada pengguna.

Bagaimana Disabilitas Netra Memahami Isi gambar Tanpa Alt Teks?

Cara disabilitas netra memahami isi gambar yang tidak disertai alt teks membutuhkan proses tambahan. Umumnya, mereka memanfaatkan teknologi Optical Character Recognition (OCR) atau kecerdasan buatan (AI) seperti Gemini. OCR berfungsi mengubah teks yang terdapat dalam gambar menjadi format teks digital. Mekanisme kerja AI seperti Gemini pun serupa dengan OCR, yaitu berusaha mengekstrak informasi teks dari gambar. Meskipun demikian, baik OCR maupun AI memiliki keterbatasan yaitu hasil yang dihasilkan tidak selalu akurat. Orang awas dapat memahami isi gambar hanya dalam sekali lihat. Sementara itu, disabilitas netra perlu mengorbankan waktu tambahan.

Oleh karena itu, keberadaan alt teks sangatlah penting. Dengan adanya alt teks, disabilitas netra dapat dengan cepat memahami isi gambar tanpa perlu melibatkan proses tambahan. Sebagai contoh, dalam konteks postingan lowongan kerja yang memuat gambar berisi kualifikasi, seorang penyandang tunanetra dapat segera memutuskan apakah berminat melamar atau tidak berdasarkan informasi yang terkandung dalam alt teks. Jika tertarik, mereka dapat langsung mempersiapkan berkas lamaran tanpa perlu repot-repot menjalankan aplikasi OCR atau AI.

Fitur Aksesibilitas Linkedin Tidak Hanya Alt Teks

Keyboard Navigation

Linkedin dapat dinavigasi sepenuhnya menggunakan keyboard. Pengguna dapat menjelajahi seluruh antarmuka LinkedIn hanya dengan menekan tombol Tab dan panah mulai dari beranda sampai berinteraksi dengan dialog dan pop-up. Tombol-tombol tersebut bisa digunakan untuk keluar dari pop-up atau dialog. Perlu diketahui kemampuan ini belum tentu ada di semua website. Ada beberapa tipe pop-up atau dialog yang mengharuskan menggunakan mouse untuk keluar.

Struktur Heading

Struktur heading yang jelas dan konsisten juga menjadi perhatian utama LinkedIn. Sebagai contoh, setiap postingan di halaman perusahaan dilengkapi dengan judul yang berfungsi sebagai penanda. Hal ini memungkinkan pengguna untuk berpindah dari satu postingan ke postingan lainnya dengan cepat, hanya dengan mencari judul yang relevan. Bagi disabilitas netra keberadaan heading yang benar sangat membantu mempercepat navigasi. Screen reader memiliki pintasan khusus untuk berpindah antar heading. Pintasan ini hanya akan berjalan bila heading diatur dengan benar. Maksudnya tidak sekadar membuat tulisan seperti heading secara visual tanpa tag yang benar.

Seluruh Tombol Memiliki Label

Keyboard navigation dan struktur heading adalah fitur aksesibilitas linkedin di desktop. Bagaimana di aplikasi mobile? Hasilnya sama baiknya. Seluruh tombol yang ada di aplikasi linkedin telah dilengkapi label. Label adalah tulisan yang menunjukkan fungsi suatu tombol misal tombol berbentuk jempol artinya suka atau like sehingga disabilitas netra bisa memahami fungsi setiap tombol. Tulisan ini bisa terlihat secara visual maupun tersembunyi yang hanya bisa terbaca oleh screen reader. Fitur ini sangat krusial, mengingat kesalahan dalam memilih tombol dapat berdampak signifikan pada pengguna. Seandainya tidak ada label disabilitas netra bisa jadi yang berniat memberi suka pada suatu postingan tidak sengaja malah menekan tombol laporkan.

Tips Maksimalkan Aksesibilitas Linkedin

Dari sisi pengguna ada beberapa tips memaksimalkan aksesibilitas linkedin agar postingan di linkedin-mu aksesibel.

  1. Atur warna dan kontras: Untuk memastikan teks dapat terbaca dengan jelas, perhatikan baik-baik pengaturan warna dan kontras. Kontras merujuk perbedaan kecerahan atau warna antara teks dan latar belakang. Sebagai panduan umum, gunakan rasio kontras minimal 4.5:1 untuk teks berukuran standar. Untuk teks yang lebih besar, batas rasio minimal lebih rendah yaitu 3:1. Selain itu, penting untuk memilih kombinasi warna yang mudah dibedakan oleh mata. Hindari penggunaan warna yang serupa. Warna yang serupa dapat menyebabkan teks menjadi kabur atau sulit terbaca.
  2. Beri alt teks dan caption atau transkrip: Di awal artikel ini telah banyak disinggung masalah pentingnya alt teks. Selain alt teks, peranan caption tidak kalah krusial. Caption bermanfaat untuk membantu teman tuli memahami isi konten video. Adanya caption atau transkrip juga terkadang dimanfaatkan oleh orang biasa ketika kebingungan memahami apa yang diucapkan dalam video. Hal ini dapat disebabkan perbedaan bahasa atau saat berada di situasi ramai sehingga suara video sulit terdengar.
  3. Gunakan bahasa yang jelas: Belum tentu pembaca postinganmu berasal dari latar belakang atau minat yang sama denganmu. Usahakan hindari penggunaan istilah teknis tanpa penjelasan.
  4. Pastikan tulisan mudah terbaca: Untuk meningkatkan kenyamanan pembaca saat menyimak postingan berupa tulisan panjang disarankan membagi teks menjadi paragraf-paragraf pendek kalimat-kalimat sederhana dan ringkas untuk memudahkan pemahaman. Bila kontenmu memiliki daftar poin untuk masing-masing poin sebaiknya ditempatkan dalam paragraf terpisah agar lebih mudah diidentifikasi oleh pembaca.

Penting mengimplementasikan fitur-fitur aksesibilitas linkedin yang telah tersedia.

Pelatihan Aksesibilitas Media Sosial Bagi Perusahaan dan Organisasi

Bila masih belum paham Suarise siap membantu melalui layanan pelatihan aksesibilitas media sosial. Pelatihan ini akan mengajarkan cara membuat postingan di linkedin atau media sosial lainnya agar bisa diakses semua orang termasuk disabilitas netra.

Selain media sosial, layanan ini juga akan menjelaskan cara-cara membuat dokumen word, presentasi, dan excel yang aksesibel. Dapatkan informasi lebih lanjut mengenai layanan pelatihan aksesibilitas digital dari mulai dokumen, media sosial, hingga teknis bagi pengembang dengan menghubungi email project@suarise.com  dan juga untuk layanan aksesibilitas lainnya.

tampilan beranda situs cek DPT online KPU

Jelang Pilkada, Pentingnya Aksesibilitas Situs Cek DPT

1920 1080 Iin Kurniati

Aksesibilitas situs cek DPT menjadi kunci utama bagi disabilitas dalam memastikan partisipasi mereka dalam Pilkada 2024. KPU (Komisi Pemilihan Umum) menyediakan fasilitas pengecekan DPT (Daftar Pemilih Tetap) secara daring sebagai upaya untuk meningkatkan partisipasi masyarakat. Fitur ini memungkinkan seluruh warga negara termasuk penyandang disabilitas secara mandiri memastikan bahwa namanya telah terdaftar sebagai pemilih.

Meskipun saat tulisan ini dibuat pada 2 September 2024 DPT belum final, justru ini momen yang tepat untuk melakukan pengecekan. Hal ini sebagai antisipasi pemilih untuk segera mengambil tindakan jika menemukan ketidaksesuaian data.

Mengapa Aksesibilitas situs Cek DPT Penting

Aksesibilitas situs cek DPT merupakan hal yang krusial. Merujuk pemberitaan Tempo.co, berdasarkan data Survei Forum Masyarakat Pemantau untuk Indonesia Inklusif Disabilitas (Formasi Disabilitas), menemukan fakta bahwa 19,4% disabilitas tidak mengetahui status apakah sudah terdaftar sebagai pemilih atau belum.
Kondisi ini berpotensi mempengaruhi hak pilih. Bayangkan apabila seorang penyandang disabilitas salah mengira telah terdaftar sebagai pemilih, padahal aslinya belum terdaftar. Ketidaktahuan ini membuat difabel tersebut tidak akan melakukan tindakan lanjutan seperti melaporkan diri atau melakukan perbaikan data, akibatnya eksistensi disabilitas dalam mengisi ruang partisipasi politik pada proses Pemilihan Umum menjadi tidak terjamin.
KPU perlu melakukan sosialisasi kepada disabilitas mengenai layanan situs cek DPT. KPU dapat mengajarkan cara memeriksa DPT dan menjelaskan tindakan yang bisa dilakukan apabila tidak terdaftar. Namun, Sebelum melakukan sosialisasi KPU perlu memahami bagaimana cara tunanetra dalam menjelajahi suatu situs mulai dari mencari sampai membaca data.

Baca:

Aksesibilitas Digital Penting: Apakah Hanya Untuk Disabilitas?

Cara Cek DPT

  1. Pertama, buka tautan cekdptonline.kpu.go.id
  2. Kedua, masukan NIK (Nomor Induk Kependudukan) yang bisa dilihat pada KTP (Kartu Tanda Penduduk), klik langkah 2/4
  3. Ketiga, masukan nomor whatsapp, klik langkah 3/4
  4. Keempat, pengguna akan memperoleh chat dari KPU ke nomor whatsapp yang telah diinput sebelumnya berisi OTP. Masukan OTP tersebut, klik konfirmasiTerakhir
  5. Selesai, lihat hasil pencarian!

Cara Tunanetra Mencari Data di Situs Cek DPT

Cara tunanetra mencari data di situs cek dpt dilakukan dengan cara yang sama seperti orang awas. Tunanetra akan mengetik setiap isian formulir meliputi NIK, nomor whatsapp, dan OTP.

 

Kemudian, tunanetra menjelajahi suatu situs di komputer dengan mengandalkan tombol tab dan panah di keyboard. Tombol tab berfungsi berpindah antar elemen interaktif seperti link, tombol, dan formulir secara berurutan. Dalam kasus situs cek dpt, bila saat ini kursor ada di “langkah 2/4”, maka ketika menekan tombol tab sekali kursor akan berpindah ke elemen interaktif berikutnya yaitu “WA chatbot KPU”.

Tunanetra tidak menggunakan mouse, karena tunanetra kesulitan mengarahkan mouse untuk menggerakkan kursor. Sementara itu, untuk menjelajahi setiap elemen melalui smartphone tunanetra menggunakan gestur mengusap layar.

Tunanetra dapat mengetahui tulisan tersebut berkat screen reader. Screen reader akan membacakan semua isi layar, tetapi  kecuali item berbentuk visual. Namun, kemampuan membaca screen reader sangat dipengaruhi oleh aksesibilitas suatu website atau aplikasi. Website atau aplikasi yang dirancang tidak aksesibel tidak akan terbaca optimal oleh screen reader.

Apakah Dapat Membaca Hasil Pencarian?

Hasil pencarian data di situs cek DPT dapat terbaca oleh screen reader. Untuk membaca isi menggunakan tombol panah, sehingga tunanetra dapat mengetahui apakah namanya sudah masuk ke DPT atau belum secara mandiri.

Masalah Aksesibilitas Situs Cek DPT

Situs cek DPT memiliki sejumlah masalah aksesibilitas. Telah disinggung sebelumnya bahwa website atau aplikasi yang dirancang tidak sesuai standar aksesibilitas menjadi penyebab munculnya masalah tersebut. Adapun masalah aksesibilitas yang kami temukan pada situs cek DPT diantaranya masalah pada formulir, navigasi, dan heading.

Masalah Aksesibilitas pada Formulir

Saat berada di field NIK, screen reader hanya membaca field tersebut “edit blank”. Deskripsi itu membingungkan tunanetra. Tunanetra tidak tahu apa yang harus diisi di field tersebut.

Untuk mengetahui fungsi field tersebut, pengguna harus mengarahkan kursor menggunakan panah bawah sampai menemukan tulisan “Keterangan: Silahkan ketik Nomor Induk Kependudukan (NIK)”. Cara ini memang sudah menyelesaikan masalah. Tunanetra tahu maksud edit blank adalah field mengisi NIK. Namun, cara ini tidak praktis. tunanetra harus mengulangi cara yang sama untuk semua field.

Solusi Agar Formulir Aksesibel

Solusi agar formulir aksesibel adalah dengan menambahkan atribut title pada setiap field dalam formulir. Atribut title berisi penjelasan yang akan dibaca oleh screen reader. Tulisan “Keterangan : Silahkan ketik Nomor Induk Kependudukan (NIK).” dapat ditambahkan pada field mengisi NIK tadi.
Konsep atribut title mirip dengan alt teks pada gambar. Atribut title tidak terlihat secara visual. Atribut ini hanya terbaca screen reader. Menambahkan atribut title dengan teks yang jelas dan deskriptif membantu pengguna mudah memahami tujuan dari setiap field tanpa memindahkan kursor menggunakan panah bawah sehingga proses pengisian formulir lebih cepat.

Baca:

Alt Teks: Aksesibilitas Media Sosial untuk Pengguna Tunanetra

Beberapa Tombol Terlewat Saat Navigasi

Beberapa tombol terlewat saat navigasi dengan tombol tab. Saat menekan tombol tab kursor langsung mengarah ke field form mengisi NIK. Padahal dibagian atas situs cek dpt online terdapat tombol memilih bahasa tampilan Inggris atau Indonesia dan tombol pop-up sekilas info.
Masalah ini mempengaruhi pengalaman pengguna terutama bagi tunanetra yang baru pertama kali mengunjungi situs. Mereka jadi tidak mengetahui bahwa di situs cek dpt online mempunyai fitur mengganti bahasa tampilan antara Inggris atau Indonesia dan tombol pop-up sekilas info.

Walaupun kemungkinan besar pengguna tidak akan mengotak-atik tombol-tombol tersebut, hal ini tetap tidak sesuai dengan standar aksesibilitas website.

