pembaca layar

Anti Antre, Cara Top Up Kartu KRL dari HP, Disabilitas Netra pun Bisa!

150 150 Bayu Firmansyah

Bisa ketinggalan kereta? Dalam siaran pers resminya KCI mengklaim bahwa aplikasi C-Access memudahkan akses bagi disabilitas, kenyataannya fitur-fitur yang disediakan oleh aplikasi KRL tersebut belum sepenuhnya aksesibel dengan seluruh pengguna. Contohnya adalah disabilitas netra tidak bisa mengakses fitur jadwal KRL.

Keterbatasan ini berpotensi menimbulkan risiko untuk pengguna menjangkau tujuan dengan tepat waktu. Keterlambatan dalam mengakses informasi jadwal dapat mengakibatkan pengguna terlewat jadwal keberangkatan kereta yang pada gilirannya dapat mengganggu mobilitas dan produktivitas mereka. Apa lagi untuk pengguna KRL Yogyakarta-Solo. Berbeda dari KRL di Jabodetabek yang lewat beberapa menit sekali, frekuensi keberangkatan KRL relatif lebih jarang yaitu sekali dalam kurang lebih satu jam. Lantas apakah kurangnya aksesibilitas C-access dari segi jadwal membuat aplikasi ini diabaikan saja?

Cara Disabilitas Netra Membaca Jadwal KRL

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut mari ketahui bagaimana cara Disabilitas netra membaca jadwal KRL. Disabilitas netra dapat melakukan berbagai hal di smartphone termasuk membaca jadwal KRL berkat software screen reader. Software ini berfungsi membacakan seluruh konten yang ada di layar. Namun, kemampuan screen reader ini bergantung dari tingkat aksesibilitas. Aksesibilitas adalah prinsip yang memastikan sebuah aplikasi atau website dapat diakses, dimengerti, dan digunakan dengan mudah oleh semua pengguna dari berbagai kalangan termasuk disabilitas netra.

Penyebab Fitur Jadwal KRL di C-access Tidak Aksesibel Untuk Disabilitas Netra

Disabilitas netra menemui kendala saat menggunakan fitur jadwal di aplikasi C-Access. Di sini pengguna harus memilih stasiun dan rentang waktu pencarian. Aksesibilitas fitur pemilihan stasiun dapat diakses screen reader. Sayang, tidak diikuti oleh opsi penentuan rentang waktu perjalanan. Secara default, rentang waktu yang ditawarkan adalah satu jam ke depan. Pengguna dapat mengubah rentang waktu ini. Tetapi, tindakan ini tidak bisa dilakukan menggunakan screen reader. Screen reader hanya mengucapkan “-“. Hal ini menimbulkan masalah sebab seperti penjelasan di awal tulisan ini, frekuensi perjalanan KRL Yogyakarta-Solo tidak selalu satu jam sekali. Hal ini menyulitkan pengguna untuk melihat keseluruhan jadwal perjalanan dalam satu hari.

Solusi Menemukan Jadwal KRL

Untungnya masalah ini dapat teratasi. Pengguna dapat mengakses informasi jadwal melalui portal berita online atau aplikasi Access by KAI. Di aplikasi access by KAI juga memiliki fitur memeriksa jadwal KRL serupa yang ada di aplikasi C-access. Bedanya aksesibilitasnya lebih baik. Pengguna dapat mengetik waktu yang diinginkan meliputi jam dan menit.

Lantas Apa Gunanya C-access?

Meskipun aksesibilitas C-access dari segi fitur jadwal buruk, fitur-fitur penting lain telah dirancang agar bisa diakses oleh disabilitas netra.

