Posts By :

Iin Kurniati

seseorang dibelenggu pita kuning bertuliskan stop sambil membawa tulisan covid

Strategi Masa Pandemi, Mengubah Tantangan Jadi Peluang

2560 1707 Iin Kurniati

Tahun 2020 akan menjadi cerita yang terekam dalam jejak sejarah bangsa. Pandemi Covid-19 tidak hanya berimplikasi terhadap sisi kesehatan, tetapi juga berdampak kepada sektor ekonomi dan kelangsungan dunia usaha, termasuk pelaku usaha sosial. Kondisi ini tak terkecuali bagi Suarise Indonesia yang memutuskan tidak melakukan pelatihan penulisan digital konten untuk tunanetra dan fokus pada bisnis konsultan dan jasa. Inilah bukti bahwa berbagai strategi masa pandemi dirumuskan demi bertahan.

Adaptif dan Inovatif Kunci Strategi Masa Pandemi

Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar jelas menciptakan kenormalan baru. Inovatif dan Adaptif menjadi dua kata kunci dalam merespons tantangan tersebut. Para pelaku usaha jungkir-balik melakukan upaya demi menjaga kelangsungan bisnisnya. 

Selain itu, masyarakat seolah dipaksa beralih ke era baru untuk meminimalisir social distancing demi memperkecil peluang terdampak. Pergeseran ke era digital inilah yang kemudian diadopsi pelaku usaha besar, kecil, dan menengah untuk menjaga kelangsungan bisnisnya. Lantas, bagaimana dengan pelaku usaha sosial?

Pertanyaan tersebut yang berusaha dijawab dalam riset mengenai apa saja dampak covid-19 kepada pelaku usaha sosial serta bagaimana strategi masa pandemi yang dilakukan untuk bisa tetap bertahan. Suarise Indonesia sebagai usaha sosial yang bergerak dibidang pengembangan pendidikan inklusi dan jasa konsultan, menjadi satu dari sepuluh usaha sosial yang menjadi objek riset dalam program Kelas Kewirausahaan Sosial (KKS). 

Mini Riset Usaha Sosial 

Program yang diselenggarakan oleh Platform Usaha Sosial (PLUS) bersama dengan Kelas Kewirausahaan UGM ini diikuti oleh 12 mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi dan terbagi dalam beberapa kelompok. Masing-masing tim mewakili industri fashion dan kerajinan, food & beverages, agrikultur, serta bidang pariwisata, pendidikan dan kesehatan.

Hasil mini riset ini menemukan bahwa sejumlah usaha sosial ada yang terdampak hebat akibat pandemi. Namun, ada pula usaha sosial yang tidak terdampak, bahkan pandemi malah memperluas peluang usaha mereka. Diversifikasi usaha, ekstensifikasi target market, hingga jalin komunikasi dan kolaborasi dengan mitra usaha lain menjadi sejumlah strategi masa pandemi.

Disisi lain, pelaku usaha sosial juga mengadopsi perubahan digital dengan mengoptimalkan penggunaan media sosial dan memanfaatkan e-commerce. Kedua platform tersebut dimanfaatkan para pelaku usaha untuk meraih awareness, dan memasarkan produk kepada konsumen. Sebagai buktinya, maraknya jual-beli online via e-commerce jadi strategi masa pandemi yang menjanjikan.

Suarise masa Pandemi

Sebagai pihak yang juga terkena dampak, Suarise melakukan perubahan strategi masa pandemi untuk mempertahankan sustainability bisnisnya. Selama pandemi ini berlangsung, kegiatan pelatihan digital content writing bagi tunanetra terpaksa ditunda. 

screen capture liputan GAAD Indonesia di Youtube Suarise

Accessibility Impact to SEO, Discussion in GAAD 2020

Tonton kembali Acara GAAD 2020

Meskipun demikian, Suarise tidak berhenti untuk mengadakan serangkaian kegiatan secara daring untuk mengkampanyekan nilai-nilai inklusi. Salah satunya melalui kampanye #BisaDiakses. Ini ialah upaya mengajak publik untuk membuat platform digital mereka – media sosial dan website – dapat diakses khususnya bagi tunanetra.

Global Accessibility Awareness Day (GAAD) Tahun 2020 menjadi tonggak awal pelaksanaan a11yid Sharing Session yang mengajak pelaku pengembang produk digital untuk berkontribusi dan implementasi aksesibilitas inklusi. Demi digital platform di Indonesia semakin #BisaDiAkses bagi lebih dari 10 juta difabel di Indonesia.