Tidak Adanya Heading

Tidak adanya heading menjadi masalah aksesibilitas ketiga yang ada di situs cek dpt online. Setiap halaman pada suatu situs web seharusnya dilengkapi dengan struktur heading yang benar dan konsisten. Dalam konteks situs cek DPT online, tulisan “Daftar Pemilih Sementara Pilkada 2024” idealnya ditempatkan sebagai heading 1.

Kesalahan umum yang sering ditemui adalah membuat tampilan tulisan terlihat seperti heading secara visual semata tanpa menggunakan tag heading yang semestinya. Masalah tersebut bukanlah masalah bagi orang awas. Orang awas tetap dapat mengidentifikasi tulisan “Daftar Pemilih Sementara Pilkada 2024” sebagai judul halaman.

Namun, tidak untuk tunanetra. Tunanetra tidak akan dapat mengenali tulisan tersebut sebagai heading. Hal ini disebabkan screen reader hanya mampu menafsirkan elemen heading yang telah ditandai dengan tag HTML yang sesuai. Screen reader menganggap tulisan tersebut hanyalah tulisan biasa. Fungsi tag heading yang benar tidak hanya untuk tunanetra, tetapi juga mendukung SEO.

Ikuti WCAG Untuk Atasi Masalah Aksesibilitas Situs Cek DPT

Meski terdapat beberapa masalah, Secara umum aksesibilitas situs cek DPT KPU bisa diakses tunanetra. Tunanetra dapat mengisi formulir isian NIK, nomor whatsapp, dan OTP.

Aksesibilitas yang memadai akan memungkinkan partisipasi aktif seluruh warga negara dalam proses demokrasi. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan aksesibilitas situs cek DPT agar seluruh warga negara memperoleh kemudahan mengakses informasi mengenai status kependudukannya sebagai pemilih.
Selanjutnya KPU dapat memperbaiki masalah aksesibilitas supaya pengalaman tunanetra dalam mengakses situs cek DPT menjadi setara dengan orang awas. Perlu ditekankan setara bukan berarti sama persis. Untuk memperbaiki situs dapat mengacu pedoman WCAG yang telah menjadi standar internasional aksesibilitas website. Sebelum melakukan perbaikan, perlu adanya audit untuk mencatat isu-isu aksesibilitas yang ada di dalam situs cek DPT.

Suarise sebagai usaha sosial yang bergerak dalam bidang aksesibilitas digital menyediakan layanan konsultasi, audit, dan pelatihan aksesibilitas bagi perusahaan. Suarise siap berkolaborasi untuk membantu perusahaan menemukan sekaligus rekomendasi cara perbaikan isu aksesibilitas yang ada di situsnya. Hubungi project@suarise.com untuk lebih lanjut layanan konsultasi, audit, dan pelatihan aksesibilitas.

tampilan website seleksi calon ASN tahun 2024

Review Aksesibilitas Situs CPNS 2024

1573 729 Iin Kurniati

Menjadi PNS masih menjadi pekerjaan impian sebagian besar warga negara Indonesia. Pada tahun 2023 pendaftar CPNS mencapai 1.263.184. Dari jumlah tersebut, terdapat pendaftar dari kalangan tunanetra. Ada beberapa alasan mengapa pekerjaan ini masih diminati diantaranya kepastian gaji setiap bulan, minimnya potensi pemutusan hubungan kerja, dan jaminan hari tua. Proses seleksi PNS dilakukan melalui berbagai tahap yaitu seleksi administrasi, tkd, tkb, dan interview. Seluruh tahapan tersebut dilakukan melalui situs Sistem Seleksi Calon Aparatur Sipil Negara (SSCASN). 

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, pekerjaan PNS juga diminati tunanetra. Proses seleksi tunanetra juga melalui situs SSCASN. Sebelum mendaftar tentu tunanetra harus mengetahui jabatan apa yang sedang dibuka. Sejauh mana aksesibilitas pencarian formasi CPNS dalam situs SSCASN?

Aksesibilitas Pencarian Formasi CPNS Penting

Bagi tunanetra aksesibilitas pencarian formasi CPNS penting agar bisa mendaftar secara mandiri. Hal ini mengingat tunanetra bisa mengakses smartphone ataupun desktop tanpa bantuan orang lain. Untuk mengakses situs maupun mengoperasikan hal lain di smartphone dan desktop tunanetra memakai perangkat lunak bernama screen reader. Screen reader akan membacakan tulisan yang ada di layar. Contoh ketika kursor berada di ikon google chrome, screen reader akan mengucapkan “google chrome”.

Baca:

5 Hal yang Perlu Diketahui Tentang Cara Tunanetra Mengakses Internet

Menjelajahi Isi Aksesibilitas pencarian formasi CPNS

Menjelajahi di Smartphone

Cara tunanetra menjelajahi situs di smartphone adalah dengan mengusap layar menggunakan satu jari ke kanan dan kiri. Usap satu kali ke kanan akan berpindah ke satu elemen berikutnya, sedangkan usap satu kali ke kiri akan sebaliknya yaitu berpindah ke satu elemen sebelumnya. Contohnya saat berada di tautan “masuk”, apabila mengusap satu kali ke kanan maka akan berpindah ke tulisan “Sistem Seleksi Calon ASN 2024”. Sementara itu, jika mengusap satu kali ke kiri akan berpindah ke tautan “buat akun”. Situs SSCASN (Sistem Seleksi Calon Aparatur Sipil Negara) dapat dijelajahi dengan lancar. Screen reader dapat membacakan seluruh informasi di dalamnya.

Bagaimana di Desktop?

Bagaimana cara tunanetra menjelajahi situs SSCANS di desktop? Untuk menjelajahi situs di desktop dilakukan dengan tombol tab dan panah.

Saat pertama kali membuka suatu situs maka tombol tab akan menjadi tombol pertama yang digunakan. Tombol ini berfungsi untuk menjelajahi elemen interaktif seperti tautan dan tombol. Untuk berpindah ke elemen interaktif selanjutnya dilakukan dengan menekan tombol tab, untuk berpindah ke elemen interaktif sebelumnya menggunakan tombol shift + tab. Contoh ketika berada di tautan “masuk” jika menekan tombol tab sekali akan langsung berpindah ke tautan “mulai sekarang”. Jika menekan shift + tombol tab akan berpindah ke tautan “buat akun”. Sebuah situs web yang dirancang dengan baik seharusnya memungkinkan pengguna untuk menavigasi antar elemen interaktif halaman secara efisien menggunakan tombol tab. Efisien di sini maksudnya pengguna dapat berpindah antar elemen interaktif secara berurutan. Terkadang ada situs yang mengunci tab (kursor tidak bergerak meskipun tombol tab telah ditekan). Untungnya masalah mengunci tombol tab tidak ditemukan di situs SSCASN. 

Lalu, tombol panah untuk apa? Tombol panah digunakan untuk navigasi isi situs berbentuk tulisan seperti artikel. Sehubungan di halaman SSCASN tidak ada artikel tombol panah tidak digunakan.

Pintasan Istimewa Screen Reader di Desktop

Selain dua metode tersebut, pembaca layar (screen reader) menyediakan pintasan navigasi khusus yang memungkinkan pengguna menjelajahi konten dengan efisien. Pengguna dapat melompat antara judul (heading), tautan (link), dan elemen navigasi lainnya hanya dengan satu tombol. Untuk berpindah antar judul, pengguna dapat menekan tombol ‘h’. Sementara itu, untuk berpindah antar tautan, tombol ‘k’ dapat digunakan. Perlu diperhatikan bahwa pintasan-pintasan ini hanya berfungsi ketika pembaca layar dalam keadaan aktif. Selain itu, keberhasilan penggunaan pintasan ini sangat bergantung pada struktur kode (coding) situs web yang telah diatur dengan benar.

Sebagai contoh, teks ‘Sistem Seleksi Calon ASN 2024’ dapat berfungsi sebagai sebuah judul (heading). Namun, jika judul tersebut hanya diberi format visual tanpa disertai dengan tag heading yang sesuai dalam kode HTML, maka pintasan navigasi tidak akan berfungsi sebagaimana mestinya. Agar pintasan dapat bekerja secara efektif, judul harus ditandai dengan elemen heading yang tepat (misalnya, <h1>, <h2>, dan seterusnya) dalam struktur kode HTML. Situs SSCASN sendiri telah mengatur fungsi heading dan tautan dengan benar. Jadi, pengguna pembaca layar dapat bernavigasi di situs dengan cepat dengan pintasan tadi.

Masalah saat Menjelajahi Situs

Meskipun screen reader telah berhasil menyampaikan seluruh konten situs SSCASN secara komprehensif, kami mengidentifikasi adanya kendala minor yang perlu diperhatikan. Pada bagian yang menyajikan informasi terkait akun media sosial Badan Kepegawaian Negara (BKN), screen reader belum optimal dalam memberikan deskripsi. Screen reader hanya membacakan username akun tanpa mencantumkan platform media sosial yang bersangkutan. Sebagai ilustrasi, pada akun media sosial terakhir, screen reader hanya menginformasikan “bkngoidofficial” tanpa menyebutkan bahwa akun tersebut merupakan profil di platform Instagram. Kondisi ini mengharuskan pengguna screen reader untuk membuka tautan secara manual guna mengidentifikasi platform media sosial yang dituju.

Selanjutnya Mari Mencari Formasi

tampilan website situs web daftar formasi Kementerian Keuangan untuk Sarjana Ilmu Komunikasi

Tampilan situs web sscasn menampilkan daftar formasi dari unit terkait

Proses pencarian formasi CPNS melalui perangkat seluler maupun komputer desktop sudah aksesibel dengan screen reader. Saat pertama kali membuka situs, sistem tidak langsung menampilkan seluruh formasi yang tersedia. Pengguna diharuskan mengisi filter memasukkan jenjang pendidikan dan program studi. Apabila menginginkan hasil yang lebih spesifik, pengguna dapat mengisi instansi tujuan yang diinginkan.

Mekanisme filter berbentuk combobox modern. Modern yang penulis maksud combobox tidak sekadar berisi opsi jawaban, melainkan ada editbox yang berfungsi untuk input teks. Fitur ini dapat mempercepat pencarian. Pengguna dapat mencari opsi yang diinginkan tanpa harus membaca seluruh opsi jawaban secara manual. Sebagai contoh, jika pengguna ingin mencari formasi untuk program studi Ilmu Komunikasi, ia cukup mengetikkan kata kunci tersebut pada kotak edit. Sistem akan menyajikan opsi yang mengandung kata kunci ilmu komunikasi.

Baik pada perangkat smartphone maupun desktop, screen reader mampu membacakan seluruh isi opsi jawaban yang tersedia. Untuk memilih opsi yang diinginkan dapat dilakukan dengan cara menekan tombol enter pada perangkat desktop dan double tap pada perangkat smartphone. Fungsionalitas editbox pun berjalan dengan lancar dalam artian tunanetra bisa input mengetik di editbox tersebut. Hal ini adalah sesuatu yang patut diapresiasi. Perlu diperhatikan bahwa meskipun beberapa situs menyediakan editbox, namun tidak semua editbox tersebut dapat diakses oleh screen reader.

Masalah pada Aksesibilitas Pencarian Formasi CPNS

Meski screen reader dapat membacakan isi opsi jawaban dalam combobox, kami menemukan  masalah kecil pada fitur pencarian formasi ini. Screen reader belum memberikan konfirmasi ketika pengguna telah memilih suatu opsi. Sebagai contoh, saat pengguna memilih Ilmu Komunikasi sebagai program studi, screen reader tidak memberikan umpan balik suara yang mengindikasikan bahwa pilihan tersebut telah tersimpan. Hal ini berpotensi menimbulkan keraguan pada pengguna tunanetra apakah opsi jawaban yang dipilih statusnya  telah terpilih atau belum.

Membaca Hasil Pencarian CPNS

Setelah pengguna mengisi filter pencarian, sistem akan menampilkan hasil formasi CPNS sesuai dengan preferensi yang telah dipilih. Hasil pencarian tersebut disajikan dalam format tabel yang terstruktur. Elemen-elemen tabel telah diimplementasikan sesuai dengan standar tag HTML. Tag yang benar ini membantu  pengguna screen reader terutama di desktop.

Selain memiliki pintasan antar heading, screen reader juga menyediakan pintasan khusus untuk menjelajahi isi tabel secara efisien. Dengan kombinasi tombol Ctrl+Alt+panah, pengguna dapat berpindah antar sel tabel dengan cepat. Misalnya, pengguna dapat langsung berpindah dari sel pada baris pertama kolom pertama ke sel pada baris kedua kolom pertama tanpa perlu membaca sel-sel di antara keduanya. Perlu diperhatikan bahwa fitur navigasi tabel secara cepat ini hanya berfungsi pada perangkat desktop.

 Pada perangkat seluler, pengguna masih perlu membaca tabel secara berurutan, dimulai dari sel pada baris pertama kolom pertama, kemudian berlanjut ke sel pada baris pertama kolom kedua, dan seterusnya hingga mencapai sel terakhir pada baris tersebut. Setelah itu, navigasi baru berpindah ke baris berikutnya. Oleh karena itu, kami menyarankan pengguna screen reader untuk melakukan pencarian formasi CPNS melalui perangkat desktop agar lebih cepat.

Membaca Detail Formasi Jabatan

Setelah menemukan formasi jabatan yang sesuai dengan minat dan kualifikasi, pengguna dapat mengakses informasi lebih lanjut dengan mengklik tombol “Lihat Detail” yang tersedia pada kolom terakhir. Halaman detail formasi ini menyajikan informasi yang komprehensif, meliputi kualifikasi pendidikan, uraian tugas jabatan, skills, serta persyaratan administrasi yang harus dipenuhi. Setiap poin informasi penting tersebut disajikan dengan heading yang jelas, sehingga memudahkan menavigasi untuk menemukan informasi yang relevan sesuai dengan kebutuhannya.Misalnya, pengguna yang hanya ingin mengetahui persyaratan administrasi dapat langsung menuju bagian yang bersangkutan tanpa perlu membaca bagian-bagian sebelumnya.

