Monthly Archives :

March 2010

Teknologi bagi Tuna Netra

150 150 suarise

Perkembangan teknologi di bidang IT, medical engineering maupun biological engineering telah memberikan peluang pengembangan berbagai alat bantu yang ditunjang oleh teknologi modern. Serangkaian penelitian telah dilakukan melibatkan berbagai aspek teknologi, yang antara lain dapat disebutkan sebagai berikut.

1. Guide Device for the Visually Handicapped
Sistem ini merupakan hasil proyek kerja sama antara Kementrian  Perdagangan & Industri dengan Kementrian Kesehatan dan Kesejahteraan. Sistem ini dikembangkan dengan memadukan teknologi photoelectric & ultrasonic, untuk mendeteksi obstacle. Data ini kemudian ditransmisikan kepada user lewat micro-computer. Output dari transmisi berupa suara/bunyi yang akan diteruskan ke pendengaran pemakai. Dengan demikian, mereka akan dapat memahami situasi lingkungan di mana dia berada. Mereka pun dapat mengenali jenis obyek yang menjadi penghalang di depannya, sehingga dapat berjalan dengan aman.

2. Mesin foto copy Braille
Sistem ini dilengkapi dengan OBR (Optical Braille Character Reader). Pertama-tama draft yang tertulis dalam huruf braille akan mengalami proses “Braille Character Recognition”, dan hasil dari proses ini akan ditampilkan di CRT berupa huruf Braille ataupun huruf alphabet, dan katakana pada umumnya. Kemudian user akan mengoreksi sekiranya ada kesalahan pada hasil baca OBR tsb. dan kemudian, hasil editing ini akan diteruskan ke Braille I/O typewriter. Sebagaimana no.1 di atas, proyek ini juga merupakan hasil proyek kerja sama antara Kementrian Perdagangan & Industri dengan Kementrian Kesehatan dan Kesejahteraan.

3. Book-reader for the Visually handicapped
System ini terdiri dari : alat otomatis untuk membalik halaman, scanner, character recognizer, sistem untuk analisa kalimat, speech synthesizer, dan recording unit. Cara kerja sistem ini adalah : Buku ditempatkan di posisi terbaca oleh scanner, dan kemudian scanner akan mengubah tampilan ke bentuk image. Selanjutnya character recognizer (OCR) akan melakukan transformasi image-character, dan sehingga didapat text-based information. Hasil proses ini akan melalui analisa gramatikal, sehingga didapat kalimat yang benar secara grammar dan dapat difahami. Selanjutnya speech synthesizer akan mengubah kalimat ini ke dalam media suara, sehingga dapat dipahami oleh penderita tuna netra.

4. Three-dimensional Information Display Unit
Display ini dibuat dari banyak pin 3 dimensi. Alat ini ditujukan khusus untuk para tuna netra, sehingga informasi lingkungan yang berada di depannya akan diterjemahkan ke dalam pattern tertentu yang ditunjukkan oleh komposisi pin pada display.

5. Sistem Navigasi menggunakan Optical Beacon (Tokai University)
Sistem ini ditujukan untuk membantu membimbing user (tuna netra) di dalam ruangan, agar bisa menuju lokasi yang diinginkan dalam suatu bangunan. Dibandingkan dengan sistem navigasi yang memakai GPS, sistem yang ditunjang oleh optical beacon ini memiliki keunggulan dalam pemakaian dalam ruangan. GPS memang memberikan informasi yang cukup handal untuk pemakaian di outdoor environment, akan tetapi kurang tepat untuk pemakaian indoor. Sistem yang dikembangkan oleh team Tokai University ini diuji dalam suatu ruangan yang dilengkapi dengan optical beacon yang berfungsi sebagai transmitter sinar infra merah. User membawa sebuah receiver yang menerima signal dan informasi yang dipancarkan oleh optical beacon tsb. Selanjutnya dari signal ini, system akan menghitung posisi dimana user berada. Informasi posisi ini akan dipancarkan ke user, dan receiver akan meneruskannya ke processing unit (notebook computer) yang dibawa oleh user. Informasi posisi ini akan berfungsi sebagai input bagi processing unit, dan outputnya adalah informasi berupa suara dari speaker, yang menuntun user ke arah tujuan yang diinginkan.