Kemudian dari sisi bisnis, Suarise membuka jasa konsultasi untuk membuat platform digital #BisaDiakses bagi perusahaan maupun industri agar lebih inklusif. Tak ketinggalan, Suarise juga mempromosikan jasa para talents yang telah menyelesaikan pelatihan. 

Baca Portofolio talents!

Melalui diskusi ini, kolaborasi dan jejaring antar para pelaku usaha diharapkan dapat terjalin semakin erat. Disamping itu, setiap usaha sosial diharapkan akan dapat saling mendukung demi meningkatkan ketahanan usaha. Kolaborasi ini juga diharapkan dapat memberikan dampak positif, tidak hanya untuk membuka jalan untuk akses bantuan, tetapi juga memupuk semangat optimisme mengatasi tantangan pandemi mendatang.

 

Tertarik menggunakan jasa Suarise? Kontak kami disini.

ilustrasi pesawat dan peta menuju eropa

Suarise, Usaha Sosial Siap Bersaing Global

2560 1707 Iin Kurniati

KEMAJUAN teknologi yang melahirkan raksasa digital dunia menginspirasi munculnya perusahaan rintisan startup, khususnya usaha sosial di berbagai belahan negara, tak terkecuali Indonesia. Meskipun ekosistem industri digital Indonesia masih terus bertransformasi, optimisme pelaku industri digital Indonesia masih sangat kuat. 

Maraknya kehadiran perusahaan rintisan usaha sosial dengan berbagai inovasi juga diiringi dukungan inkubator dan akselerator bisnis yang mengedukasi tentang menjalankan bisnis atau mengembangkan teknologi. Peran inkubator dan akselerator bisnis ini mendorong perkembangan perusahaan rintisan sehingga siap mendapatkan investasi lanjutan. 

Berlatar belakang pengalaman ketika inovasi digital ternyata dapat memajukan pembangunan berkelanjutan pada komunitas lokal, lahirlah Program Akselerator Inovasi Digital (Digital Innovation Accelerator Programme – DIAP). Program ini bertujuan mendukung perusahaan rintisan di Ethiopia, Ghana, Indonesia, Meksiko, dan Senegal menuju level berikutnya.

Pada akhir tahun 2019, DIAP membuka pendaftaran bagi startup yang memiliki solusi inovasi digital. Tahun ini DIAP fokus pada startup yang bergerak pada sektor kesetaraan gender, tindakan iklim lingkungan, serta teknologi pendidikan. Selanjutnya, terpilih 45 tim yang berhak menerima program akselerasi inovasi digital pada lima negara. 

Inklusi dan Bisnis

SUARISE menjadi satu-satunya startup usaha sosial yang bergerak di bidang pendidikan inklusi dan bisnis, di antara sembilan start up yang terpilih mengikuti program akselerator inovasi digital dari GIZ Innovation Factory  dari Indonesia. Program akselerasi yang per September 2020 telah berlangsung selama enam bulan ini memberikan berbagai dukungan pengembangan produk. Adapun jenis dukungan yang diberikan antara lain berupa dukungan pengembangan kapasitas, penyempurnaan model bisnis, dan strategi pitching/komunikasi/marketing, penguatan dampak tujuan pembangunan berkelanjutan, dan persiapan diri dalam menerima investasi.

Sebagai informasi, program ini dirumuskan oleh Kementerian Federal Jerman untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (BMZ) dan dilaksanakan oleh Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) yang didukung oleh Adelphi. Nantinya pada tahap akhir, para peserta akan berkompetisi untuk memperoleh paket dukungan khusus masing-masing sebesar €15,000 atau setara dengan Rp235 juta. Dukungan dana tersebut dapat digunakan untuk pengembangan produk atau skala start-up. Selain dukungan finansial, para pemenang juga berkesempatan untuk berjejaring dengan jaringan program Innovation Factory.

Saat ini Suarise masih mengikuti sejumlah rangkaian akhir dalam kegiatan DIAP melalui GIZ Innovation Factory dari Indonesia. Berkat program akselerator inovasi digital ini, Suarise memeroleh berbagai manfaat, khususnya dalam menyempurnakan model usaha sosial yang kami rintis. Satu langkah lagi Suarise akan menuju dunia. Semoga kami lolos ke tahap seleksi selanjutnya!