Baca:

Aksesibilitas Tabungan Emas di Pegadaian Luring vs Pegadaian Daring

Jadi, Bagaimana Aksesibilitas pencarian formasi CPNS

Secara umum aksesibilitas pencarian formasi CPNS sudah baik dan telah menunjukkan peningkatan. Saat pertama kali pendaftaran CPNS 2024 dibuka pada 20 Agustus terdapat kendala signifikan pada fitur-fitur pencarian. Saat itu screen reader di smartphone tidak bisa membacakan opsi jawaban dengan benar, sehingga menyulitkan pengguna memilih opsi. Ditambah  editbox juga tidak dapat berfungsi.

Menariknya, ketika dilakukan pengecekan ulang pada tanggal 24 Agustus menggunakan perangkat yang sama, masalah pada fitur filter di smartphone telah berhasil diatasi. Hal ini mengindikasikan bahwa pengembang situs telah responsif terhadap isu aksesibilitas dan berupaya untuk memberikan pengalaman pengguna yang lebih baik bagi penyandang disabilitas.

Meskipun demikian, perlu ditekankan bahwa adanya perbaikan pada fitur tertentu tidak serta-merta menjadikan situs ini sepenuhnya bebas dari kendala aksesibilitas. Evaluasi secara berkala dan komprehensif perlu dilakukan untuk memastikan bahwa situs ini terus memenuhi standar aksesibilitas yang berlaku. 

Suarise memahami urgensi evaluasi aksesibilitas pencarian Formasi CPNS atau formasi pegawai. Guna memenuhi kebutuhan sejenis dalam perekrutan pegawai bagi organisasi ataupun perusahaan Anda, Suarise menyediakan layanan audit aksesibilitas. Layanan ini bertujuan membantu perusahaan menemukan apa saja yang sudah sesuai kaidah aksesibilitas dan mana yang belum sesuai. Hubungi Project Manager Suarise untuk info lebih lanjut.

 

 

*Artikel ini disusun oleh talents Suarise, Bayu Aji Firmansyah

 

Kontak Suarise:

Iin Kurniati

Public and Government Relations Suarise

Email: iin.kurniati@suarise.id

Website: http://suarise.com

tangan seseorang memegang smartphone. Di layar hp-nya ada tampilan registrasi aplikasi jkn mobile

Menuju Aksesibilitas Digital melalui Inklusi Sosial bagi Disabilitas

2560 1920 Iin Kurniati

Di era digital saat ini, sejumlah layanan digital pemerintah telah tersedia secara online dalam bentuk website maupun aplikasi mobile. Keberadaan layanan digital ini menjadikan pelayanan pemerintah lebih inklusif sehingga memudahkan masyarakat dalam mengakses informasi dan melakukan berbagai transaksi tanpa harus datang langsung ke kantor. Layanan-layanan tersebut diantaranya mencakup pengurusan dokumen kependudukan, pembayaran pajak, pendaftaran BPJS Kesehatan, dan lain sebagainya. Melalui adanya platform digital ini, proses administrasi diharapkan menjadi lebih cepat, efisien, dan transparan.

Namun, layanan digital pemerintah yang tersedia tidak sepenuhnya aksesibel bagi semua kalangan, misalnya tidak mudah diakses oleh disabilitas. Belum terdapatnya aksesibilitas digital pada layanan pemerintah tidak hanya disebabkan oleh faktor teknis, tetapi juga dipengaruhi faktor lain, salah satunya inklusi sosial. Temukan penjelasan lebih lanjut tentang inklusi sosial dan kaitannya dengan disabilitas dalam artikel ini!

Baca juga: Be My Eyes: Aplikasi untuk Meminjamkan Mata kepada Tunanetra

Inklusi Sosial dan Hubungan dengan Disabilitas

Inklusi sosial berkaitan erat dengan disabilitas karena disabilitas merupakan salah satu objek dalam inklusi sosial. Menurut laman Bank Dunia, inklusi sosial merupakan proses peningkatan peran individu untuk dapat berpartisipasi dalam masyarakat, termasuk peningkatan kemampuan, kesempatan, dan martabat.  

Pada setiap tempat, beberapa kelompok yang dibedakan berdasarkan gender, usia, lokasi, pekerjaan, ras, etnis, agama, status kewarganegaraan, disabilitas, dan orientasi seksual menghadapi  berbagai hambatan. Sejumlah hambatan ini menghalangi mereka untuk berpartisipasi secara penuh maupun sebagian dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik. Apabila tidak diatasi, hambatan itu akan merugikan kelompok-kelompok tersebut, seperti kesulitan mengakses layanan pemerintah, kesulitan memperoleh pendidikan yang layak, kesulitan dalam menerima informasi, dan lain sebagainya. Tulisan ini fokus membahas hambatan yang dialami oleh teman-teman disabilitas. 

Faktor Penghambat Inklusi Sosial Disabilitas

tampilan layar presentasi narasumber dalam laman zoom, image text: pendekatan regulasi terhadap aksesibilitas digital

Mahali, peneliti dan ahli aksesibilitas Universitas Brawijaya memaparkan pentingnya disability awareness di mata publik, disampaikan pada Diskusi Panel Perayaan GAAD Suarise 2024 (doc. Suarise)

Peneliti dan Ahli Aksesibilitas, Subdirektorat Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya dan AIDRAN, Mahalli, dalam acara Diskusi Panel Suarise bertajuk “Jalur Menuju Inklusi Digital: Pendekatan Regulasi terhadap Aksesibilitas” menjelaskan bahwa sebelum membicarakan faktor teknis aksesibilitas digital, penting untuk mewujudkan inklusi sosial terlebih dahulu. Sehingga ketika disability awareness atau kesadaran soal disabilitas pada lingkungan masyarakat tinggi, maka masyarakat baru bisa dikenalkan dengan pedoman aksesibilitas digital. 

Namun, lanjut Mahalli, inklusi sosial di Indonesia belum terlaksana secara ideal. “Kalau di Indonesia keterlibatan disabilitas itu masih kurang di berbagai sektor. Kehidupan sosial kita belum terbuka dengan disabilitas, banyak orang yang masih belum paham dengan kebutuhan disabilitas.” tegas Mahalli. Dari segi penyandang disabilitas, Mahalli juga menyoroti pentingnya disabilitas memahami literasi seputar cara penggunaan teknologi bantu dan aksesibilitas digital untuk mengakses berbagai aplikasi atau website.

Beberapa faktor mengapa inklusi sosial di Indonesia belum berjalan diantaranya disebabkan masyarakat tidak pernah bertemu disabilitas secara langsung, kentalnya stigma, dan asumsi pribadi soal disabilitas.

Tidak Pernah Bertemu Disabilitas Secara Langsung

Faktor pertama adalah mayoritas masyarakat belum pernah bertemu atau berinteraksi dengan disabilitas secara langsung. Beberapa orang pernah bertemu, tetapi untuk keperluan pemberian bantuan untuk disabilitas ataupun program tanggung jawab sosial suatu perusahaan. Kurangnya interaksi ini mengakibatkan sering kali masyarakat merasa heran dan kagum berlebihan saat melihat seorang disabilitas dapat melakukan aktivitas sehari-hari. 

Contohnya saat Putri Ariani, seorang disabilitas netra, salah satu pemenang ajang pencarian bakat menyanyi di Amerika menunjukkan dirinya bisa menggunakan instagram. Masyarakat menganggap kemampuan Putri menggunakan media sosial merupakan sesuatu yang luar biasa. Padahal tunanetra lazim dapat mengoperasikan ponsel pribadinya selama mereka menggunakan pembaca layar atau fitur asistif teknologi lainnya.

Stigma dan Asumsi

Faktor berikutnya adalah kesalahan asumsi dan stigma negatif terhadap disabilitas. Faktor kedua ini berhubungan dengan faktor sebelumnya. Seseorang yang tidak pernah bertemu dengan disabilitas umumnya berasumsi bahwa penyandang disabilitas tidak mampu hidup mandiri dan selalu membutuhkan bantuan orang lain. Hal ini menimbulkan persepsi bahwa keberadaan disabilitas menjadi beban bagi keluarga dan lingkungan. 

Stigma dan asumsi tersebut juga dipengaruhi oleh representasi disabilitas dalam pemberitaan-pemberitaan pada media nasional. Mayoritas pemberitaan menggambarkan disabilitas sebagai pihak yang pasif. Media juga kerap menekankan bahwa disabilitas merupakan pihak yang rentan dan lemah. Stigma negatif lain yang muncul yakni penyandang disabilitas tidak cerdas dan tidak memiliki kemampuan untuk belajar dan bekerja. Tak jarang penyandang disabilitas sering kali ditolak saat akan mendaftar sekolah maupun perguruan tinggi, tidak mendapat kesempatan kerja yang setara, hingga adanya pembatasan ruang untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial.

Apa Dampak Kurangnya Inklusi Sosial terhadap Disabilitas?

Dampak langsung yang dirasakan disabilitas dari kurangnya inklusi sosial adalah beberapa layanan yang ditujukan untuk mereka dibuat tidak mengakomodasi kebutuhan disabilitas. Beberapa layanan dikembangkan berdasarkan asumsi pribadi tanpa melibatkan disabilitas. Misalnya muncul asumsi bahwa disabilitas memerlukan fitur khusus pada website. 

Saat tulisan ini diterbitkan terdapat sejumlah website dari pemerintah yang menerapkan fitur khusus tersebut. Salah satu website yang memiliki fitur khusus ini adalah website Kementerian Komunikasi via kominfo.go.id. Pada website tersebut ditemukan widget atau overlay aksesibilitas. 

Dalam overlay atau widget ini berisi berbagai pengaturan diantaranya seperti memperbesar font, mengatur kontras warna, dan mengaktifkan pembaca layar. Overlay tersebut juga mengklasifikasikan berbagai pengaturan yang ada menjadi delapan yaitu pengaturan untuk:

  1. gangguan motorik
  2. netra total
  3. buta warna
  4. disleksia
  5. gangguan penglihatan
  6. kognitif dan pembelajaran
  7. kejang dan epilepsi
  8. ADHD.

Apakah Efektif?

Mahalli mengatakan langkah penambahan fitur widget atau overlay dinilai tidak efektif, bahkan malah dapat mengganggu pengguna. Menurutnya, disabilitas tidak pernah menggunakan fitur tersebut sebagai contoh ketika mengaktifkan pilihan netra total, fitur otomatis akan mengaktifkan suara. Padahal disabilitas netra tidak membutuhkan fitur suara karena mereka sudah dapat bernavigasi menggunakan fitur pembaca layar bawaan dari perangkat elektronik seperti laptop atau smartphone masing-masing. Keberadaan fitur aktifkan suara justru dapat membuat bingung, sebab suara dari website akan bertabrakan dengan suara pembaca layar dari perangkat elektronik. 

Contoh lain ketidakefektifan fitur website yang disampaikan Mahalli yakni penggunaan widget untuk disleksia. Saat fitur diaktifkan, widget ini justru akan mengubah jenis font. Padahal dalam praktiknya penyandang disleksia tidak membutuhkan fitur ini. Dalam menggunakan website, disleksia cukup mengatur ukuran spasi tanpa mengubah jenis font.

Baca juga: Cara Mengaktifkan Screen Reader Pada iPhone & iPad

Cara Menciptakan Inklusi Sosial untuk Disabilitas dalam ranah Aksesibilitas Digital

Cara untuk menciptakan inklusi sosial dalam ranah aksesibilitas digital yakni melibatkan disabilitas secara langsung menjadi penguji (disability user testing) saat akan membuat suatu produk digital, seperti website atau aplikasi. Disability user testing merupakan salah satu tahap penting untuk mengetahui apakah suatu produk digital mudah digunakan oleh pengguna disabilitas.

Dalam metode pengujian produk digital, para pengembang aplikasi atau website akan memilih pengguna dari berbagai kalangan untuk mencoba lalu mengidentifikasi pengalaman mereka mengakses produk. Dalam disability user testing, pengguna disabilitas akan mengidentifikasi dan memberikan umpan balik atas masalah aksesibilitas yang ditemukan maupun kemungkinan masalah aksesibilitas yang akan terjadi. 

Kegiatan tersebut bermanfaat untuk mengetahui secara langsung bagaimana pengalaman pengguna sehingga pengembang dapat memperbaiki aplikasi atau website sebelum dirilis untuk umum. Di Indonesia, disability user testing belum terlaksana dengan optimal karena minimnya pengetahuan mengenai hal tersebut.

Disabilitas di Indonesia sebenarnya telah berupaya menginformasikan ke pengembang aplikasi apabila menemukan aplikasi atau website yang tidak aksesibel melalui review di youtube. Cara lain adalah melalui forum atau diskusi akademik seperti yang penulis lakukan bersama Suarise saat menguji aplikasi Peduli Lindungi. Pengujian tersebut menghasilkan temuan beberapa tombol di aplikasi peduli lindungi tidak dapat diklik ketika pembaca layar aktif dan tombol lain tidak berlabel. Namun, menurut pandangan penulis langkah ini tidak sepenuhnya efektif. Hal tersebut dibuktikan pengembang tidak memperbaiki aplikasi atau website-nya. Tentu ini sangat berbanding jauh dari negara lain. 

Dalam acara yang sama, Zidny Ilma Nafia, Research Associate Suarise memaparkan hasil studinya mengenai inklusi sosial di sejumlah negara. Zidny mengungkapkan bahwa di India dan Perancis sudah memiliki jabatan user testing dalam pemerintahan. Beberapa negara, lanjutnya, memungkinkan disabilitas melaporkan dan menuntut pemerintah ke pengadilan ketika mereka menemukan aplikasi yang tidak aksesibel. 

Beberapa negara semisal Amerika Serikat juga menerapkan sistem denda jika pengembang tidak mengikuti pedoman aturan aksesibilitas. “Pinalti atau denda ini diberikan tergantung tingkat keparahan pelanggaran. Di India denda maksimal 95 juta rupiah, bahkan di perancis dendanya bisa mencapai 350 juta rupiah” jelas Zidny.