6. Pengembangan sistem transfer informasi visual 3 dimensi ke dalam informasi dimensional virtual sound. (Tsukuba University).
Informasi visual disekeliling user diperoleh melalui stereo kamera, untuk memperoleh gambaran 3 dimensi posisi dan situasi dimana user berada. Kemudian informasi ini diterjemahkan dan disampaikan kepada user dengan memakai 3 dimensional virtual acoustic display. Dengan demikian user akan memperoleh informasi benda apa saja yang disekitarnya dan bagaimana pergerakan masing-masing object tsb.

Walau terbilang langka, tetapi penelitian dan pengembangan sistem rehabilitasi tuna netra telah mulai dilakukan juga di Indonesia. Pada tahun 1991, telah didirikan Mitra Netra Foundation sebagai salah satu lembaga yang memberikan pengabdian bagi rehabilitasi tuna netra. Lembaga ini melakukan kolaborasi dengan BPP Teknologi, dan dalam kerjasama tsb. Direncanakan pengembangan teknologi text to speech synthesizer, yang mengubah tampilan pada monitor komputer ke dalam informasi berupa suara. Beberapa tema penelitian yang barangkali dapat dirintis untuk dikembangkan di Indonesia antara lain:
1. OCR : Roman Alphabets-Braille Converter System
System ini merupakan pengembangan software OCR, sehingga hasil scanning terhadap buku, dokumen,suratkabar dsb. akan diubah format penyajiannya ke dalam braille-based output. Selain itu terbuka juga kemungkinan untuk memadukannya dengan text to speech synthesizer sehingga didapat output berupa suara.
2. Pengembangan perpustakaan CD yang dikhususkan bagi para tuna netra, sesuai dengan standar internasional DAISY (Digital Audio-Based Information System). Di Jepang, sistem ini telah berkembang dengan baik, dan dengan memanfaatkan teknologi kompresi, sebuah CD dapat menyimpan rekaman sepanjang 50 jam.
3. Pengembangan software voice recognition system khusus untuk bahasa Indonesia, sebagai media input bagi komputer.
4. Pengembangan dan pengadaan software komputer yang diperuntukkan khusus bagi tuna netra..

Selain teknologi yang dikembangkan di atas, terdapat beberapa software yang telah dikenal dan dijual secara bebas yang sifatnya TTS (Text to Speech) synthesizer. Software tersebut adalah:

JAWS (Job Access With Speech)

Jaws for Blind and Low VisionJaws adalah piranti pembaca layar  screen reader) yang memang dikhususkan bagi penderita gangguan penglihatan. Software ini diproduksi oleh The Blind and Low Vision Group at Freedom Scientific of St. Petersburg, Florida, USA. Tujuannya adalah untuk membuat komputer yang digunakan dapat diakses oleh kalangan tuna netra dengan cara menterjemahkan visual  yang terpampang di layar monitor kedalam suara. Hal ini meliputi jendela aplikasi yang keluar, pengguanaan perinta/command, hal hal yang diketik, informasi teknis dokumen (misal ukuran byte-nya, ukuran font, huruf apa yang digunaan, kecepatan bicara dan seterusnya. Software ini juga dapat dimodifikasi oleh masing masing orang, terutama terkait dengan shortcut ataupun command yang digunakan untuk mempermudah kerja tuna netra yang bersangkutan. Sejauh ini JAWS hanya dapat digunakan pada komputer yang menggunakan system operasi Windows dan menggunakan ejaan Inggris dalam pengucapannya. Software ini merupakan akses yang paling esensial bagi tuna netra saat ini untuk melakukan pekerjaannya, terutama yang berkaitan dengan komputer.

Nuance TALKS

Nuance TALKS adalah softare keluaran Nuance yang berfungsi sebagai Text to Speech yang digunakan pada telepon genggam. Aplikasi ini dapat dijalankan pada telepon genggam yang telah menggunakan teknologi Symbian™ . Software ini menyebutkan apapun yang terjadi dengan telepon genggam, seperti panggilan telepon masuk, sms, menu, dan sebagainya.