Gambar satu buah emas batangan 10 gram

Aksesibilitas Tabungan Emas di Pegadaian Luring vs Pegadaian Daring

400 300 Iin Kurniati

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengenal tentang tabungan emas Pegadaian dari suatu obrolan bersama teman-teman tunanetra. Siang itu beberapa teman tunanetra sedang mengobrol di lobi Yayasan Mitra Netra.

“Eh, gua udah cetak emas lima gram lho.. nih mau pegang nggak?” tukas Opi, seorang penyandang low vision.

“Mana, gua mau pegang dong,” serempak tiga orang tunanetra yang duduk di sekitar Opi pun mengarahkan tangan mereka ke arah suara Opi.

“Sabar dong, satu-satu. Awas, jangan sampai hilang ya.”

Ketiga tunanetra itu pun bergiliran meraba kepingan emas tersebut. 

“Wow, begini toh bentuk emas lima gram itu… Keren!” Kata salah seorang di antaranya sambil meraba kepingan emas milik Opi.

“Makanya, kalo elu-elu pada kepengen punya emas kayak gini, bukan tabungan emas dong di Pegadaian!”

ilustrasi bentuk tabungan emas batangan

ilustrasi bentuk tabungan emas batangan

Bagi para pembaca awas, yaitu non-tunanetra, mungkin percakapan di atas menimbulkan beragam reaksi. Wah, hebat ya, tunanetra juga punya tabungan emas! Ngapain tunanetra punya tabungan emas? Mana bisa tunanetra nabung emas?

Pada kenyataannya, saat ini ada banyak tunanetra yang sudah mandiri secara finansial serta ingin menabung atau berinvestasi. 

Umumnya, teman-teman tunanetra menabungkan uangnya di bank. Masih ada banyak bank yang belum menyediakan akses pelayanan online banking yang ramah terhadap tunanetra. Namun, berkat advokasi dari lembaga-lembaga yang peduli terhadap tunanetra, kini bank-bank pun memperbaiki layanannya secara bertahap.

Selain itu, dengan adanya pembekalan dan pendidikan keuangan bagi tunanetra, teman-teman tunanetra pun jadi semakin melek teknologi. Teman-teman tunanetra juga menyadari perlunya berinvestasi demi masa depan yang lebih baik. Salah satu instrumen investasi yang saat ini banyak diminati oleh tunanetra adalah tabungan emas.

Mendengar cerita beberapa orang tunanetra yang berhasil membuka tabungan emas di Pegadaian, saya pun jadi kepincut.

Sebelum memutuskan untuk membuka tabungan emas di Pegadaian, saya pun bertanya kepada beberapa teman tentang tantangan saat membuka tabungan emas di Pegadaian. Apa saja hal-hal yang perlu disediakan atau dibawa saat membuka tabungan? Apakah perlu pendamping? Hal-hal ini jadi panduan saya untuk meminimalisir hambatan yang timbul dalam proses pembukaan tabungan emas. Buat saya, akan menyulitkan jika sampai harus bolak-balik hanya gara-gara ada satu hal kecil yang tertinggal. Apalagi saya merasakan betul perlunya seorang pendamping awas yang bisa dipercaya untuk suatu proses yang bersifat pribadi, seperti yang menyangkut keuangan ini.

Baca tulisan Deasy Junaedi lainnya di sini

Kenapa saya memilih untuk membuka tabungan emas?

Konon katanya, emas logam mulia merupakan salah satu instrumen keuangan paling tua yang ada di dunia. Hampir semua orang mengenal instrumen ini untuk tujuan investasi atau dana darurat. Nilainya pun cenderung stabil dan lebih menguntungkan jika disimpan dalam jangka waktu yang lama.

Setidaknya itu adalah sedikit dari banyak manfaat menabung emas yang saya ketahui.

Kenapa saya memilih untuk menabung emas di Pegadaian? 

Sebenarnya sekarang kan sudah ada banyak instansi perbankan dan e-commerce yang memiliki fasilitas tabungan emas. Bisa saja saya membeli emas fisik untuk disimpan.

Terus terang, selain karena faktor kepincut itu tadi. Sebelumnya saya tidak pernah terpikir untuk memiliki tabungan emas. Namun, saya berubah pikiran setelah tahu bahwa proses pembukaan tabungan emas di Pegadaian mudah dan biaya pembukaannya pun terjangkau.

Sekadar info, biaya pembukaan rekening yang harus dibayar adalah Rp10.000 dan  Rp30.000 untuk biaya fasilitas titipan emas (per satu tahun).  Biaya tersebut belum termasuk biaya meterai saat mengisi formulir pembukaan rekening. Silakan baca info lengkap tentang tabungan emas di laman web Pegadaian ini.