Pada akhirnya inklusi sosial memang perlu terbentuk terlebih dahulu agar kebijakan dan layanan yang ditujukan untuk disabilitas bisa tepat guna. Pemangku kepentingan perlu memahami aksesibilitas digital sebagai hak bagi disabilitas, bukan sesuatu yang bersifat pilihan. Apa lagi hak disabilitas untuk mengakses informasi secara mandiri telah diatur oleh undang-undang dan konferensi internasional. Masyarakat dan pemerintah perlu melibatkan disabilitas. Begitu juga dengan disabilitas harus terbuka mau menjelaskan ke masyarakat awam cara mereka mengakses teknologi digital.

 

 

*Artikel ini disusun oleh talents content writer tunanetra Suarise, Bayu Aji Firmansyah

Bila tertarik menggunakan jasa content writer talents Suarise, hubungi Project Manager Suarise pm@suarise.com

Tampilan layar zoom dalam diskusi panel Gaad 2024 dengan moderator rahma utami (kiri atas), JBI (kanan atas), pembicara Zidny (kiri bawah) dan pembicara Mahali (kanan bawah)

Urgensi Regulasi Aksesibilitas Digital dalam Membangun Lingkungan Digital yang Inklusif

1600 1000 Iin Kurniati

Jakarta, 28 Mei 2024 –  Suarise menutup rangkaian Hari Kesadaran Aksesibilitas Global (Global Accessibility Awareness Day – GAAD) Tahun 2024 dalam Diskusi Panel bertajuk Jalur Menuju Inklusi Digital: Pendekatan Regulasi terhadap Aksesibilitas. Melalui serangkaian kampanye digital Tantangan Aksesibilitas, diskusi bersama komunitas disabilitas via media sosial, dan diskusi panel, Suarise meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat khususnya pemerintah mengenai aksesibilitas digital dan urgensi regulasinya dalam membangun lingkungan digital yang inklusif.

Pendekatan Regulasi terhadap Aksesibilitas Digital

Suarise menyelenggarakan Diskusi Panel dalam GAAD 2024 untuk meningkatkan kesadaran lembaga publik mengenai kebijakan dan implementasi penerapan aksesibilitas digital. Kegiatan diikuti oleh ratusan peserta dari perwakilan kehumasan Kementerian/Lembaga, serta perwakilan dinas Kominfo di berbagai daerah di Indonesia ini menyajikan pendekatan regulasi terhadap aksesibilitas digital, termasuk komparasi regulasi aksesibilitas digital dari berbagai negara.

tampilan layar zoom keynote speaker Hasyim Gautama (kiri) bersama Juru bahasa isyarat (kanan).

Hasyim Gautama, Kominfo membuka pelaksanaan Diskusi Panel Suarise dalam Peringatan GAAD Tahun 2024, dok. Suarise

Hasyim Gautama, Direktur Tata Kelola dan Kemitraan Komunikasi Publik, Ditjen IKP Kementerian Kominfo dalam keynote speech nya memaparkan bahwa pihaknya selaku regulator telah berupaya meningkatkan kualitas layanan informasi publik yang inklusif. Saat ini Kominfo telah menyusun kebijakan dan standar operasional pedoman layanan informasi dan komunikasi berbasis digital bagi disabilitas. 

Kebijakan tersebut merujuk pedoman yang sudah ada yaitu ISO 40500 dan WCAG (Web Content Accessibility Guidelines). Penyusunan ini melibatkan kolaborasi berbagai pihak seperti Open Government Indonesia dan Suarise. Melalui keberadaan pedoman itu, Kominfo berharap dapat memenuhi hak-hak disabilitas. “Kebijakan ini tentunya (menjadi) kebijakan yang bersifat inklusif. Diharapkan dapat memenuhi hak-hak penyandang disabilitas dalam komunikasi dan memperoleh informasi” tutur Hasyim. 

Selanjutnya, pada sesi presentasi mengenai Aksesibilitas Digital di berbagai Negara, Nur Zidny Ilmanafia, research associate Suarise mengungkapkan bahwa digitalisasi di Indonesia beum efektif. Zidny menjelaskan bahwa Pemerintah Indonesia memiliki ribuan layanan digital berupa aplikasi, tetapi aplikasi tersebut hanya menjalankan satu fungsi. 

“Aplikasi-aplikasi tersebut tidak terintegrasi dan tidak sinkron satu sama lain. Kalau sudah berorientasi pada pengguna, maka masyarakat sebetulnya cukup mengakses satu portal informasi yang didalamnya bisa untuk mengakses layanan kependudukan atau kesehatan atau layanan lainnya,” jelas Zidny. 

Zidny melanjutkan berdasarkan temuan penelitian terdapat 2.000 lebih pelanggaran aksesibilitas dari sampel 34 website pemerintah provinsi di Indonesia. Isu aksesibilitas yang sering dilanggar meliputi rendahnya kontras warna, tautan kosong, dan gambar yang tidak memiliki alternatif teks. 

Sementara di negara lain, seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, telah memiliki pedoman aksesibilitas yang telah diimplementasikan sejak tahun 1990-an. Negara-negara tersebut juga melakukan audit dan evaluasi secara sistematis untuk memastikan semua website maupun aplikasi baik di sektor pemerintah maupun sektor swasta bisa diakses oleh semua, termasuk disabilitas. Apabila menemukan pelanggaran, pihak terkait akan menerima denda. Namun, kebijakan serupa belum ada di Indonesia.

Sejalan dengan presentasi Zidny, Mahalli, staf aksesibilitas Subdirektorat Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya memaparkan pentingnya menciptakan lingkungan sosial yang inklusif. Menurut Mahalli, para pemangku kepentingan perlu menghilangkan asumsi mengasihani disabilitas dan menanamkan pola pikir bahwa menyediakan aksesibilitas digital bukanlah suatu pilihan, melainkan menjadi kewajiban. “Pemangku kepentingan perlu melibatkan disabilitas dalam pengembangan aplikasi dan website,” tegasnya. 

Hal ini telah ia terapkan ketika memberi pelatihan membangun layanan yang aksesibel kepada pengelola website di tempat kerjanya. Mahalli juga berpesan kepada penyandang disabilitas untuk meningkatkan literasi terkait pengetahuan teknologi bantu seperti pembaca layar dan lain-lain untuk mengakses konten digital. Disisi lain, tambahnya, keberadaan teknologi tidak akan menghapus hal-hal yang bersifat fundamental seperti bahasa isyarat yang akan tetap dibutuhkan oleh teman tuli untuk memahami informasi.

Baca Menuju Aksesibilitas Digital melalui Inklusi Sosial bagi Disabilitas – Suarise Indonesia

Memahami Perspektif Disabilitas dalam Aksesibilitas Digital

Dalam kesempatan berbeda, Suarise menggelar rangkaian GAAD 2024 melalui diskusi bersama sejumlah komunitas disabilitas untuk lebih jauh memahami soal aksesibilitas, baik aksesibilitas fisik maupun aksesibilitas digital. Kegiatan yang diselenggarakan via Instagram LIVE bareng Suarise ini menghadirkan perwakilan komunitas SilangID dan Accessible Leisure.

Bagja Prawira, Co-Founder SilangID dalam sharing session 16 Mei lalu menuturkan bahwa teman Tuli menggunakan bahasa isyarat ketika menjalani aktivitas sehari-hari. Bagi teman tuli, bahasa isyarat telah menjadi budaya berkomunikasi. Namun, tidak semua teman Tuli hanya mengandalkan bahasa isyarat ketika berkomunikasi. Sebaliknya, ada beberapa teman Tuli yang memahami bahasa Indonesia atau sejenisnya dalam berkomunikasi.

Dalam mengakses teknologi, Bagja mengungkapkan bahwa teman Tuli yang memahami bahasa Indonesia secara umum menggunakan fitur closed caption, tetapi bagi teman Tuli yang tidak paham maka peran juru bahasa isyarat (JBI) sangat dibutuhkan. JBI berperan penting untuk mentransfer informasi dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa isyarat. “Keberadaan closed caption tetap bermanfaat bagi teman Tuli sebagai sarana belajar kosa kata baru dan struktur kalimat,” ungkap Bagja.

Disisi lain, Revin Leo, content writer tunanetra Suarise menceritakan kendalanya ketika menemukan konten gambar. Meskipun para pengembang teknologi telah menyediakan fitur alternatif teks agar tunanetra bisa menerima informasi berbentuk visual, tetapi menurutnya masih belum banyak orang yang memanfaatkan fitur tersebut secara optimal.

Padahal alternatif teks berfungsi untuk mendeskripsikan isi informasi dalam gambar. Namun, alternatif teks kerap absen dari konten-konten gambar yang diunggah pada media sosial. Dalam sharing session tersebut, Revin mengajak masyarakat memberikan alternatif teks sebelum mengupload konten ke media sosial. “Kalau postingan ada alternatif teks-nya, aku jadi langsung paham apa maksud gambarnya. Contoh postingan suarise pada acara ini ada al teks, Dalam memperingati Global Accessibility Awareness Day (GAAD) Collaborative Sharing Session with Silang ID,” tutur Revin.  

Fitur aksesibilitas lain yang dapat membantu tunanetra menurut Revin yakni keberadaan fitur audio description pada konten video. Revin mengungkapkan bahwa fitur audio description membuatnya lebih paham ketiga ada adegan non dialog (mimik wajah, tindakan aksi, dan sebagainya) saat menonton film yang tidak dijelaskan secara gamblang dalam dialog pada salah satu layanan streaming. 

Informasi yang bisa diakses oleh teman netra dan teman tuli dapat berdampak terhadap kemandirian mereka. Namun realitanya belum semua informasi yang dibutuhkan disabilitas tersedia. Salah satunya informasi mengenai aksesibilitas suatu tempat. Permasalahan ini menjadi topik bahasan lain dalam sharing session via Instagram Live Suarise bersama Accessible Leisure pada 18 Mei lalu.

Maudita Zobritania, founder Accessible Leisure menjelaskan bahwa minimnya informasi mengenai aksesibilitas fisik suatu tempat seperti akses tangga, ruang untuk kursi roda, dan akses kamar mandi menjadi tantangan disabilitas ketika akan mengadakan aktivitas bertemu secara tatap muka. Umumnya informasi yang tersedia di internet hanya terbatas pada aspek estetika tempat tersebut. 

Permasalahan ini terjadi pada sebagian besar tempat di Indonesia termasuk di wilayah Jakarta dan Bali. Akibatnya pengunjung disabilitas harus menghubungi pihak pemilik tempat secara manual untuk menanyakan apakah tempat tersebut aksesibel atau tidak sebelum berkunjung. “Seharusnya semua pemilik tempat menyediakan informasi aksesibilitas, sehingga memudahkan disabilitas dalam menentukan lokasi kegiatan. Hal lain yang bisa dilakukan penyedia layanan adalah memberi pelatihan kepada para staf tentang cara mendampingi disabilitas dari semua kalangan,” jelas Zo.

Secara teknis, Zo dan Iin Kurniati, Public Relations Suarise sepakat bahwa regulasi yang mengatur hal tersebut sudah ada, tetapi belum terlaksana secara optimal. Khusus ranah digital, Iin melihat ketiadaan pedoman aksesibilitas mengenai bagaimana cara membuat website atau aplikasi yang aksesibel menjadi kendala bagi pengembang di Indonesia. 

Suarise menjawab masalah ini tersebut dengan terlibat bersama Kementerian Kominfo dalam merancang pedoman aksesibilitas digital. Sasaran awal pedoman ini yakni kalangan Pemerintah yang kerap memberikan layanan publik. Pemerintah dituntut memiliki layanan digital terutama layanan berbentuk website yang mudah diakses disabilitas. Setelah itu, baru ke depan Pedoman ini diharapkan dapat mendorong sektor-sektor lain, termasuk sektor industri untuk menerapkan hal serupa pada organisasinya.

Pedoman aksesibilitas digital tentang bagaimana merancang website ini penting diketahui semua orang. Oleh karena itu, selain ikut terlibat dalam perancangan pedoman, Suarise turut menyosialisasikan pedoman ini kepada berbagai kalangan. Salah satu target implementasi dari Pedoman ini yakni pihak-pihak yang terlibat langsung dalam pembuatan website atau aplikasi, diantaranya para pengembang teknologi. 

Guna memberi pemahaman dan pengetahuan mendalam soal aksesibilitas Suarise baru saja menyelesaikan penyelenggaraan A11y (Accessibility) Bootcamp pertama di Indonesia. Bootcamp ini merupakan workshop intensif soal aksesibilitas digital selama tiga bulan yang dilaksanakan secara hybrid sejak Januari hingga April 2024. 

Kegiatan yang diikuti oleh sekitar 40 orang berlatar belakang UI/UX designer, UX  research  UX writer, Web and App developer dari Jabodetabek, Malang, dan Yogyakarta menjadi titik awal Pelaksanaan GAAD 2024. Kegiatan ini ditutup dengan hasil akhir berupa pengujian aksesibilitas digital dari sepuluh website berbagai sektor yang melibatkan teman-teman disabilitas. Temuan ini ke depan akan menjadi Temuan ini akan menjadi bahan advokasi kepada para pemangku kepentingan.

Kegiatan Accessibility Bootcamp didukung oleh hibah dari Information Society Innovation Fund (ISIF Asia) dan APNIC Foundation. Acara ini juga terselenggara berkat kerja sama dengan Algobash, serta media dan community partner bersama UXID Bandung, Design Rant, dan Ruang Gerak. Selain itu, khusus pada penyelenggaraan kegiatan penutup A11y Bootcamp, Kami didukung oleh Apple Developer Academy selaku venue supporting.

Tentang Penyelenggara

Suarise adalah perusahaan sosial independen yang fokus mempromosikan yang memungkinkan kesamaan akses dan kesempatan bagi orang-orang dengan gangguan penglihatan (tunanetra) di industri digital dan platform online. Sejak didirikan pada 2017, Suarise menyediakan tiga layanan utama. Pertama, memberikan pelatihan vokasi terkait teknologi digital bagi tunanetra dan low vision agar dapat bekerja secara independen maupun sebagai tenaga tetap dalam perusahaan.