MLM for the Blind

MLM for the Blind kependekan dari My Learning Module for the Blind, yaitu sebuah alat media baca elektronik untuk para tuna netra yang beroperasi tanpa komputer (stand alone). MLM merupakan alat yang merekayasa perangkat keras dan lunak sekaligus, untuk membuat para tuna netra memiliki alat pembaca buku digital portabel. Diciptakan oleh Erik Taurino Chandra, Rico Wijaya dan Yudhi yang merupakan mahasiswa IT dari  Universitas Bina Nusantara , alat ciptaan mereka ini mampu menerjemahkan tulisan elektronik atau artikel e-book ke dalam huruf Braille, dan enaknya bisa ditenteng-tenteng kemana saja oleh teman-teman tuna netra. Masalah keterbatasan bahan bacaan bagi para tuna netra, diatasi oleh kreatifitas dahsyat mereka bertiga.

MLM for the Blind

MLM for the Blind terdiri dari tombol input, 42 braille cells, buzzer dan Multi Media Card (MMC). Tombol input digunakan untuk memilih judul, membuka bacaan menampilkan baris bacaan serta input halaman bacaan. 42 braille cells akan menampilkan karakter braille. Dua karakter pertama akan menampilkan baris bacaan dan 40 karakter lainnya merupakan isi bacaan yang ditampilkan. Sedangkan buzzer digunakan untuk memberikan pesan kesalahan pada pengguna. Data yang bisa dibaca oleh alat ini melalui MMC yaitu dalam bentuk textfiles (*.txt). MLM for the Blind masuk dalam nominasi INAICTA 2009 kategori ‘e-Learning’. Saat Malam Penganugerahan lalu (29/7), produk ini mendapatkan gelar Special Mention, yaitu bentuk penghargaan tersendiri dari juri yang penilaiannya tidak bisa diganggu gugat.

sumber:
Laporan Tugas akhir Rahma Utami, DKV ITB
http://kickandy.com/theshow/2010/03/05/1836/1/1/1/INOVASI-TIADA-BATAS-
http://www.teknopreneur.com/content/kabar-baik-untuk-tuna-netra-dari-mlm-blind


Langkah awal

150 150 suarise

Sebuah langkah awal yang sejauh ini direncanakan adalah membangun online campaign. Blog ini salah satunya sebagai base information ketika orang ingin mengetahui tentang kampanye ini. Content dapat berubah sewaku-waktu namun update-an akan terbatas pada progress yang dihasilkan, peluang/kesempatan yang dimiliki, dan fakta yang dapat membangun dan mengembangkan kampanye ini.

Sejauh ini, baik media blog dan twitter baru merupakan usaha personal. Diharapkan ketika nanti kampanye ini benar2 terjalin antara pihak-pihak terkait, kedua media online ini dapat di kembangkan dan dijalankan bersmaa-sama oleh seluruh aspek tim kampanye.

Secara ide, saya sendiri terpikirkan untuk pengajuan pembuatan job database seperti JobsStreet atau JobsDB bangi kalangan tuna netra sebagai upaya 2 arah dalam mepromosikan kemampuan mereka. Arah pertama : ara tuna netra dapat memberikan informasi mengenai kompetensi yang mereka miliki, arah kedua: perusahaan juga memiliki field pencarian yang jelas serta dapat menghubungi orang yang menarik dan memiliki kompetensi yang dicari perusahaan. Harapannya dapat terjadi semacam interaksi juga disini. Yang saya tahu, perencanaan ke arah ini ternyata telah dimulai juga oleh PERTUNI (wah, ternyata ide kita sama ). Namun progress reportnya belum dapat dilaporkan disini.

Ketika prototype website ini jadi, maka langkah selanjutnya *yang sebeulnya dapat dilaksanakan secara pararel selama pembuatan prototype website* adalah database dari para tuna netra berkompetensi. Nantinya data ini dapat dimasukan baik secara offline (dari pembangun ‘jobsDB’ nya) maupun online personal tiap tuna netra. maka dari iu, selain database awal yang tealh dimiliki, diperlukan upaya promosi di kalangan tuna netra sendiri tentang keberadaan web ini sendiri untuk membantu aksebilitas mereka dalam memasuki dunia kerja. Hal ini akan terus menerus berjalan.

Sambil menunggu jobs DB ini selesai, kampanye pada tahap Conditioning sudah dapat mulai digencarkan.