Pada praktiknya, saya memang tidak mengalami kesulitan saat membuka rekening tabungan emas di Pegadaian yang ada di kota kediaman saya, Sukabumi. Pelayanan yang diberikan pun sangat ramah dan membantu. 

Saat itu saya didampingi teman, sepasang suami istri non-tunanetra yang sudah memiliki tabungan emas di Pegadaian. Mereka pun seringkali menawarkan bantuan untuk menemani saya jika ingin ke Pegadaian.

Maka berangkatlah saya berbekal fotokopi KTP, meterai senilai Rp6.000, uang sejumlah Rp500.000 untuk saldo awal, dan biaya pembukaan rekening. Saya didampingi teman saat menandatangani formulir pembukaan. Proses pembukaan rekening tabungan emas Pegadaian secara luring pun berjalan cepat, mudah dan lancar. Saya langsung menerima buku tabungannya.

Menjajal Layanan Tabungan Emas Pegadaian Via Aplikasi

Setelah itu, pegawai Pegadaian yang melayani saya menjelaskan tentang aplikasi Pegadaian Digital di smartphone. Jika mengunduhnya saat membuka rekening tabungan emas, kita akan mendapatkan saldo bonus Rp50.000 ke dalam rekening tabungan emas kita. Tawaran yang menarik, maka saya mengunduh aplikasi Pegadaian Digital.

Saya sudah memakai smartphone dan sejauh ini tidak mengalami kesulitan untuk mengakses aplikasi perbankan yang saya miliki. Saya berkeyakinan bahwa aplikasi Pegadaian Digital ini akan mudah diakses. Kemudian, saya meminta bantuan pegawai tersebut untuk mengunduh aplikasi Pegadaian Digital di ponsel Android Xiaomi Redmi 5A yang saya gunakan. Setelah kelar, saya lekas pulang tanpa meminta bantuan pegawai itu mengajarkan cara menggunakan aplikasi Pegadaian Digital.

Sesampainya di rumah, saya langsung mencoba menggunakan aplikasi tersebut. Namun, sangat disayangkan, ada banyak tombol di Pegadaian Digital yang tidak bisa diakses dan tidak terbaca oleh Talkback, fitur pembaca layar bawaan dari OS Android.

Penasaran, saya pun bertanya kepada teman-teman tunanetra yang sudah membuka tabungan emas di Pegadaian mengenai aplikasi Pegadaian Digital. Ternyata tak satu pun dari mereka yang mengunduh aplikasi tersebut karena katanya memang tidak bisa diakses.

Pegadaian Luring Oke, Pegadaian Daring Tidak Oke

Ah, sayang sekali! Pelayanan Pegadaian secara luring sih sudah oke, tetapi Pegadaian daring sama sekali tidak oke! Padahal katanya semua proses jual beli emas bisa dilakukan secara online tanpa perlu datang ke unit atau kantor. Katanya memungkinkan nasabahnya untuk melakukan investasi emas di mana saja, kapan saja, dan dari mana saja.

Keberadaan Pegadaian daring seharusnya sangat membantu nasabah baik yang awas maupun kaum disabilitas pada umumnya dan tunanetra pada khususnya. Seandainya aplikasi Pegadaian Digital ini bisa diakses akses bagi tunanetra, privasi tunanetra pun akan terjamin karena mereka bisa mengecek saldo emasnya secara mandiri.

Saya berharap pihak Pegadaian dapat memperbaiki layanan daringnya menjadi bisa diakses bagi tunanetra. Bukan tunanetra saja yang diuntungkan loh, Pegadaian juga bisa meluaskan jaringan nasabahnya. Selain itu, tentunya Pegadaian mendapatkan kredibilitas yang baik sebagai salah satu perusahaan yang bisa diakses dan aman bagi siapapun.

Ditulis oleh Deasy Junaedi, VIP Talent Suarise 

gambar all talents suarise batch 2

Suarise dan Mitra Netra Siapkan Tunanetra menjadi Ahli Digital Content Writing

2048 1152 Iin Kurniati

SUARISE, suatu perusahaan sosial mandiri telah menyelesaikan Pelatihan Digital Content Writing Siklus Kedua pada Minggu, 9 Desember 2018. Pelatihan ini merupakan upaya Suarise untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan visual impaired people – VIP  (tunanetra dan penyandang low-vision) melalui kecakapan digital, online, dan teknologi.