Kedua, Suarise membuka konsultasi dan riset aksesibilitas digital, serta persiapan onboarding bagi perusahaan yang akan mempekerjakan disabilitas, khususnya tunanetra dan low vision. Ketiga, Suarise menyediakan jasa penulisan konten digital yang dilakukan para talents Suarise tunanetra dan low vision. Suarise juga memprakarsai a11yID, komunitas Indonesia pertama untuk orang-orang dengan latar belakang teknologi yang ingin mengeksplorasi lebih banyak tentang aksesibilitas digital.

ISIF adalah singkatan dari The Information Society Innovation Fund (ISIF Asia) ISIF ASIA adalah organisasi nirlaba yang fokus mendukung dan mempercepat penggunaan dan pengembangan internet untuk kepentingan sosial di seluruh dunia. Organisasi ini memberikan dukungan keuangan dan teknis kepada proyek-proyek inovatif yang berupaya meningkatkan akses, keamanan, privasi, dan manfaat sosial dari internet. Suarise mendapat dukungan pendanaan penuh ISIF dalam program be The A11y Project yang meliputi A11y Bootcamp, A11y Empathy Lab Pop Up Experience, A11y Design Challenge, dan Accessibility Issue Submission Challenge. 

 

Kontak Suarise: 

Iin Kurniati 

Public and Government Relations Suarise 

Email: iin.kurniati@suarise.id 

Website: http://suarise.com

Foto bersama seluruh peserta, mentor, dan trainer Accessibility Bootcamp, serta para tamu undangan, tim Suarise, dan para volunteer

Transformasi Aksesibilitas Web dalam Accessibility Bootcamp Suarise 2024

2560 1439 Iin Kurniati

BSD City, 20 April 2024 –  Suarise menutup rangkaian Kegiatan Accessibility Bootcamp Suarise 2024 dalam Digital Accessibility Awareness Day: 10 Case Studies on Transforming Web Accessibility in Indonesia. Kegiatan ini menyajikan hasil studi kasus dalam negeri terkait website yang aksesibel dan inklusif sesuai dengan pedoman aksesibilitas konten web (Web Content Accessibility Guideline – WCAG). 

Accessibility Bootcamp Pertama di Indonesia

Suarise berinisiasi menyelenggarakan Bootcamp Aksesibilitas Digital (A11y Bootcamp) lintas disiplin pertama di Indonesia. Kegiatan yang diselenggarakan pada tiga kota Jakarta, Yogyakarta, dan Malang ini diikuti oleh 40 orang peserta berlatar belakang UI/UX Designer, UX Research, UX writer, dan Web Developer, berasal dari kalangan profesional maupun mahasiswa yang telah lolos seleksi kompetensi dasar.

A11y Bootcamp sendiri bertujuan mendorong kolaborasi lintas disiplin bersama dengan teman disabilitas dalam menciptakan solusi aksesibilitas yang holistik dan efektif. Kegiatan yang berlangsung baik secara online maupun offline ini juga bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dalam mengembangkan produk digital inklusif, serta mudah diakses bagi semua termasuk disabilitas. Harapannya agar para peserta dapat menerapkan aspek ini dalam pekerjaan di bidang desain, pengembangan produk/website, dan penulisan di bidang digital.

Sejak Januari 2024, para peserta mempelajari berbagai hal soal aksesibilitas digital, mulai dari prinsip dasar hingga fundamental aksesibilitas digital sesuai WCAG sebagai standar teknis aksesibilitas web yang dikembangkan oleh World Wide Web Consortium (W3C). Peserta juga mempelajari praktik terbaik dalam penerapan standar dalam sejumlah disiplin ilmu dengan para pengajar yang terdiri atas praktisi teknologi baik dari dalam maupun dari luar negeri, termasuk pengajar dengan latar belakang disabilitas.

Pada awal pertemuan, peserta juga berkesempatan berbincang secara online dengan teman-teman yang memiliki jenis disabilitas berbeda (seperti cerebral palsy, autism spectrum disorder, teman netra, dan multiple sclerosis). Melalui sesi diskusi bersama teman disabilitas, para peserta mendapat gambaran tentang sejauh mana tantangan aksesibilitas yang dihadapi mereka dan bagaimana kebiasaan penggunaan teknologi asistif yang digunakan dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Baca: Suarise A11y Bootcamp Berhasil Tuai Antusiasme Positif – Suarise Indonesia

Belajar dari Perspektif Pengguna Disabilitas dalam Studi Kasus

Dalam riset maupun pengetesan sebuah website, terdapat satu tahap penting untuk mengetahui apakah produk tersebut mudah digunakan yakni dengan melibatkan para pengguna secara langsung. Hal ini pula yang diterapkan pada project akhir peserta dalam rangkaian kegiatan A11y Bootcamp  yakni melibatkan teman-teman disabilitas (disability user testing). Kegiatan ini menggandeng sepuluh orang responden disabilitas netra untuk bersama-sama melakukan audit website. 

diskusi kelompok yang melibatkan teman disabilitas. Seorang teman netra tengah mengakses website dengan instruksi dari peserta bootcamp.

Diskusi para peserta A11y Bootcamp dengan teman netra dalam mempelajari studi kasus tentang website yang memenuhi standar aksesibilitas internasional (WCAG) pada Kelas ke-13 tentang, Sabtu (09/03) di Jakarta (Doc. Suarise)

Pelibatan teman-teman disabilitas ini tidak hanya berperan utama sebagai tester, tetapi juga berperan sebagai mentor bagi para peserta dalam proses penyelesaian tugas akhir. Peserta Bootcamp bersama responden disabilitas melakukan pengujian terhadap sepuluh website lokal di berbagai sektor, diantaranya sektor kesehatan, pendidikan, pelayanan publik pemerintah, ketenagakerjaan, dan jasa keuangan. Hasil studi ini akan digunakan sebagai bahan advokasi kepada para stakeholders terkait produk website yang aksesibel dan inklusif.

Tujuan pelibatan pengguna disabilitas ialah membangun kolaborasi setara antara pengguna dengan disabilitas dengan pengembang dalam pembuatan platform digital yang ramah ragam disabilitas. Melalui pertemuan langsung dengan pengguna, diharapkan para peserta Bootcamp mampu memahami langsung masalah yang dihadapi dalam mengakses platform digital serta mengumpulkan umpan balik untuk meningkatkan standarisasi aksesibilitas digital terutama di platform digital sektor tertentu.

Menurut Synthia Montolalu, salah satu responden disabilitas netra, dirinya merasa senang dapat bekerja sama dengan kelompok diskusi pada website di bidang kesehatan. “Saya  termotivasi untuk mengeksplorasi website pemerintah dan swasta. Saya menemukan banyak hal yang tidak ramah dan kurang aksesibel bagi tunanetra dan pembaca layar, lalu mencoba mencari solusinya bersama,” ungkapnya. Tia berharap seharusnya website pemerintah jauh lebih tinggi level aksesibilitasnya, lebih informatif dan bisa jadi acuan bagi website yang dikelola oleh swasta. 

Digital Accessibility Awareness Day

tiga orang perwakilan kelompok peserta Accessibility Bootcamp. Satu orang wanita (kiri) sedang mempresentasikan hasil studi kasus, dan dua orang disebelahnya (wanita -tengah) (laki-laki - kanan)

Salah satu kelompok peserta A11y Bootcamp sedang mempresentasikan hasil studi kasus website lokal, serta temuan mereka terkait tantangan aksesibilitas digital pada rangkaian penutup A11y Bootcamp, Sabtu (20/04), di BSD City (Doc. Suarise)

Sebagai rangkaian penutup Bootcamp, Suarise menggelar Digital Accessibility Awareness Day (DAAD) yang menyajikan hasil studi kasus sepuluh website dalam negeri. Kegiatan yang diselenggarakan secara offline dan online (terbatas) ini diikuti oleh sekitar 100 orang pendaftar umum (termasuk teman disabilitas), dan para pemangku kepentingan.

Ridho, seorang teman tuli yang ikut hadir dalam DAAD menyampaikan rasa haru dan bangga dengan meningkatnya antusiasme publik terhadap aksesibilitas untuk teman disabilitas. “Aku merasa terharu luar biasa. Harapannya ke depan semoga semakin banyak teman developer di seluruh Indonesia yang fokus memperhatikan aksesibilitas untuk mewujudkan Indonesia yang lebih inklusif,” ujarnya.

Founder and Accessibility Consultant Suarise sekaligus Trainer A11y Bootcamp, Rahma Utami salut atas komitmen dan semangat  peserta selama tiga bulan kebelakang, baik dari segi keaktifan di kelas dua kali seminggu,  dan ketepatan pengerjaan tugas personal maupun penugasan kelompok. Komitmen ini menjadi indikator semangat dalam membuat digital platform yang lebih aksesibel yang perjalanannya tidak sebentar.

Bootcamp ini adalah modal dan titik awal untuk para alumni Bootcamp mengambil bagian dalam tantangan terbesar, yakni mengimplementasikan materi dan praktik yang telah dipelajari ke kampus, organisasi, perusahaan, atau dimanapun mereka bernaung. “Kami berharap penyelenggaraan Bootcamp ini bukan yang pertama dan terakhir, tetapi menjadi titik mula terwujudkan transformasi digital inklusif di Indonesia,” tegasnya. 

Sebagai tambahan informasi, Kegiatan Penutup A11y Bootcamp Suarise bertajuk Digital Accessibility Awareness Day merupakan salah satu rangkaian menuju peringatan Global Accessibility Awareness Day (GAAD) tahun 2024. GAAD merupakan gerakan yang berfokus pada akses dan inklusi digital bagi lebih dari satu miliar penyandang disabilitas yang diperingati setiap hari Kamis pekan ketiga pada bulan Mei mendatang.

Kegiatan Accessibility Bootcamp didukung oleh hibah dari Information Society Innovation Fund (ISIF Asia) dan APNIC Foundation. Acara ini juga terselenggara berkat kerja sama dengan Algobash, serta media dan community partner bersama UXID Bandung, Design Rant, dan Ruang Gerak. Selain itu, khusus pada penyelenggaraan kegiatan penutup A11y Bootcamp, Kami didukung oleh Apple Developer Academy selaku venue supporting.

Suarise Wujudkan Generasi Aksesibilitas melalui Accessibility Bootcamp 2024 – Suarise Indonesia

Tentang Penyelenggara

Suarise adalah perusahaan sosial independen yang fokus mempromosikan yang memungkinkan kesamaan akses dan kesempatan bagi orang-orang dengan gangguan penglihatan (tunanetra) di industri digital dan platform online. Sejak didirikan pada 2017, Suarise menyediakan tiga layanan utama. Pertama, memberikan pelatihan vokasi terkait teknologi digital bagi tunanetra dan low vision agar dapat bekerja secara independen maupun sebagai tenaga tetap dalam perusahaan.

Kedua, Suarise membuka konsultasi dan riset aksesibilitas digital, serta persiapan onboarding bagi perusahaan yang akan mempekerjakan disabilitas, khususnya tunanetra dan low vision. Ketiga, Suarise menyediakan jasa penulisan konten digital yang dilakukan para talents Suarise tunanetra dan low vision. Suarise juga memprakarsai a11yID, komunitas Indonesia pertama untuk orang-orang dengan latar belakang teknologi yang ingin mengeksplorasi lebih banyak tentang aksesibilitas digital.

ISIF adalah singkatan dari The Information Society Innovation Fund (ISIF Asia) ISIF ASIA adalah organisasi nirlaba yang fokus mendukung dan mempercepat penggunaan dan pengembangan internet untuk kepentingan sosial di seluruh dunia. Organisasi ini memberikan dukungan keuangan dan teknis kepada proyek-proyek inovatif yang berupaya meningkatkan akses, keamanan, privasi, dan manfaat sosial dari internet. Suarise mendapat dukungan pendanaan penuh ISIF dalam program be The A11y Project yang meliputi A11y Bootcamp, A11y Empathy Lab Pop Up Experience, A11y Design Challenge, dan Accessibility Issue Submission Challenge. 

 

Kontak Suarise: 

Iin Kurniati 

Public and Government Relations Suarise 

Email: iin.kurniati@suarise.id 

Website: http://suarise.com

Suarise A11y Bootcamp Berhasil Tuai Antusiasme Positif

150 150 Iin Kurniati

Bulan Januari 2024 menjadi saksi keberhasilan Suarise dalam menyelenggarakan A11y Bootcamp perdana di Indonesia. Tidak kurang dari 400 praktisi teknologi dan konten dari berbagai daerah telah mendaftar, menciptakan gebrakan baru dalam pengembangan keterampilan industri.

Sebagai informasi Suarise A11y Bootcamp adalah program pelatihan intensif yang menyasar peningkatan skill dalam waktu singkat, biasanya berlangsung selama 2-6 bulan. Lantas, alasan kuat apa yang melandasi Suarise mengadakan A11y Bootcamp ini?

Alasan Suarise Menginisiasi A11y Bootcamp?

Screenshot suasana zoom Suarise A11y Bootcamp, terdapat moderator Rahma Utami (kiri atas) dan empat panelis, yaitu Briyan (tengah atas), Khamal (kanan atas), Rezky (kiri bawah), dan Ireisha (kanan bawah)

Pembukaan Suarise A11y Bootcamp menghadirkan empat panelis teman difabel yang menjelaskan urgensi aksesibilitas

Pada pertengahan tahun 2023, Indonesia terus menorehkan prestasi dalam pertumbuhan jumlah penduduk, mencapai puncaknya dengan angka menyentuh 278,69 juta jiwa, menurut data terkini yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Fenomena ini mencerminkan dinamika populasi yang terus berkembang dari tahun ke tahun.

Sejalan dengan pertumbuhan populasi, fokus terhadap kelompok yang memerlukan perhatian khusus, seperti penyandang disabilitas,  juga menjadi perhatian utama. Berdasarkan data BPS tahun 2020, terdapat 22,5 juta jiwa penyandang disabilitas di Indonesia, atau setara dengan sekitar 8% dari total populasi. Angka ini menarik perhatian karena sebanding dengan jumlah penduduk keseluruhan di benua Australia.

Pentingnya memahami dan mengakomodasi kebutuhan masyarakat yang memiliki tantangan khusus menjadi semakin nyata seiring dengan pertumbuhan populasi. Melibatkan seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok disabilitas, dalam berbagai aspek kehidupan adalah langkah awal menuju masyarakat yang inklusif dan berkeadilan.