Isi Saldo KMT Tanpa Bantuan Orang Awas

Umumnya orang awas tidak akan menemukan kendala yang berarti ketika ingin mengisi saldo KMT secara offline di loket stasiun atau vending machine. Namun, bagi disabilitas netra, proses ini menghadirkan tantangan tersendiri. Disabilitas netra kesulitan bernavigasi di area stasiun untuk menemukan lokasi loket atau vending machine terutama jika disabilitas netra belum pernah mengunjungi stasiun tersebut sebelumnya. Seandainya disabilitas netra tahu lokasinya, mereka tetap memerlukan waktu lebih lama untuk menuju ke loket stasiun atau vending machine. Hal ini menjadi kendala utama. Bagaimana jika saldo KMT habis di stasiun yang belum pernah dikunjungi sebelumnya?

Dalam situasi ini fitur cek dan pengisian saldo KMT yang terdapat di aplikasi C-Access menjadi solusi. Disabilitas netra cukup menempelkan kartu KMT pada sensor NFC di smartphone. Lalu, aplikasi akan menampilkan informasi mengenai saldo yang tersedia. Jadi, disabilitas netra dapat mengisi ulang saldo KMT sesuai kebutuhan. Selain cek dan mengisi saldo, di C-access juga bisa menampilkan riwayat KMT meliputi penggunaan dan transaksi. Fitur ini menjadi kemenangan mutlak aplikasi C-Access sekaligus memberi alasan mengapa aplikasi C-Access tetap dibutuhkan meski sudah ada aplikasi access by KAI.

Kabar baiknya, fitur KMT tersebut mencakup cek dan isi saldo serta riwayat penggunaan telah menerapkan aksesibilitas yang baik. Screen reader mampu membaca seluruh informasi yang ada sehingga disabilitas netra dapat mengisi saldo secara mandiri.

Fitur KMT Jaga Privasi dan Lebih Aksesibel

Fitur KMT dalam C-access yang telah menerapkan aksesibilitas memberikan privasi bagi disabilitas netra. Metode pengisian secara offline mengharuskan disabilitas netra didampingi orang lain untuk membantu membacakan informasi sisa saldo.

Metode pembayaran menggunakan KMT lebih aksesibel bagi disabilitas netra. Sama seperti pengisian saldo, disabilitas netra cukup menempelkan kartu KMT ke mesin yang disediakan. Sementara itu, metode QRIS yang terkesan lebih praktis karena hanya membutuhkan smartphone tanpa alat tambahan menghadirkan tantangan aksesibilitas. Disabilitas netra kesulitan mengarahkan kamera smartphone ke QR code untuk memindai.

Mudah Cari Stasiun Terdekat

Aplikasi C-access dilengkapi dengan fitur pencarian stasiun terdekat. Dengan mengaktifkan fitur GPS, aplikasi akan secara otomatis mendeteksi lokasi pengguna saat ini dan menampilkan stasiun kereta api terdekat. Fitur ini dapat diakses oleh screen reader. Fitur ini membuat disabilitas netra tidak perlu beralih ke google maps untuk mencari stasiun terdekat. Dengan demikian, penyandang disabilitas netra dapat lebih mandiri dalam merencanakan perjalanan menggunakan KRL, bahkan di daerah yang belum mereka kenal sebelumnya.

Lakukan Perbaikan untuk Aksesibilitas C-access lebih baik

Walaupun aksesibilitas C-access memiliki sejumlah kekurangan, bagi disabilitas netra aplikasi ini tetap memiliki peran besar membantu mereka lebih mandiri. Harapannya tentu semoga KCI memperbaiki fitur jadwal kereta menjadi aksesibel agar bisa diakses semua orang. KCI dapat mencontoh cara yang dilakukan oleh saudaranya yaitu Access by KAI. Setelah melakukan perbaikan penting untuk mengujinya langsung ke user.

Suarise dapat mengakomodir kebutuhan layanan digital untuk melakukan user testing disabilitas. User yang dimiliki Suarise berasal dari berbagai latar belakang sehingga hasil temuannya bisa merepresentasikan pengguna secara umum.

User testing adalah sarana evaluasi melihat apakah perbaikan yang dilakukan tepat atau belum. Hubungi project@suarise.com untuk info selengkapnya!