Dalam Pelatihan Digital Content Writing Siklus kedua, Suarise masih menggandeng Yayasan Mitra Netra selaku partner eksklusif. Seiring kelahiran internet dan media baru, pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas visual impaired people di bidang pendidikan. Selain itu, pelatihan ini  diharapkan dapat membuka dan memperluas lapangan kerja bagi visual impaired people dalam menghadapi era kemajuan digital. Tak hanya itu, pelatihan ini juga dimaksudkan sebagai upaya memberdayakan dan memastikan inklusivitas dan kesetaraan bagi penyadang disabilitas.

Pelatihan Digital Content Writing 

ilustrasi pelatihan digital content writing offline di yayasan Mitra Netra

Pelatihan Digital Content Writing bersama Suarise di Yayasan Mitra Netra

Digital Content Writing Training Siklus Kedua ini telah dilaksanakan mulai tanggal 5 Agustus 2018 hingga 9 Desember 2018 dengan 8 peserta dalam 18 sesi pertemuan. Metode pelatihan mengombinasikan pertemuan tatap muka (offline class) dan pertemuan jarak jauh melalui fasilitas e-learning (online class). Upaya ini berbeda dibandingkan siklus pertama (periode Februari – April 2018) yang fokus pada pertemuan tatap muka. Pada siklus sebelumnya, jumlah peserta terdiri dari 10 orang peserta dengan 16 sesi pelatihan yang bervariatif sesuai kurikulum yang disusun. 

Kurikulum sesi Pelatihan Digital Content Writing Siklus Kedua ini meliputi pertama pengenalan konten dalam digital marketing. Kedua, pelatihan kemampuan dasar digital content writing. Ketiga, simulasi dan praktek penulisan digital content writing secara langsung. Setiap akhir pelatihan, Suarise rutin melakukan evaluasi dan memberikan masukan bagi para peserta pelatihan untuk memastikan perkembangan kemampuan digital content writing yang dimiliki sesuai standar yang ditetapkan Suarise.

Selanjutnya, Suarise membantu untuk menutup kesenjangan keterampilan dengan mendukung pengajaran dan pendidikan mandiri. Suarise berupaya meningkatkan fleksibilitas bagi pekerja dan pengusaha dengan mengembangkan sistem kerja yang efisien. Disamping itu, Suarise turut memberdayakan peningkatan kualitas hidup VIP dengan mendistribusikan talent untuk proyek/perusahaan yang membutuhkan keterampilan digital spesifik.

ilustrasi kelas online

Kesetaraan Hak bagi Tunanetra

150 150 Iin Kurniati
tunenetra menggunakan smartphone untuk tentukan arah jalan

Seorang tunanetra memanfaatkan smartphone dalam kehidupannya

Tidak ada manusia yang sempurna baik secara fisik maupun kemampuan. Dalam setiap kekurangan, pasti ada kelebihan di dalamnya, termasuk bagi teman-teman tunanetra. Hal ini pula yang menjadikan tunanetra memiliki kesetaraan hak di bidang hukum serta berbagai sendi kehidupan lainnya. Kesetaraan ini juga meliputi hak mendapatkan pendidikan dan pekerjaan yang layak serta dalam berekspresi, berkomunikasi, serta memperoleh informasi di era digital.

Berdasarkan data Susenas seperti dikutip dari Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan tahun 2014, tunanetra merupakan jenis disabilitas terbesar di Indonesia. Sekitar 29,63% dari total distribusi penyandang disabilitas ialah tunanetra. Total penyandang disabilitas di Indonesia sendiri mencapai 2.45% dari total penduduk di Indonesia.

Kesetaraan tunanetra di mata hukum

Secara internasional, kesetaraan hak disabilitas, termasuk tunanetra diatur dalam konvensi PBB yaitu Convention on the Rights of Persons with Disabilities (CRPD). Sejak dirumuskan tahun 2006 Indonesia baru resmi menandatanganinya setahun kemudian. Indonesia sendiri menjadi negara ke-9 yang menandatangani konvensi ini diantara 82 negara pada tahun 2007. Namun Indonesia baru meratifikasi CRPD empat tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2011.

CRPD menjelaskan prinsip dasar dan sikap yang seharusnya dilakukan terhadap penyandang disabilitas. Prinsip dan sikap tersebut yaitu menghormati martabat manusia dengan keterbatasan yang dimiliki, dan bersikap non-diskriminasi. Selanjutnya, menerima dan memberi kesempatan kaum difabel untuk berpartisipasi dalam masyarakat, dan kesetaraan hak di lingkungan masyarakat. Berikutnya terkait permasalahan hak pendidikan dan pekerjaan secara internasional diatur dalam International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights (ICESCR). Sebagai informasi, konvensi yang dirumuskan pada tahun 1966 ini baru diratifikasi Indonesia tahun 2006 silam.