Urgensi aksesibilitas bagi penyandang disabilitas diakui dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas dan Peraturan Pemerintah Nomor 52 tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial Bagi Penyandang Disabilitas. Regulasi tersebut menegaskan hak-hak penyandang disabilitas untuk mendapatkan kemudahan aksesibilitas dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk di dalamnya kemudahan akses di ranah digital.

Sayangnya, pemenuhan kemudahan akses digital bagi penyandang disabilitas masih belum mendapat dukungan optimal dari pemerintah, institusi, lembaga pendidikan, bahkan perusahaan. Keterbatasan informasi dan kurangnya edukasi terlihat dari kesulitan yang masih dialami penyandang disabilitas dalam mengakses situs web, perangkat lunak, aplikasi, media sosial, dan dokumen digital. Tantangan ini diakibatkan keterbatasan screen reader, kurangnya bahasa isyarat atau subtitle, serta desain yang belum memadai.

Mengingat pentingnya akses digital sebagai bentuk kesetaraan dan peluang yang sama, Suarise berkomitmen untuk berkontribusi pada perkembangan sumber daya manusia  yang berdedikasi di bidang teknologi dan digital. A11y Bootcamp Suarise, sebuah  bootcamp  yang disiapkan secara khhusus  bagi profesional  di bidang teknologi untuk mempelajari lebih jauh  mengenai bagaimana mewujudkan teknologi yang ramah aksebilitas bagi disabilitas.

 

Kenalan dengan A11y Bootcamp Suarise

Bootcamp Suarise merupakan workshop intensif  kelas hybrid (online dan offline) selama tiga bulan. Sebanyak 40  praktisi teknologi digital telah ikut bergabung  Bootcamp dengan berbagai latar belakang. Mulai dari UI/UX designer, UX  research  UX writer, Web and App developer yang tersebar dari berbagai kota di Indonesia, khususnya Jabodetabek, Yogyakarta, dan Malang. Misi dari A11y Bootcamp Suarise ini bertujuan mendorong  kolaborasi lintas  disiplin  antara profesional  penggiat teknologi  untuk menciptakan solusi  aksebilitas yang  lebih  holistik dan efektif, guna memahami sejauh mana  ineraksi  teman difabel  pada teknologi.

Perhelatan  ini kedepannya diisi oleh materi-materi eksklusif  dari team Suarise dan para trainer dengan berbagai fokus. Mulai dari mengenal dasar kebutuhan disabilitas di dunia digital hingga merancang  pengalaman pengguna yang ramah di akses  dengan mudah oleh teman disabilitas yang dipraktikan secara langsung oleh para peserta bersama teman disabilitas.

Dalam pembukaan A11y Bootcamp Suarise, beberapa sosok ahli  di sektor disabilitas turut berkontribusi dan menyampaikan insight  melalui sesi diskusi  dengan sederetan peserta yang hadir. Para panelis yang ikut serta menyumbangkan insight  antara lain Ireisha (Story writer) Autism Spectrum Disorder ,  Bryan Wahyu ( Back End Developer) – Cerebral Palsy, Khamal Nurdin (Mahasiswa) – Difabel Netra , M Rezky Achyana ( Executive Director The TamTam Therapy Centre).

Baca selengkapnya: Suarise Wujudkan Generasi Aksesibilitas melalui Accessibility Bootcamp 2024 – Suarise Indonesia

 

Peluang Teknologi Mudah Diakses Teman Disabilitas

tampilan website suarise yang menjelaskan A11yIDweb text: A11yID (baca: Aliaidi) adalah grup komunitas yang memiliki ketertarikan terhadap topik aksesibilitas digital (digital accessibility). Grup ini diperuntukan utamanya bagi mereka yang terlibat dalam pembuatan produk digital, seperti developer, desainer, UX desainer/researcher, UI desainer, product manager, dosen, dll. Diskusi dilakukan secara online, baik melalui percakapan grup telegram, maupun sharing rutin setiap bulan. Aksesibilitas digital tidak hanya penting agar website, aplikasi, maupun konten bisa #ramahdisabilitas, namun juga berguna bagi semua orang dan meningkatnya performa dari produk tersebut. A11yID merupakan komunitas yang diinisiasi dan dimoderasi oleh tim Suarise.

Salah satu peluang ramah disabilitas yakni dengan mengubah tampilan situs menjadi lebih ramah ragam disabilitas

“Landasan yang paling kuat dalam diselenggarakannya A11y Bootcamp Suarise adalah motivasi bagi para profesional di bidang teknologi dan digital untuk mengemban peran sebagai evangelist aksesibilitas.” Pernyataan ini disampaikan oleh Rahma Utami, CEO Suarise.id, yang menyoroti bahwa melalui Suarise A11y Bootcamp, peserta memiliki kesempatan langsung untuk terlibat dalam praktik dan berinteraksi secara langsung dengan teman-teman disabilitas. Rahma berharap bahwa peserta dapat secara langsung memahami dan menerima umpan balik yang langsung berasal dari pengalaman dan diskusi bersama teman disabilitas.

Seorang peserta Front End Developer di Gov Edukasi, Kukuh, berbagi pandangannya, “Saya percaya bahwa website dapat digunakan oleh siapapun, kapanpun, tanpa memandang kondisi apapun. Oleh karena itu, kehadiran Suarise A11y Bootcamp akan menambah wawasan dan pengetahuan bagi saya dalam merancang situs yang ramah bagi disabilitas.”

Ghina, seorang peserta yang juga memiliki peran sebagai UX Researcher di sektor telekomunikasi, menyatakan, “A11y Bootcamp Suarise menjadi langkah strategis untuk mengadvokasi kepada para tenaga profesional. Harapannya, hal ini dapat membawa teknologi yang lebih inklusif ke tingkat kerjasama yang lebih tinggi.” 

 

Menjawab Tantangan Aksebilitas Melalui Bootcamp Intensif

Adanya A11y Bootcamp Suarise menjadi suatu keharusan, sebuah inisiatif advokasi aksesibilitas yang bertujuan mendorong terjalinnya kerja sama lintas disiplin di antara para profesional dan mahasiswa dari berbagai bidang terkait. Peserta bootcamp akan memiliki kesempatan untuk menciptakan solusi aksesibilitas yang lebih holistik dan efektif dengan memperluas perspektif dan pengetahuan melalui kolaborasi aktif dengan individu yang memiliki disabilitas.

Fokus utama dari kegiatan ini adalah mengembangkan teknologi dan konten digital yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memastikan bahwa produk digital yang dihasilkan dapat diakses dengan mudah oleh semua pengguna, termasuk teman-teman dengan disabilitas. Para peserta akan mendapatkan pemahaman mendalam tentang teknik, standar, dan praktik terbaik dalam menciptakan ruang inklusif yang dapat diakses melalui Bootcamp.  Perhelatan ini tidak hanya bersifat teoritis, melainkan juga menitikberatkan pada aspek praktis, aplikatif, dan solutif.

Melalui Suarise A11y Bootcamp, diharapkan para peserta dapat tidak hanya memahami pentingnya aksesibilitas, tetapi juga mampu mengimplementasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dalam menciptakan solusi yang nyata dan berdampak positif dalam dunia digital. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi tonggak bagi peningkatan kesadaran dan praktek aksesibilitas di kalangan para profesional dan mahasiswa di berbagai bidang terkait.

 

Masih bingung apa itu aksesibilitas digital dan bagaimana cara mewujudkannya di platform digital pada perusahaan atau organisasimu? Jangan ragu hubungi Project Manager Suarise regina@suarise.id untuk konsultasi lebih lanjut.

Acara ini didukung oleh Information Society Innovation Fund (ISIF Asia) dan APNIC Foundation.

 

*Artikel ini ditulis oleh Revin Leo Warganegara, talent content writer tunanetra Suarise.

Suarise A11y Bootcamp 2024 Pembukaan dan diskusi panel bertajuk understanding user perspective in navigating everyday life through inclusive technology when and where? Sabtu, 13 Januari 2024 jam 13 sampai 15 via Zoom Suarise foto empat orang panelis

Suarise Wujudkan Generasi Aksesibilitas melalui Accessibility Bootcamp 2024

1921 1080 Iin Kurniati

Jakarta, 13 Januari 2024 –  Suarise menyelenggarakan Accessibility (A11y) Bootcamp Pertama di Indonesia di Jakarta. Kegiatan ini merupakan workshop intensif selama tiga bulan untuk membahas topik aksesibilitas digital bagi para generasi muda yang berprofesi sebagai UI/UX Designer, UX Research, UX writer, dan Web Developer untuk belajar mengenai aksesibilitas digital dan menerapkannya dalam produk-produk digital.

A11y Bootcamp Ciptakan Solusi Aksesibilitas

Pemenuhan kemudahan aksesibilitas di bidang digital belum didukung oleh pemerintah, institusi, lembaga pendidikan, maupun perusahaan akibat minimnya informasi maupun edukasi. Terbukti dengan masih ditemukannya sejumlah website (situs), perangkat lunak, aplikasi, media sosial, website, maupun dokumen digital yang sulit diakses oleh teman-teman disabilitas karena tidak terbaca screen reader (pembaca layar), maupun tidak tersedianya bahasa isyarat/subtitle, serta desain yang belum inklusif.

Berdasarkan hal tersebut, Suarise berinisiasi menyelenggarakan Bootcamp Aksesibilitas Digital (A11y Bootcamp) lintas disiplin pertama di Indonesia. Kegiatan ini berupaya meningkatkan pemahaman teknik penerapan aksesibilitas digital pada layanan aplikasi maupun website kepada lebih banyak pegiat teknologi. 

A11y Bootcamp sendiri bertujuan mendorong kolaborasi lintas disiplin di bidang UX Researcher, UI/UX Designer, UX Writer, dan Web developer dengan teman disabilitas dalam menciptakan solusi aksesibilitas yang holistik dan efektif. Kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dalam mengembangkan produk digital inklusif, yang mudah diakses bagi semua termasuk disabilitas. Harapannya agar para peserta nantinya dapat menerapkan aspek ini dalam pekerjaan di bidang desain, pengembangan produk/website, dan penulisan.

Kegiatan yang berlangsung mulai bulan Januari hingga Maret 2024 ini diperuntukkan bagi para kalangan profesional dan mahasiswa yang lulus tes kompetensi dasar. Setiap peserta akan belajar berbagai hal dari para trainer dan mentor, mulai dari pengenalan aksesibilitas digital, prinsip-prinsip aksesibilitas digital, pedoman desain pengalaman pengguna (UX) yang aksesibel, pedoman pengembangan web yang aksesibel, persona dan riset pengguna disabilitas, teknis coding (untuk developer), dan berbagai hal lain seputar aksesibilitas digital.

Sejak bulan Desember 2023, proses seleksi peserta dimulai dari knowledge based competency test, motivation – essay test, hingga professional background. Empat orang anggota selection committee sendiri merupakan para ahli teknologi di bidangnya. Pada akhir Januari, sebanyak 40 peserta A11y Bootcamp telah terpilih diantara lebih dari 300 orang pendaftar berasal dari berbagai kota di Indonesia. Seluruh peserta nantinya akan mengikuti rangkaian kegiatan online dan offline di tiga kota, yaitu Jakarta, Yogyakarta, dan Malang.

Memahami Perspektif Pengguna Disabilitas dalam Teknologi

Suarise menghadirkan empat orang pembicara berlatar belakang pengguna disabilitas untuk memahami perspektif pengguna untuk menavigasi kehidupan sehari-hari melalui teknologi inklusif. Mengusung tajuk “Understanding user perspective in navigating everyday life through inclusive technology, Diskusi Panel ini menjadi rangkaian pembukaan A11y Bootcamp 2024 yang akan memberikan perspektif kepada para peserta.

Diskusi ini menghadirkan Bryan Wahyu Krisna Putra CTO Sarana Technology dan Rnd Developer Kipas-Kipas seorang cerebral palsy, Ireisha Anindya writer content and narrative, seorang Autism spectrum disorder, Khamal Nurdin Cahyadi talent content writer Suarise, teman netra, dan Rezky Achyana Executive Director The TamTam therapy centre, seorang multiple scolerosis. Dalam diskusi tersebut, keempat orang panelis menjelaskan asumsi yang biasa mereka terima sehari-hari dari masyarakat. 

Mereka juga menekankan pentingnya support system untuk mendukung keseharian, baik dari tersedianya akomodasi yang aksesibel, hingga dukungan keluarga dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang inklusif. 

Tangkapan layar zoom yang berisi moderator rahma utami (kiri atas), Bryan (tengah atas), Khamal (kanan atas), rezky (kiri bawah), dan Ireisha (kanan bawah)

Dokumentasi: Tangkapan Layar diskusi panel bersama knowledge and accessibility director Suarise Rahma Utami bersama keempat narasumber yang mengulas perspektif pengguna dalam menavigasi kehidupan sehari-hari melalui teknologi inklusif pada Pembukaan A11y Bootcamp di Jakarta, Sabtu (13/01)

Ireisha Aninda dan Rezky Achyana sama-sama menekankan pentingnya membuat ekosistem atau lingkungan yang inklusif. “Suarise bikin ekosistem yang melibatkan banyak pihak yang berinteraksi langsung dengan user (disabilitas). Nothing about us without us, ayo libatkan disabilitas agar kerja yang inklusif menjadi benar-benar inklusif,” ungkap Rezky.

Berbeda dengan kedua pembicara sebelumnya, Bryan menegaskan fokusnya kepada peran orang tua dengan anak difabel. “Makanya buat aplikasi yang fokus untuk orang tua agar difabel lebih maju,” tegasnya. Sementara itu, Khamal menyatakan bahwa semua orang akan menjadi disabilitas. “Inklusi bukan pencapaian, tetapi inklusi adalah perjalanan.”

Pada akhirnya Rahma Utami, knowledge and Accessibility Consultant Suarise menyimpulkan bahwa aksesibilitas bukan isu minoritas, tetapi isu kita semua yang akan juga mendapatkan manfaatnya bila mewujudkan aksesibilitas digital di tanah air.