Setelah web siap dan sekiranya database dalam si ‘JobsDB’ ini dirasa mencukupi, barulah diadakan semacam Grand Launching. Jika dalam tahapan kampanye, hal ini berbarengan dengan tahapan informing, dimana goalnya adalah terbukanya kesempatan interview yang adil bagi para tuna netra. Saran saya betul-betul berupa suatu acara offline yang didukung oleh segenap mass media terkait dengan mass publication dan mass communication. Bentuk offline event nya sendiri sejauh ini masih seperti yang saya rencanakan di tugas akhir, paduan antara Experience, music, talk show, dan exhibition dimana pihak-pihak yang diundang betul-betul bukan sembarang pihak (okay, terdengar agak kurang riil objeknya, tapi saya rasa cukup ngerti kan?)

ohya…semoga bisa diwujudkan.

Segala partisipasinya akan kami hargai 😀

Visual : Ambient Media

150 150 Rahma Utami

Ambient media ini merupakan haisl dari brainstorming contact point sesai yang dikatakan oleh Djito Kasilo. (Semoga tepat sasaran, amin)

Visual Concept : Print Ad

150 150 Rahma Utami

Post ini berisi rancangan kampanye berupa Print Ad. Secara stage, ini merupakan bagian dari Conditioning Part B ( baca : Overall Project Plan). Conditioning part A belum sempat diwujudkan visualnya pada periode Tugas Akhir dan saat ini dalam tahap brainstrorming kembali.

Ini masih jauh dari sempurna, segala saran, perbaikan, masukan (mungkin ada yg nyuruh re-take) harap disampaikan yah 😀

Rancangan awal pada tahap Informing (ok, ini super duper masih jauh dari maksimal. Dibutuhkan bantuan ide nih)

Dan untuk tahap Remindingnya so far:

Masih mungkin banget untuk membuka pad alebih banyak varian visual yang lebih baik dan (mungkin) gak hard-selling. 😀

Konsep Media

150 150 Rahma Utami

Konsep media yang dipakai mengacu pada paduan pendekatan media lini atas dan lini bawah dengan pendekatan Point of  Contact atau titik-titik untuk menyapa/kontak dengan target audiens (Djito Kasilo, 2008:66) dengan menelaah Consumer Journey dengan memperhatikan sarana, penempatan dan kegiatatan sehingga membuat strategi komunikasi menjadi efektif dan efisien. Consumer journey digali dari consumer insight sehingga menghasilkan point of contact.

Point of Contact

Point of Contact dari target audiens antara lain:

  1. Saat menyetir mobil ataupun di taksi, terkadang terjebak dalam kemacetan dan keramaian kota sehingga sering menerawang keluar kaca mobil untuk mengalihkan pikiran atau sekedar menyalakan radio atau mp3 di mobil mereka terjebak dalam kemacetan kota.  Radio, interior mobil/taxi, dan hal-hal yang dilihat diluar jendela mobil seperti billboard dapat dijadikan media.
  2. Berkantor di gedung bertingkat, dan masuk ke lift untuk mencapai lantai yang diinginkan. Lift bisa menjad media.
  3. Sesampainya di kantor, diatas meja tersaji secangkir kopi, Koran, dan beberapa dokumen serta memo yang harus diperiksa. Cangkir kopi, Koran, dokumen-dokumen seperti kertas, memo, direct mail serta stasionery bisa menjadi media.
  4. Adakalanya harus berhadapan seharian dengan monitor komputer di depannya, mengecek e-mail dan hal-hal lainnya. Komputer dan internet bisa menjadi media.
  5. Mengadakan pertemuan ataupun sekedar bersantai di resto-resto mahal sekelas sushi-tei. Meja putar sushi bisa menjadi media.
  6. Kebiasaan lebih memilih TV kabel, namun tetap tertarik pada acara sekelas berita, politik, ataupun talkshow moderat seperti Kick Andy. TVC pada slot acara terkait ataupun talkshow bisa menjadi media.
  7. Online 24/7, BlackBerry, iPhone, dan SMart Phone on hand. Pencarian informasi utamanya melalui sarana internet. Kebiasaan internet ini bisa dimanfaatkan baik media maupun buzz. Twitter, facebook, dan microsite. Ditetapkan @tuneinthelight sebagai sumber update informasi dan hastag #blindforwork sebagai perantara buzz antar user di twitter.