 

Ditulis oleh Bayu Aji F.

Talent Content Writer Disabilitas Netra Suarise.

gambar pria menggunakan laptop

5 Hal yang Perlu Diketahui Tentang Cara Tunanetra Mengakses Internet

5029 3353 Juwita Maulida

Kemajuan pesat di bidang teknologi informasi merupakan salah satu pendukung kemandirian bagi VIP (visually impaired people) atau biasa dikenal dengan penyandang tunanetra. Selain komputer yang dilengkapi dengan perangkat lunak pembaca layar, internet juga menjadi kecanggihan teknologi yang dapat membantu VIP dalam kehidupannya sehari-hari. 

Dengan mengakses internet, penyandang tunanetra dapat melakukan berbagai hal secara mandiri, seperti membaca berita online, menonton video di Youtube, dan berjejaring sosial. Namun, yang menjadi pertanyaan, bagaimana cara penyandang tunanetra mengakses internet? Bukankah VIP memiliki hambatan penglihatan sehingga tidak dapat menatap layar komputer, laptop atau smartphone? Berikut penjelasannya.

Ilustrasi laptop dan smartphone

Cara tunanetra mengakses internet lewat laptop dan smartphone adalah dengan menggunakan pembaca layar

 

1. Siapkan Perangkat Pendukung.

Agar VIP dapat mengakses internet, tentu diperlukan perangkat seperti komputer atau laptop. Tak hanya kedua perangkat tersebut. Ponsel pintar pun kini dapat dimanfaatkan VIP untuk mengakses internet. Pertanyaan selanjutnya, apakah diperlukan komputer, laptop atau smartphone khusus bagi penyandang tunanetra? Umumnya orang awam mengira bahwa perangkat yang digunakan VIP merupakan yang diciptakan khusus untuk mereka. Pendapat ini keliru, karena yang digunakan adalah perangkat yang sama dengan yang digunakan orang-orang umumnya, yang bisa dibeli di toko gawai biasa. Lalu, di mana letak perbedaannya? Cek poin berikut ini!

2. Software Pembaca Layar

Software pembaca layar atau screen reader inilah yang membedakan komputer dan laptop  yang digunakan oleh VIP dengan orang non-tunanetra/awas. Software pembaca layar ini bekerja dengan membacakan semua teks yang terpampang di layar perangkat. Jadi, meskipun VIP tak dapat melihat, mereka hanya perlu mendengarkan screen reader membacakan apa yang tertera di layar perangkat. Saat ini ada dua jenis software pembaca layar yang sering digunakan penyandang tunanetra di Indonesia, yakni JAWS (berbayar) dan NVDA (tidak berbayar). Keduanya dapat dipasang pada perangkat komputer dan laptop dengan sistem operasi Windows. Sedangkan untuk smartphone, pembaca layar telah tersedia tanpa perlu di-install. Para VIP pengguna smartphone hanya perlu mengaktifkannya di menu setting atau accessibility. Sebagai informasi, software pembaca layar pada Andorid disebut Talkback, sedangkan untuk perangkat Apple dikenal dengan nama Voice Over. Dengan bantuan piranti lunak pembaca layar, para VIP bisa mengakses internet, bekerja, atau meng-update status di akun media sosial.

Contoh penggunaan Google Forms dengan Pembaca Layar

Tonton juga: Tunanetra pesan ojol, mana yang lebih mudah diakses?

3. Keyboard untuk Bernavigasi

Ketika mengoperasikan komputer atau laptop, umumnya orang akan menggunakan mouse atau touchpad. Hal ini tidak berlaku bagi VIP. Alih-alih menggunakan mouse untuk bernavigasi mengakses dunia internet, penyandang tunanetra menggunakan keyboard komputer. Karena keterbatasan penglihatan, tentu saja sulit bagi seorang tunanetra untuk menentukan letak kursor dan mengeklik menu yang diinginkan. Keyboard pada komputer atau laptop menjadi solusi bagi para VIP untuk menjelajahi halaman-halaman di internet. 