Kegiatan Accessibility Bootcamp didukung oleh hibah dari Information Society Innovation Fund (ISIF Asia) dan APNIC Foundation. Acara ini juga terselenggara berkat kerja sama dengan Algobash, serta media dan community partner bersama UXID Bandung, Designrant, dan Ruang Gerak.

Tentang Penyelenggara

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Suarise untuk memperingati Hari Disabilitas Internasional 2023. Suarise adalah perusahaan sosial independen yang fokus mempromosikan yang memungkinkan kesamaan akses dan kesempatan bagi orang-orang dengan gangguan penglihatan (tunanetra) di industri digital dan platform online. Sejak didirikan pada 2017, Suarise menyediakan tiga layanan utama. Pertama, memberikan pelatihan vokasi terkait teknologi digital bagi tunanetra dan low vision agar dapat bekerja secara independen maupun sebagai tenaga tetap dalam perusahaan. Kedua, Suarise membuka konsultasi dan riset aksesibilitas digital, serta persiapan onboarding bagi perusahaan yang akan mempekerjakan disabilitas, khususnya tunanetra dan low vision. Ketiga, Suarise menyediakan jasa penulisan konten digital yang dilakukan para talents Suarise tunanetra dan low vision.

ISIF ASIA memberikan dukungan bagi untuk proyek-proyek yang berkontribusi pada pertumbuhan teknologi Internet dan TIK untuk pembangunan sosial dan ekonomi. Suarise mendapat dukungan pendanaan penuh ISIF dalam program A11y Empathy Lab Pop Up Experience, A11y Bootcamp, A11y Design Challenge, dan Accessibility Issue Submission Challenge. ISIF ASIA bertujuan untuk mendukung inisiatif yang menangani masalah terkait Internet seperti akses, keterjangkauan, keamanan dunia maya, privasi online, hak digital, dan pengembangan konten lokal. ISIF ASIA mendorong pendekatan inovatif, kolaborasi, dan pembangunan kapasitas di kawasan. Program ini dilaksanakan oleh Pusat Informasi Jaringan Asia Pasifik (APNIC), sebuah registri Internet regional, dan telah mendukung proyek sejak didirikan pada tahun 2008. Pendanaan dan dukungan yang diberikan oleh ISIF ASIA telah berkontribusi pada berbagai inisiatif dan inovasi yang telah dilakukan. dampak positif pada pengembangan Internet dan inklusi digital di kawasan Asia-Pasifik.

 

Kontak Suarise: 

Iin Kurniati 

Public Relations Suarise 

Email: iin.kurniati@suarise.id 

Website: http://suarise.com

tangkapan layar webinar HDI 2023, Okki Susanto dan penerjemah bahasa isyarat. Tulisan dalam screen You should not be afraid of Artificial Intelligence, you should be afraid of people whou use AI to make their work even better

Suarise konsisten suarakan Urgensi Aksesibilitas Wujudkan sektor Digital Indonesia Ramah Ragam Disabilitas

3360 2100 Iin Kurniati

Siaran Pers Rangkaian Peringatan Hari Disabilitas Internasional 2023

Jakarta, Desember 2023 –  Memperingati Hari Disabilitas Internasional 2023, Suarise konsisten menyuarakan pentingnya aksesibilitas digital, pemberdayaan tenaga kerja disabilitas serta optimalisasi kecerdasan buatan. Melalui rangkaian kegiatan webinar, accessibility empathy lab pop up experience, serta accessibility bootcamp, Suarise mengajak publik menjadi agen perubahan terpenting wujudkan sektor digital Indonesia ramah ragam disabilitas.

Optimalkan Kecerdasan Buatan dan Kreativitas Tenaga Kerja Disabilitas

Jakarta, 6 Desember 2023 – Menjawab peluang dan tantangan penggunaan kecerdasan buatan di dunia kerja dalam kaitannya dengan tenaga kerja disabilitas, Suarise menyelenggarakan Webinar bertajuk Increasing Employer’s Confidence in Recruiting Workers with Disabilities With Artificial Intelligence (AI) Optimization pada Rabu (6/10) di Jakarta. 

Pesatnya perkembangan teknologi mencetuskan artificial intelligence – kecerdasan buatan (AI) sebagai salah satu alat revolusi industri. AI memungkinkan mesin memahami lingkungan berdasarkan sumber informasi seperti data, suara, hingga gambar yang diproses. Penerapan teknologi AI berkembang ke ranah praktis yang semula sebatas menyelesaikan tugas sederhana menjadi tugas kompleks.

Dampak AI di berbagai industri bisnis bisa sangat kompleks. Pada satu sisi kecerdasan buatan dapat meningkatkan produktivitas kerja dan efisiensi waktu melalui data dan berbagai kemudahan yang ditawarkan. Namun disisi lain keberadaan AI bisa menimbulkan sejumlah permasalahan diantaranya disrupsi pasar kerja, keotentikan suatu karya, hingga masalah etis.

Oleh karena itu, melalui pembuktian manfaat penting dari penggunaan AI, serta kesaksian pemberi kerja yang mengoptimalkan penggunaan AI di dalam perusahaan akan dapat meningkatkan kinerja perusahaan. Potensi inilah yang dapat menjadi langkah awal membangun kepercayaan diri perusahaan merekrut pekerja disabilitas dan mengoptimalkan kecerdasan buatan. Sehingga permintaan terhadap tenaga kerja disabilitas bagi perusahaan/organisasi akan makin berkembang. 

Webinar ini merupakan series tahunan Peringatan HDI Suarise bertajuk Disability Confident Employer yang mempertemukan ekspektasi para pemberi kerja dengan kebutuhan dunia industri untuk meningkatkan peluang kerja bagi disabilitas.

Acara yang diperuntukkan bagi praktisi HR, perekrut tenaga kerja, pendiri perusahaan, komunitas disabilitas, dan peminat isu disabilitas ini menghadirkan praktisi kecerdasan buatan, praktisi sumber daya manusia (human resources), serta penulis yang paham soal penggunaan chat GPT sebagai salah satu bentuk AI dan kaitannya dengan tenaga kerja disabilitas. Kehadiran mereka menjadi referensi utama untuk memahami apa itu kecerdasan buatan, bagaimana pemanfaatan AI dalam rekrutmen tenaga kerja, hingga bagaimana optimalisasi penggunaan AI oleh tenaga kerja disabilitas.

Perwakilan Persatuan Manajemen Sumber Daya Manusia (PMSM) Indonesia yakni Ketua Departemen DEI & ESG PMSM Indonesia sekaligus People & Culture Director, PT HM Sampoerna Tbk, Ripy Mangkoesoebroto menjelaskan pentingnya memberikan kesempatan yang lebih besar bagi para penyandang disabilitas untuk bekerja di perusahaan/organisasi. 

“Mari sama-sama belajar bagaimana mengatasi asumsi dan bias persepsi, menggunakan teknologi untuk mempermudah teman disabilitas agar bisa produktif dan menyatu dengan perusahaan. Kita bisa sama-sama memikirkan opsi terutama penggunaan AI atau teknologi untuk mempermudah perusahaan maupun pencari kerja disabilitas supaya bisa saling produktif, saling membantu, untuk sama-sama saling berkembang,” ungkapnya.

tangkapan layar kiri atas aria ghora prabono, AI research enginer, kanan atas Rahma Utami knowledge and accessibility director Suarise, dan tengah bawah penerjemah bahasa isyarat

Dokumentasi: Tangkapan Layar pemateri Aria Ghora yang sedang berdiskusi bersama founder Suarise Rahma Utami mengenai perkenalan dan perkembangan Artificial Intelligence didampingi juru bahasa isyarat dalam rangkaian Hari Disabilitas Internasional 2023 di Jakarta, 06/12/23

Pada sesi pengantar kecerdasan buatan, AI research engineer di EAGLYS Tokyo Jepang, Aria Ghora memperkenalkan apa itu kecerdasan buatan atau AI hingga apa hubungan antara AI dengan disabilitas. Aria cukup yakin bahwa AI berpotensi besar mendukung pemberdayaan disabilitas dengan memberikan solusi untuk meningkatkan kualitas hidup dan kemandirian, khususnya di lingkungan kerja.

“Dampak perkembangan AI yang membahayakan tentu ada. Namun dilihat dari sisi baik, AI berperan menunjang inklusivitas bagi disabilitas, khususnya di lingkungan kerja. Ini bukan soal menggantikan manusia dengan mesin, tetapi ini soal empowering atau pemberdayaan. Bagaimana menciptakan lingkungan yang beragam dan inklusif sehingga semua orang bisa berkontribusi setara walau dalam keterbatasan. Kita bisa mewujudkan dunia dengan segala keragamannya dalam harmoni,” jelas Aria.

Selanjutnya pada sesi kedua, Irma Suryaningsih, Head of HR Rey.id memaparkan soal bagaimana membangun organisasi sehat dengan inklusivitas perusahaan serta hubungan kemajuan kecerdasan buatan dengan HR dan tenaga kerja disabilitas. Pada awal pemaparan Irma meyakinkan para HR dan perwakilan perusahaan yang hadir dalam acara ini untuk yakin merekrut tenaga kerja disabilitas karena dapat meningkatkan employer branding melalui diversitas dan inklusivitas, meningkatkan kreativitas dan inovasi perusahaan, serta menyesuaikan kebutuhan pasar.

Kemudian terkait hubungan antara penggunaan AI, HR, dan tenaga kerja disabilitas Irma menjelaskan urgensi menggandengkan teknologi dan manusia. “Kalau cuma mengandalkan AI tidak akan ada human touch. Kita punya skill set, kita tahu kekurangan kita dimana. Jadi andalkan teknologi untuk mengisi kekurangan kita, doing research dan sebagainya. Jangan sampai kita hanya memakai teknologi saja itu salah. Teknologi dipakai, skill set ditambah, hasilnya akan makin maksimal,” terangnya.

Terakhir pada sesi terakhir, Writer and Entrepreneur, Okki Sutanto menjelaskan tentang Meningkatkan kepercayaan perusahaan dalam merekrut tenaga kerja disabilitas dengan optimalisasi Artificial Intelligence (AI). Okki menuturkan bahwa AI itu sangat berguna tergantung bagaimana cara manusia memanfaatkannya.

“Artificial Intelligence cuma alat yang bisa membantu kita. Tergantung kita mau memanfaatkannya dengan maksimal atau tidak, kita memanfaatkan untuk kebaikan atau enggak. AI saat ini masih jauh dari sempurna, masih terus berubah. Dengan panduan yang jelas (maka) AI atau chat GPT bisa membantu pekerja maupun para pemberi kerja untuk sama-sama untuk memaksimalkan hasil kerja mereka. Pada ujungnya akan membawa manfaat secara ekonomi untuk perusahaan dan kita semua bagi umat manusia,” ujar Okki.

Accessibility Empathy Lab Pop Up Terakhir tahun 2023

seorang pria teman netra sedang mengajarkan pengunjung wanita membaca dan mengetik tanpa melihat. Mereka menggunakan headset bersama untuk mendengar pembaca layar membacakan dokumen

Seorang volunteer teman netra sedang mengajak pengunjung mencoba membaca dokumen menggunakan pembaca layar – screen reader, 10/12/23

Solo, 9 Desember 2023 – Suarise menjadi bagian Perayaan Urban Social Forum (USF) ke sepuluh di SMP Negeri 10 Surakarta Jawa Tengah bersama Yayasan Kota Kita. USF merupakan sebuah ruang untuk memperkuat solidaritas antara para aktor masyarakat sipil yang selama ini telah bergerak untuk mewujudkan kota yang lebih baik untuk semua. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Suarise berperan sebagai salah satu kolaborator yang menyelenggarakan Accessibility Empathy Lab Pop Up Experience (booth). 

Mengusung semangat ‘Another City is Possible’, kegiatan USF ini menekankan pentingnya advokasi demi mendorong kota-kota di Indonesia yang berkeadilan sosial, inklusif, demokratis, serta masyarakat yang aktif dengan kewarganegaraannya. Keberadaan Suarise pada USF mendorong lahirnya ruang diskusi terbuka yang inklusif untuk berbagi gagasan, bertukar pengalaman, dan pengetahuan seputar urgensi aksesibilitas digital bagi pembangunan kota yang lebih baik di Indonesia.

Accessibility Empathy Lab Pop Up Experience dalam USF merupakan kegiatan pertama yang diselenggarakan di Surakarta, Jawa Tengah. Kegiatan yang sekaligus menutup rangkaian Accessibility Empathy Lab Pop Up Experience tahun 2023 ini bertujuan memperluas kesadaran para praktisi kota, organisasi masyarakat sipil, komunitas pegiat pembangunan kota yang lebih baik tentang urgensi aksesibilitas digital. Accessibility Empathy Lab Pop Up Experience mengajak masyarakat memahami tantangan aksesibilitas serta solusi akomodatif atas pemanfaatan teknologi guna membantu keseharian teman-teman disabilitas yang bermanfaat untuk diterapkan dalam pembangunan kota yang inklusif bagi semua.

Tak kurang dari sembilan skenario perkenalan teknologi asistif bagi disabilitas disajikan untuk menjembatani kesenjangan pengetahuan para pegiat dan praktisi pembangunan kota inklusif. Suarise menghadirkan berbagai aktivitas bagi para pengunjung, diantaranya: mencoba fitur aksesibilitas di playstation ‘Last of Us 2’, menambahkan alt text di media sosial, pesan perjalanan atau pesan makanan pada aplikasi ojek online menggunakan pembaca layar (screen reader), mengetik di Microsoft Word menggunakan screen reader tanpa melihat layar, dan sejumlah aktivitas menarik lainnya.

team Suarise berpose bersama para volunteer Accessibility ELP di kota Surakarta di depan booth Suarise

Tim Suarise bersama para volunteer Accessibility Empathy Lab Pop Up Experience di SMP Negeri 10 Surakarta, Jawa Tengah, 10/12/23

Pada akhirnya, kegiatan Accessibility Empathy Lab Pop Up Experience ini sejalan dengan energi positif yang diusung oleh USF berupa pemikiran, kepercayaan diri, dan harapan bahwa ‘another city’ (kota yang memberi kehidupan untuk semua, termasuk bagi teman-teman disabilitas) adalah mungkin melalui kerja dan semangat seluruh warga kota.