Di Indonesia, sendiri kini Kesetaraan hak di bidang hukum bagi Hak-hak kaum difabel, termasuk tunanetra dilindungi dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 2016 tentang Disabilitas. Salah satu diantaranya yakni pada pasal 5 ayat 1 huruf e dan f dinyatakan bahwa penyandang disabilitas memiliki hak pendidikan, pekerjaan, kewirausahaan, dan koperasi.

Dalam regulasi itu, di pasal 53 juga disebutkan bahwa Pemerintah, Pemerintah Daerah, Badan Usaha Milik Negara, dan Badan Usaha Milik Daerah wajib mempekerjakan paling sedikit 2% (dua persen) Penyandang Disabilitas dari jumlah pegawai atau pekerja, Sementara Perusahaan swasta wajib mempekerjakan paling sedikit 1% (satu persen) Penyandang Disabilitas dari jumlah pegawai atau pekerja.

Kesetaraan hak bagi difabel termasuk tunanetra juga disebutkan dalam pasal Pasal 24 Huruf B dalam hak untuk berekspresi, berkomunikasi, dan memperoleh informasi. Kesetaraan hak itu meliputi hak: a) memiliki kebebasan berekspresi dan berpendapat; b) mendapatkan informasi dan berkomunikasi melalui media yang mudah diakses; dan c) menggunakan dan memperoleh fasilitas informasi dan komunikasi berupa bahasa isyarat, braille, dan komunikasi augmentatif dalam interaksi resmi.

 

Tunanetra Jago Digital

Berbagai regulasi itu sejatinya akan memudahkan para penyandang disabilitas, khususnya tunanetra baik dalam hal pendidikan, hingga mendapat pekerjaan. Sayangnya, belum ada data pasti sudah berapa banyak perusahaan maupun instansi pemerintah yang telah merealisasikan kewajiban tersebut.

Aksesibilitas infrastruktur kerap menjadi faktor utama sebuah perusahaan atau instansi pemerintah masih enggan menerima tunanetra sebagai pekerja.. Akibatnya, jenis pekerjaan tunanetra dan penderita low vision terbatas menjadi tukang pijit, admin kantor, teknisi, tukang batu, petani, penjual sapu/kemoceng/pulsa, loper koran, teknisi komputer, montir, penambal ban, dan sejumlah pekerjaan yang jauh dari dunia digital.

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat tidak memandang sebelah mata penyandang tuna netra. Inilah saatnya memberikan kesempatan bagi tuna netra ikut serta dalam perkembangan dunia digital. Bila aksesibilitas infrastruktur yang dijadikan alasan tidak menggunakan kemampuan tunanetra, tunanetra yang mandiri akan menjadi satu kelebihan tersendiri bagi para pelaku usaha untuk dapat memanfaatkan kemampuan mereka.

tampilan blog saat menambah post terbaru

Tampilan blog

Salah satu entitas yang berupaya meningkatkan kemampuan tunanetra di bidang digital ialah Suarise. Kami hadir meningkatkan kemampuan dan keterampilan visual impaired people – VIP  (tunanetra dan penyandang low-vision) melalui kecakapan digital, online, dan teknologi dalam bentuk Pelatihan Digital Content Writing.

Pelatihan ini akan membantu menutup kesenjangan keterampilan dengan mendukung pengajaran dan pendidikan mandiri. Pelatihan ini juga bisa meningkatkan fleksibilitas bagi pekerja dan pengusaha dengan mengembangkan sistem kerja yang efisien, dan efektif. Selain itu, bisa memberdayakan peningkatan kualitas hidup VIP dengan mendistribusikan talent untuk proyek/perusahaan yang membutuhkan keterampilan digital spesifik.

Akhirnya, dengan memberikan kepercayaan bagi tunanetra, mereka akan dapat menciptakan lebih banyak karya dan kreativitas khususnya di bidang digital. Pada akhirnya diharapkan terhapus stigma bahwa tuna netra tidak bisa masuk dunia digital. Sebaliknya, tunanetra harus maju, tunanetra juga bisa jago digital bahkan bisa memiliki kesetaraan hak.

 

Ditulis oleh Iin Kurniati, Public Relation untuk Suarise.