Kesemua point of contact di atas mengacu kepada target utama: perusahaan (re: orang yang memiliki kewenangan dan berpengaruh terhadap sistem perekrutan perusahaan). Target sekunder, yaitu masyarakat luas lebih di tekankan pada ambient media pada pusat keramaian seperti mall.

Strategi media

Kampanye dilaksanakan selama 1 tahun dan dimulai pada bulan Mei. Pada bulan mei terdapat momentum budi utomo sebagai awal dan pada tahap informing, event dibuat pada bulan desember sekaligus memeringati hari penyandang cacat internasional.

Tentang Nama: Kenapa Tune In The Light

150 150 Rahma Utami
Konsep Verbal (Positioning, Slogan, Kata Kunci)

“Percaya, kami bisa.”

Elemen verbal yang digunakan menggunakan bahasa yang formal dan sopan menandakan keseriusan dan profesionalitas. Kata yang dipilih simple namun bermakna dalam. Judul kampanye ini adalah tune in the light, dengan tagline “percaya, kami bisa.”

Tune in the light terdiri dari 2 kelompok kata: tune in dan the lightTune in adalah kata yang berarti dengarkan atau nyalakan hal hal yang berkenaan dengan suara. Umumnya kata ini disandingkan dengan radio, musik dan sejenisnya. The light atau cahaya dapat berarti harapan, hidup, lilin, ataupun penuntun jalan. Biasanya, the light dipadankan dengan kata turn on. Namun karena dalam duna netra anggaplah kita menghilangkan konteks cahaya (karena tuna netra pada umumnya tidak mengenal cahaya) melainkan suara. Suara berarti penuntun mereka, harapan mereka. Jadi  kedua kalimat ini dipadukan untuk membuat suatu pendekatan ke arah itu.

Penggunaan bahasa inggris sebagai judul program merujuk pada kemodernan dan keprofesionalitasan (karena pada umumnya profesionalitas mengacu pada nilai-nilai intrinsik dari Barat) serta ke globalan isu yang diangkat (ini bukan hanya masalah bagi Indonesia, tapi seluruh dunia) . Sedangkan tagline tetap dengan bahasa Indonesia karena untuk mendekatkan diri dengan nilai-nilai karakter Indonesia.

Percaya, kami bisa,  merupakan tagline yang akan dibawa pada setiap tahapan kampanye. Kata-kata ini dipilih karena pada umumnya masyarakat tidak mempercayai kemampuan tuna netra terutama kaitannya dengan keahlian yang sifatnya non konvensional. Kata percaya dipilih kembali setelah penggunaan kata “tune in the light” untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai apa yang harus dilakukan.

Untuk hal yang bersifat body copy, disesuaikan dengan what to say yang disesuaikan pada masing-masing visual iklan.

The Creative Brief

150 150 Rahma Utami

Creative Brief (Bates Indonesia)

Segala hal yang tertera di bawah ini masih meruakan pemikiran basic dari saya. Segala perubahan dan penyesuaian terhadap kampanye ini sendiri masih dapat dilakukan terutama untuk pengembangan ide dan implementasinya.

Why are we advertising?

Mengajak target (perusahaan) untuk memberikan kesempatan yang sama bagi tuna netra untuk dapat bekerja sesuai dengan keahlian yang dimiliki dan keahlian ini bukan keahlian yang sifatnya konvensional seperti tukan pijat dan lain lain.

To whom are we talking?

Target market adalah perusahaan perseroan. Perusahaan yang dituju memiliki karakter multinasional ataupun akan bergerak menuju multinasional. Target merupakan perusahaan yang belum pernah mempekerjakan tuna netra sebagai karyawan di perusahaan mereka namun potensial untuk mempekerjakan tuna netra sebagai karyawan pada posisi-posisi tertentu. Perusahaan ini umumnya belum mengetahui keahlian apa saja yang dimiliki oleh tuna netra.
Jika dipersonifikasikan, maka target adalah pemegang keputusan ataupun pemberi pertimbangan dalam suatu perusahaan yaitu HRD dan user (manajer). Secara demografis, target audiens adalah professional dengan usia 25-50 tahun, Ses A dan B , unisex, tinggal di perkotaan.