Tonton juga: #KamisKeyboard Website Lowongan Kerja ini Belum Akses bagi Tunanetra!

Lalu, bagaimana dengan layar sentuh pada smartphone? Pada dasarnya navigasi pada smartphone tidak jauh berbeda antara pengguna yang tunanetra dan orang awas. Poin penting yang membedakan adalah konsep “double tap” atau ketuk dua kali untuk membuka menu dan fokus pembaca layar hanya pada  satu menu yang ditunjukkan kursor. Untuk mengetik, rata-rata VIP yang mahir mengoperasikan komputer, laptop dan smartphone telah menghafal letak dan susunan keyboard. Di samping itu, untuk menguasai navigasi keyboard ini, VIP biasanya harus mengikuti kursus komputer bicara atau mengetik sepuluh jari terlebih dahulu.

seorang pria tunanetra mengakses Google Form di depan laptop

Peserta Suarise tengah mengisi Post Test menggunakan Google Form (Doc. Suarise)

4. Shortcut Untuk Menjelajahi Internet

Setelah ketiga poin sebelumnya terpenuhi, ada tantangan berikutnya yang harus ditaklukkan oleh VIP, yaitu menjelajahi internet. Jika orang awas dapat melihat halaman di internet pada satu layar penuh dan kemudian menggerakkan kursor menuju link yang diinginkan, tidak begitu halnya dengan VIP. Mereka harus sabar menelusuri satu per satu heading, content, dan link-link untuk mendapatkan informasi yang dicari. Tentu saja ini cukup memakan waktu. Oleh karenanya, software pembaca layar memiliki shortcut atau jalan pintas yang bisa dihafalkan oleh VIP agar memudahkan penelusuran halaman internet. Beruntung, menu shortcut pada screen reader hampir serupa satu sama lain, jadi memungkinkan semua tunanetra mengoperasikan perangkat komputer berganti-ganti tanpa harus mempelajari ulang cara penggunaannya. Contoh shortcut yang sering digunakan VIP untuk menelusuri halaman di internet adalah tombol “h” untuk berpindah antar judul (heading), huruf “b” untuk menuju ke menu button, huruf “e” untuk mencari kolom pencarian dan huruf “k” untuk menelusuri link.

5. Keterbatasan Mengenali Gambar

Kecanggihan teknologi memang dapat membuat VIP mengakses internet secara mandiri, tetapi tetap saja ada beberapa hal yang masih terbatas untuk diakses penyandang tunanetra, seperti mengenali grafik, foto, dan gambar. Kemampuan screen reader saat ini hanya dapat membacakan informasi berbentuk teks. Hal ini membuat para VIP tetap harus bertanya pada orang non-tunanetra untuk mengetahui gambar apa yang ada pada halaman yang sedang dibacanya. Untungnya, ada fitur alt-text yang membantu penyandang tunanetra memahami konteks pada gambar. Fitur ini berfungsi memberikan deskripsi tentang gambar terkait. Fitur teks alternatif ini telah tersedia pada beberapa media sosial seperti Facebook, Instagram, dan Twitter. Untuk halaman web di internet pun, keterangan gambar juga dapat ditambahkan ketika sebelum diunggah.

Baca juga Cara Mengaktifkan Pembaca Layar di Iphone/iPad

Nah, demikianlah penjelasan singkat tentang bagaimana penyandang tunanetra atau VIP dapat mengoperasikan komputer dan mengakses internet. Pesatnya kemajuan teknologi telah memberikan banyak  kemudahan bagi setiap orang, tak terkecuali mereka yang memiliki keterbatasan penglihatan. Penguasaan teknologi tersebut juga menjadikan para penyandang tunanetra lebih mandiri, produktif dan mampu bekerja layaknya orang non-tunanetra.

 

Ditulis oleh Juwita Maulida Rahmawati, VIP Talent Suarise

Cek portfolio tulisan Juwita di talents.suarise.com