Accessibility Bootcamp Pertama di Indonesia

Menutup rangkaian Hari Disabilitas Internasional 2023, Suarise membuka Accessibility Bootcamp (A11yID Bootcamp) GRATIS. Kegiatan ini merupakan sebuah workshop intensif selama dua bulan yang ditujukan bagi para UI/UX/Product Desainer, UX researcher, UX writer, web developer untuk belajar mengenai aksesibilitas digital dan menerapkannya dalam produk-produk digital.

Kegiatan ini akan berlangsung mulai bulan Januari hingga Maret 2024 ini diperuntukkan bagi para kalangan profesional dan mahasiswa yang lulus tes kompetensi dasar. Setiap peserta akan belajar berbagai hal, mulai dari pengenalan aksesibilitas digital, prinsip-prinsip aksesibilitas digital, pedoman desain pengalaman pengguna (UX) yang aksesibel, pedoman pengembangan web yang aksesibel, persona dan riset pengguna disabilitas, teknis coding (untuk developer), dan berbagai hal lain seputar aksesibilitas digital.

Setiap peserta akan diseleksi mulai dari knowledge based competency test, motivation – essay test, hingga professional background. Bagi para peserta yang tertarik mengikuti kegiatan ini, waktu registrasi dan seleksi akan diselenggarakan selama bulan Desember 2023. Caranya dengan submit pendaftaran via Microsoft Form dan mengerjakan Assessment test via Algobash.

Rangkaian kegiatan HDI 2023 berupa Accessibility Empathy Lab Pop Up Experience dan Accessibility Bootcamp didukung oleh hibah dari Information Society Innovation Fund (ISIF Asia) dan APNIC Foundation.

Tentang Penyelenggara

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Suarise untuk memperingati Hari Disabilitas Internasional 2023. Suarise adalah perusahaan sosial independen yang fokus mempromosikan yang memungkinkan kesamaan akses dan kesempatan bagi orang-orang dengan gangguan penglihatan (tunanetra) di industri digital dan platform online. Sejak didirikan pada 2017, Suarise menyediakan tiga layanan utama. Pertama, memberikan pelatihan vokasi terkait teknologi digital bagi tunanetra dan low vision agar dapat bekerja secara independen maupun sebagai tenaga tetap dalam perusahaan. Kedua, Suarise membuka konsultasi dan riset aksesibilitas digital, serta persiapan onboarding bagi perusahaan yang akan mempekerjakan disabilitas, khususnya tunanetra dan low vision. Ketiga, Suarise menyediakan jasa penulisan konten digital yang dilakukan para talents Suarise tunanetra dan low vision.

ISIF ASIA memberikan dukungan bagi untuk proyek-proyek yang berkontribusi pada pertumbuhan teknologi Internet dan TIK untuk pembangunan sosial dan ekonomi. Suarise mendapat dukungan pendanaan penuh ISIF dalam program A11y Empathy Lab Pop Up Experience, A11y Bootcamp, A11y Design Challenge, dan Accessibility Issue Submission Challenge. ISIF ASIA bertujuan untuk mendukung inisiatif yang menangani masalah terkait Internet seperti akses, keterjangkauan, keamanan dunia maya, privasi online, hak digital, dan pengembangan konten lokal. ISIF ASIA mendorong pendekatan inovatif, kolaborasi, dan pembangunan kapasitas di kawasan. Program ini dilaksanakan oleh Pusat Informasi Jaringan Asia Pasifik (APNIC), sebuah registri Internet regional, dan telah mendukung proyek sejak didirikan pada tahun 2008. Pendanaan dan dukungan yang diberikan oleh ISIF ASIA telah berkontribusi pada berbagai inisiatif dan inovasi yang telah dilakukan. dampak positif pada pengembangan Internet dan inklusi digital di kawasan Asia-Pasifik.

 

 

Kontak Suarise 

Public Relations: iin.kurniati@suarise.com

www.suarise.com 

dua orang sedang duduk di hadapan para penonton. mc (kiri) memperkenalkan pembicara rahma. Di belakang mereka ada layar bertuliskan Accessibility atau alli class ux untuk disabilitas, egdung algoritma 14 November 2023

Accessibility Class dan Empathy Lab Pop Up Experience Ciptakan Generasi Paham Aksesibilitas Digital

2560 1440 Iin Kurniati

Malang, 15 November 2023 – Suarise bekerja sama dengan Departemen Sistem Informasi Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (UB) menyelenggarakan Accessibility Class dan Empathy Lab Pop Up Experience (ELP) di Malang. Langkah ini merupakan upaya ciptakan generasi paham aksesibilitas digital.

Tingginya antusiasme para akademisi termasuk para dosen dan mahasiswa dalam komunitas A11yID yang diusung Suarise, membuat Suarise melanjutkan inisiasi edukasi mengenai aksesibilitas digital di level perguruan tinggi. Kegiatan ini pun tidak hanya fokus di Jabodetabek, tetapi kini mulai merambah hingga Jawa Timur.

UX untuk Disabilitas

seorang wanita sedang berdiri di atas panggung memberikan penjelasan di hadapan para mahasiswa. tampak tulisan paparan yang terlibat dan bertanggung jawab dalam membangun ekosistem digital yang inklusif, diantaranya seperti product manager, policy maker, advocate and user, dan educator. Namun yang berperan penting adalah teman-teman mahasiswa UB yang di masa depan nanti akan menjadi developer, ui/ux designer

(Dokumentasi: Rahma utami sedang memberikan penjelasan seputar siapa saja yang berperan penting dalam mewujudkan aksesibilitas digital, 14/11/2023)

Mengusung tema Accessibility Class UX untuk Disabilitas, kegiatan ini penting untuk mengantarkan para mahasiswa ilmu komputer UB menjadi seorang UX designer/researcher yang mampu menciptakan produk digital ramah ragam disabilitas. Rahma Utami, Knowledge and Accessibility Consultant Suarise menjadi dosen tamu yang membekali pengetahuan tentang aksesibilitas digital dalam ranah user experience, mulai dari riset, perencanaan, penerapan, hingga teknik evaluasinya. 

Rahma menekankan keterlibatan berbagai pihak dalam membangun ekosistem digital yang ramah ragam disabilitas. “Ada berbagai pihak yang bertanggung jawab untuk membangun ekosistem digital yang inklusif, diantaranya seperti product manager, policy maker, advocate and user, dan educator. Namun yang berperan penting adalah teman-teman mahasiswa UB yang di masa depan nanti akan menjadi developer, ui/ux designer, dan sebagainya,” ungkapnya.

Dalam hal pemahaman dasar mahasiswa mengenai aksesibilitas digital, Rahma memaparkan bahwa Aksesibilitas digital mengacu pada seberapa dapat digunakannya situs web, aplikasi, atau pengalaman digital lainnya oleh semua pengguna. Hal ini terlepas dari kemampuan atau disabilitas mereka, dengan atau tanpa bantuan teknologi pendukung (assistive technology). Selain itu, mahasiswa juga dijelaskan beberapa hal mengenai prinsip-prinsip dasar dalam aksesibilitas, seperti perceivable, operable, understandable, dan robust.

Wakil Dekan 1 Filkom UB, Dr. Eng Heman Tolle, S.T. M.T. menjelaskan bahwa Prodi Sistem Informasi memiliki keunggulan pada kompetensi User Experience (UX) Specialist yang saat ini semakin banyak dibutuhkan oleh perusahaan yang mengembangkan aplikasi. Aksesibilitas adalah bagian dari User Experience. “Dengan perancangan UX yang berorientasi pada aksesibilitas, penyandang disabilitas dapat menggunakan produk digital dengan mudah dan nyaman, sehingga mereka dapat berpartisipasi penuh dalam kehidupan masyarakat. Kami ingin memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap isu aksesibilitas dalam ranah user experience,” paparnya. 

Disisi lain, Universitas Brawijaya adalah salah satu perguruan tinggi yang berkomitmen mewujudkan pendidikan inklusi. Kami juga menjajaki kerjasama dengan Suarise untuk memperkuat aksesibilitas digital pada layanan pendidikan di Unibraw.

Accessibility Empathy Lab Pop Up Experience Terbesar Pertama di Indonesia

Penyelenggaraan accessibility class dan empathy lab pop up experience di UB merupakan kegiatan yang pertama di Malang. Kegiatan ini juga menjadi aktivitas ELP berskala besar pertama yang diselenggarakan Suarise di Indonesia. Menyajikan sekitar 50 skenario perkenalan penerapan teknologi bagi disabilitas, Suarise menjembatani kesenjangan pengetahuan mahasiswa tentang interaksi penyandang disabilitas dengan teknologi.

Sebagai salah satu sesi interaktif, Suarise menghadirkan sejumlah aktivitas bagi pengunjung, diantaranya: belajar menambahkan alt teks pada gambar di media sosial, mengaktifkan fitur pembaca layar (screen reader) di smartphone, mencoba fitur aksesibilitas dalam playstation, mencoba mengakses website hanya menggunakan keyboard (tanpa mouse maupun trackpad), mencoba kacamata simulasi tunanetra, dan berbagai aktivitas menarik lainnya.

seorang pria yang duduk didepan laptop sedang menjelaskan kepada dua orang wanita mengenai urgensi aksesibilitas digital

(Dokumentasi: Aktivitas Accessibility Empathy Lab Pop Up Experience di Universitas Brawijaya, Malang, 14/11/2023)

Hanifah Azzahra – Dosen Filkom Universitas Brawijaya menyatakan harapannya pasca mencoba aktivitas Kamis Keyboard, kegiatan mengakses website tanpa menggunakan mouse atau trackpad, melainkan hanya menggunakan keyboard. “Harapan saya agar mahasiswa filkom bisa merasakan tantangan atau kendala yang dihadapi temen disabilitas dalam mengakses teknologi. Sehingga kelak ketika mereka menjadi developer mereka bisa fokus pada aspek aksesibilitas,” ungkapnya. 

Lebih lanjut, menurut Hanifah, acara ini bisa membuka mata para mahasiswa terhadap kendala yang dihadapi disabilitas yang mungkin tidak bisa bayangkan sebelumnya. Baginya, betapa asistif teknologi sangat membantu keseharian teman-teman disabilitas.

Ical seorang peserta mahasiswa, berharap agar Suarise dapat semakin dapat mengedukasi banyak pihak. “Semoga Suarise semakin besar dan memberikan banyak pengetahuan dan manfaat bagi banyak pihak. Jujur aku belajar banyak hal baru dari Suarise yang bisa jadi bekal aku buat berempati sebagai UX designer.”

Seorang volunteer, Nizar mahasiswa Filkom Unibraw menyatakan kesan dan harapannya selama terlibat dalam acara. Nizar mengungkapkan agar acara ini tidak terbatas dilakukan di Filkom Unibraw, tetapi bisa dilaksanakan di fakultas lain. 

“Acara ini sebaiknya bisa diselenggarakan selama dua tiga hari, tidak dilakukan di beberapa universitas saja, mungkin bisa di universitas lain maupun di jurusan lain, Politeknik misalnya. Hal ini karena aksesibilitas penting. Sebagai non disabilitas, acara ini penting untuk memahami (tantangan aksesibilitas) bagi teman disabilitas dan bagaimana asistif teknologi membantu.”

Sebagai informasi, Kegiatan ini berlangsung atas hasil kolaborasi dari berbagai pihak. Salah satu pihak tersebut adalah Information Society Innovation Fund (ISIF) Asia yang memiliki tujuan untuk menjembatani kesenjangan pengetahuan masyarakat tentang penyandang disabilitas. ISIF ASIA merupakan program pendanaan yang memiliki fokus untuk mendukung pengembangan internet dan pencapaian inklusi digital di kawasan Asia-Pasifik, termasuk di Indonesia.

Baca: Informasi seputar Accessibility Empaty Lab Pop Up Experience lainnya!

Tentang Penyelenggara

Suarise adalah perusahaan sosial independen yang fokus mempromosikan yang memungkinkan kesamaan akses dan kesempatan bagi orang-orang dengan gangguan penglihatan (tunanetra) di industri digital dan platform online. Sejak didirikan pada 2017, Suarise menyediakan tiga layanan utama. Pertama, memberikan pelatihan vokasi terkait teknologi digital bagi tunanetra dan low vision agar dapat bekerja secara independen maupun sebagai tenaga tetap dalam perusahaan. Kedua, Suarise membuka konsultasi dan riset aksesibilitas digital, serta persiapan onboarding bagi perusahaan yang akan mempekerjakan disabilitas, khususnya tunanetra dan low vision. Ketiga, Suarise menyediakan jasa penulisan konten digital yang dilakukan para talents Suarise tunanetra dan low vision.

ISIF ASIA memberikan dukungan bagi untuk proyek-proyek yang berkontribusi pada pertumbuhan teknologi Internet dan TIK untuk pembangunan sosial dan ekonomi. Suarise mendapat dukungan pendanaan penuh ISIF dalam program A11y Empathy Lab Pop Up Experience, A11y Bootcamp, A11y Design Challenge, dan Accessibility Issue Submission Challenge. ISIF ASIA bertujuan untuk mendukung inisiatif yang menangani masalah terkait Internet seperti akses, keterjangkauan, keamanan dunia maya, privasi online, hak digital, dan pengembangan konten lokal. ISIF ASIA mendorong pendekatan inovatif, kolaborasi, dan pembangunan kapasitas di kawasan. Program ini dilaksanakan oleh Pusat Informasi Jaringan Asia Pasifik (APNIC), sebuah registri Internet regional, dan telah mendukung proyek sejak didirikan pada tahun 2008. Pendanaan dan dukungan yang diberikan oleh ISIF ASIA telah berkontribusi pada berbagai inisiatif dan inovasi yang telah dilakukan. dampak positif pada pengembangan Internet dan inklusi digital di kawasan Asia-Pasifik.

 

 

Kontak Suarise 

Public Relations: iin.kurniati@suarise.com

www.suarise.com