What insight do we have about them?

Secara psikografis target audiens merupakan orang yang hidup diperkotaan. Membawa mobil sendiri atau cukup sering menggunakan taxi sebagai sarana transportasi. Terkadang terjebak dalam kemacetan dan keramaian kota sehingga sering menerawang keluar kaca mobil untuk mengalihkan pikiran atau sekedar menyalakan radio atau mp3 di mobil mereka. Membaca Koran dan membuka internet setiap hari dengan secangkir kopi terhidang di atas meja kerjanya. Terkadang, mereka harus berhadapan seharian dengan monitor komputer di depannya. Berkantor di gedung bertingkat, yang memungkinkan penggunaan lift tiap hari. Orang-orang ini adalah orang yang berhadapan dengan berbagai dokumen tiap hari, baik di atas meja, maupun dalam dunia maya. Mengadakan pertemuan ataupun sekedar bersantai di resto-resto mahal sekelas sushi-tei.Tidak menyukai sinetron, lebih memilih TV kabel, namun tetap tertarik pada acara sekelas berita, politik, ataupun talkshow moderat seperti kick andy. Berpikiran terbuka dan professional keprofesionalan dalam bekerja, menginginkan segala sesuatu berjalan efisien dan efektif. Berhati-hati dalam membuat keputusan. Dalam recruitment mereka berprinsip “put the right man in the right place” dan mempertahankan objektivitas dari berbagai segi.

What do we want them to think/do?

Tuna netra memiliki kemampuan yang sama dengan tenaga kerja pada umumnya dan menerima mereka sebagai pegawai tanpa merendahkan kemampuan mereka dengan mempekerjakannya sesuai dengan kapasitas mereka.
Merekrut tuna netra sebagai pegawai di perusahaan sesuai dengan kapasitas masing-masing.

What is our preposition?

Tune in the light, percaya,kami bisa!
Apakah Anda dengar perbedaannya? Jelajahi kemampuan tuna netra, sadari mereka sama.
Jangan padamkan kesempatan mereka untuk bekerja. Akui kemampuan tuna netra, berikan kesempatan yang sama.
Kami percaya, Anda?

What is the support for this preposition?

Ketika melihat mereka bekerja dan hasil kerja mereka secara langsung maka umumnya keraguan akan kemampuan mereka akan hilang.
Tuna netra terbiasa dengan system bekerja yang efisien dan efektif karena terbiasa untuk tidak memulai kesalahan.
Perusahaan memiliki tanggung jawab yaitu Corporate Social Responsibility (CSR). CSR dapat diarahkan kepada ke daerah human resources dengan cara perekrutan tenaga kerja.
Setiap kesempatan kecil yang diberikan kepada tuna netra kan dimanfaatkan sebaik baiknya karena minimnya peluang yang mereka miliki untuk mendapatkan peluang ini kembali.
Masyarakat akan selalu memandang positif terhadap kegiatan yang melibatkan penyadang cacat yang berarti menngkatnya nama baik perusahaan.
Bukti dari perusahaan yang telah mempekerjakan tuna netra seluruhnya memberikan sentimen positif atas kinerja mereka.

What are the mandatories?

a. Logo sponsor: Pertuni, disnakertrans, yayasan mitra netra, psbn wyata guna, logo event
b. Nama program: trust
c. Tagline : Percaya kami bisa.

What is the tone and manner?

Korporat, professional, bersih, optimis, dekat

Creative requirements ? (Media)

1. Media lini atas seperti billboard, tvc, radio, dan Koran nasional
2. Media lini bawah: direct mail
3. Ambient media sebagai pendukung di lingkungan yang terkait dengan target audiens.
4. Viral media: word of mouth untuk menyebarkan informasi ini

KONSEP KOMUNIKASI

150 150 Rahma Utami

Komunikasi yang direncanakan mengacu pada strategi komunikasi yang berbasis Target Audiens dengan menggali consumer insight seperti yang dipaparkan oleh Djito Kasilo dalam Komunikasi Cinta(2008: 76).

Karena target audiens yang dituju adalah perusahaan berbentuk perseroan yang memiliki kredibilitas dan mapan dengan karakter professional maka pendekatan komunikasi lebih diarahkan pada personifikasi 2 karakter yang memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan dalam hal perekrutan tenaga kerja,  yaitu HRD dan pimpinan.

Dalam proses perekrutan tenaga kerja, tentunya perusahaan akan melihat sisi positif atau keunggulan dari calon karyawan. Hal ini diterapkan pada kampanye ini dengan mendeskripsikan hal-hal positif yang berkaitan dengan keahlian tuna netra.

Pendekatan yang digunakan adalah pada setiap jalan prosesnya, semua tetap dilakukan sesuai prosedur penerimaan pegawai pada umumnya, hanya saja yang membedakan adalah penempatannya. Penempatan ini disesuaikan dengan kualifikasi tuna netra. Diberikan pemaparan informasi mengenai alternatif keahlian para tuna netra serta pandangan tuna netra sebagai asset perusahaan dalam tiap kampanyenya. Pendekatan tetap dilakukan seprofesional mungkin karena inti pesannya bukanlah menyampaikan keibaan, namun pemerataan kesempatan dan pengakuan atas kemampuan tenaga kerja tuna netra. Nantinya target audiens diharapkan dapat menilai tuna netra dengan objektif tanpa dipengaruhi paradigma awal yang mendiskriminasikan tuna netra.

Selain itu, dengan cara ini, meskipun ada fasilitas yang memang perlu ditambahkan untuk mengefektifkan kerja dari tuna netra, hal ini tidak akan adipandang sebagai “tidak efisien” melainkan memang tanggung jawab social perusahaan untuk memberikan fasilitas kerja bagi karyawannya sehingga dana yang keluar tidak akan menjad masalah karena merupakan transformasi bentuk dari CSR, misalnya. Alasan ini dapat menjadi modal awal sehingga perusahaan semakin memandang dukungan fasilitas ini memang worth it sebagai asset.

Overall Project Plan

150 150 suarise

Ini masih berupa prototype yang dikembangkan pada saat TA. Tidak tertutup kemungkinan diadakan pengembangan dalam campaign ini.

Intinya, meski kampanye ini terbagi dalam 3 tahap (Conditioning, Informing,dan Remiding). kampanye nya sendiri akan diutamakan pada 2 tahap:

1. Conditioning

Mempersiapkan audience untuk memahami bahwa kemampuan dari Tuna Netra tidak hanya jadi tukang pijat (mempersiapkan audience utnuk menerima segala fakta akan dibeberkan pula pada tahap ini. Meski pada tahap tugas akhir kampanye pada tahap CONDITIONING cenderung hard selling, rencananya nanti pada tahap conitioning ini sendiri akan dibagi jadi 2 sub:

a. Experiencing how the blind “see” the world

b. Tell audience what can they do

Meski poin kedua mungkin lebih terlihat sebagai informing, saya menegaskan ini pada tahap condotioning sih. Soalnya tahap informingnya adalah lebih pad aajakan meng-hire.

2. Informing

Pada tahap ini kamapnye akan lebih bersifat direct marketing, langsung kepada audience yang dituju (which is perusahaan). Tahapan ini lebih ke arah ajakan untuk meng-hire para tuna netra sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki.

Sejalan dengan kampanye visual ataupun event yang sifatnya online dan offline, secara paralel juga dikembangkan situs semacam JobsDB untuk kalangan Tuna Netra yang kurang lebih berisi cv dan portfolio mereka demi kemudahan akses interaksi real time bagi pihak pihak yang terkait. rencana ini kebetulan telah terpikirkan juga oleh PERTUNI (Persatuan Tuna Netra Indonesia) dan saat in imasih dalam tahap pengembangan. Saat in iyang bertanggung jawab mengenai hal ii adalah Bp. Dedi Mulia dari PERTUNI.

Segala saran dan masukan selalu dinanti. Apalagi kalau ada yang bisa bantu volunteer dan sponsorship. 😀

Jika ingin melihat plannya, bisa dilihat di slidenya TA-Rahma Utami 17505001-Slide

Seeing is believing

150 150 suarise

Gak percaya akan kemampuan mereka?

Tengok deh video singkat ini

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=DCYSK4tYxZU]

masih belom percaya mereka mampu?